Monday, February 4, 2019

UJI ADRENALIN? SKY CAVE GUNUNG PARANG VIA FERRATA JAWABANNYA!!


Haiiiii haiiiiii haloooo netizen blog tercinta…

Ada yang baru di awal tahun 2019 ini lhoo! Apa tuh? Itu tuh akhirnya si empunya bolg ini mau nyoret-nyoret lagi di sini..
“Duh ileh abis kemana aja jeung? Sibuk banget? Masih inget punya kita?”
“Iya, mohon maaf ya netizen, setahunan kemaren si empunya waktu lagi liburan. Jadi belom sempet nulis lagi”
“Maksudnya?”
"Iya, lagi libur jalan-jalan, makanya nggak ada tema buat ditulis. Sekarang uda selesai liburannya. Makanya uda bisa jalan-jalan. Hehehe”
“!@#$%^&*()(*&^%$#........”

Ok guysss, terakhir aku nulis di akhir Desember 2017 soal pendakianku ke Gunung Lembu di Purwakarta. Ternyata eh ternyata, di awal 2019 ini tanpa sadar aku kembali ke Purwakarta, bukan Gunung Lembu tapi ke Gunung Parang. Mohon maaf saya mah gitu orangnya, gak suka berlebihan jadi satu kali aja sudah cukup buat kunjungin satu lokasi. ^,^

Ada apa sih di Gunung Parang? Ada yang unik di gunung ini. Pendakiannya berbeda dengan pendakian gunung lainnya pada umumnya. Pendakian ke Gunung Parang lebih dikenal dengan sebutan sky cave via ferrata atau panjat tebing, dimana kalian akan manjat tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat lurus ke atas. Kok bisa manjat begitu? Bisa! Bisa banget! Karena ada tangga besi yang ditanam di dinding tebing gunung tersebut dan pendaki akan menaiki tangga tersebut satu persatu. Tak lupa, pendaki juga akan dipasangkan safety equipment di badan dimana ada alat yang mesti kita kaitkan ke tali sling baja yang ada disebelah tangga besi.
Pemasangan safety equipment via ferrata Gunung Parang (in frame: Nona Nanda)
Safety equipment untuk panjat tebing Gunung Parang
Fyi, dikutip dari Blog Traveloka, Gunung Parang merupakan spot panjat tebing tertinggi di Indonesia sekaligus lokasi wisata panjat tebing tertinggi kedua di Asia yang memiliki daya tarik tersendiri yang membuat banyak pendaki mapun pemanjat tebing penasaran untuk menaklukkannya. Masih dari sumber yang sama, infonya gunung ini menjadi magnet baru bagi pemanjat tebing lokal maupun mancanegara, lho! Keren kaaan?!
Tangga besi tertancap di dinding tebing Gunung Parang
Kegiatan panjat tebing ini memakan waktu kurang lebih 30 menit kalau hanya sampai dengan ketinggian 150 meter. Dan tambah 30 menit lagi kalau sampai dengan ketinggian 300 meter. Sementara Gunung Parang sendiri puncaknya sampai dengan ketinggian 981 mdpl. So guys, kalau kalian mau sampai dengan puncaknya, sok monggo tapi nanjak tangga yah! :P

Di ketinggian 150 meter akan ada coakan tebing membentuk goa kecil di sebelah kanan jalur penanjakan. Jika nyali kalian cuma sebatas itu aja, ya silahkan berbahagia duduk cantik di dalam goa kecil itu kayak anak burung nunggu induknya yang lagi nyari makan karena penderitaan kalian selesai sudah. Yang masih punya nyali ke 300 meter ambil jalur kiri penanjakan, tentunya setelah menikmati segelas-dua gelas plastik es teh super manis bin endesss bonus dari abang guide di dalam goa kecil.
View sky cave via ferrata Gunung Parang, Purwakarta
“Eh ada abang guide nya yah? Kok dari tadi gak ceritain pergi sama siapa? Kirain sendiri aja….”
“Yaelah 2019 masih aja sendiri? Susah move on atau terjebak nostalgia?”

Jadi gini gaesss, via ferrata di Gunung Parang ditangani oleh dua operator, yaitu Badega Gunung Parang dan Skywalker. Apa beda keduanya? Aku juga nggak tau ya guys. Wkwkwk. Yang jelas, via ferrata milik Badega Gunung Parang sampai dengan 700 meter, sementara Skywalker sampai dengan 300 meter.

Setelah memasukkan kata kunci #gunungparang di Instagram, puluhan ribu postingan terkait gunung parang bermunculan. Setelah lama mengklik-klik bio sana-sini berakhirlah aku di bio nya @just.dotravel. Just.dotravel adalah salah satu penyedia jasa open trip sky cave Gunung Parang yang bekerja sama dengan operator Skywalker.

Jadi berangkatlah aku ke Gunung Parang via ferrata bersama Just.dotravel di hari Sabtu, 2 Feb 2019 kemarin. Dengan seorang team leader - Mas Fadlan dan local guide - Mas Ajo, aku bersama 10 orang lainnya menguji adrenalin kami di Parang. Berawal sendirian, aku jadi punya teman-teman baru lagi. Pertama kali, aku berkenalan dengan Meli yang menolak dipanggil Mba dan Nanda yang seumuran dengan aku. Kami bertiga punya kesamaan, sama-sama sendirian iseng-iseng mencoba ikut open trip via ferrata Gunung Parang :D. Lalu ada Azizah bersama 5 teman komunitas pencinta alam dari Hotel Shangri-La. Dan terakhir ada sepasang kekasih (atau pasutri?!) yang sedang di mabuk asmara (Sorry nggak tahu namanya). Hehehe ^,^
Para penguji adrenalin via ferrata Gunung Parang
Then, how’s the feel? Gokil abiiisss!!! Kaki lemes, dengkul gemeter, paha keram, tangan sakit dan yang paling parah nyali rasanya sudah habis. Gimana nggak, naik gunung sama panjat tebing itu beda. Sudah biasa naik gunung, pasti nggak takutlah yah sama panjat tebing. Salah! Statement itu salah banget guys! Atau salah aja? Ok, yang jelas menurutku salah. Meskipun sudah setahun vakum naik gunung, tapi berdasarkan opini dari teman-teman Shangri-La, mereka seiya sekata dengan aku bahwa panjat tebing dan naik gunung lebih mengerikan panjat tebing. Karena hanya satu yang paling penting, yaitu nyali yang sangat sangat sangat besar untuk bisa bertahan dan maju terus ke atas.
Beristirahat di Goa Gunung Parang
Di musim penghujan seperti sekarang ini, alhamdulillah nya waktu kami panjat tebing cuaca sangat-sangat mendukung. Siang itu, cerah bin panas tapi angin sepoi-sepoi tetap ada untuk sesekali meniupkan semangat empat lima untuk maju terus pantang mundur meski dengkul nggak berhenti gemetar.
View landscape Purwakarta juga tak pernah habis membuat kami terus berdecak kagum. Gunung Lembu di sebelah kiri, dikelilingi waduk Jatiluhur, hamparan persawahan yang hijau, serta pemukiman rumah warga menjadi view yang luar biasa, membayar lunas jerih payah kami.


Landscape view Waduk Jatiluhur dan pemukiman warga Purwakarta
(In frame: Meli, Nanda, Diana)

(In frame: Nanda, Azizah, Diana, Meli)

Ketika sosialita naik gunung, inilah yang terjadi "no pict = hoax"

Oiya, saat turun dari ketinggian 150 meter, ada bonus lho! Turunnya pakai tali aja, posisi badan seperti tiduran tapi sebetulnya tergantung di tali, lalu loncat–loncat aja di dinding tebing, atau jalan juga bisa. Seru gilaaaa!!!
Ini bonus turunnya loncat-loncat aja sambil tiduran eh ngegantung di tali ding :D

Bonus via ferrata Gunung Parang (tampak samping)
Well, begitulah sekiranya pengalaman aku memanjat tebing tertinggi di Indonesia. Setelah dua tahun lebih mengidam-idamkan bisa kesini, akhirnya hilang sudah penasaranku tersisa pegal-pegal di sekujur tubuh sepulang dari Parang :D
Ini Mas Fadlan (kiri) dan Mas Ajo (kanan)

(In frame: Nanda, Diana, Meli)
Tim KOMPAS dari Hotel Shangri-La

Ini Si-Pasangan :D
Basecamp Just.dotravel

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^


Sunday, December 31, 2017

PERJUANGAN DIBALIK PESONA GUNUNG LEMBU


Adakah yang orang Purwakarta? Atau pernah kesana untuk urusan pekerjaan?? Hmmm, atau sekedar backpacker untuk memenuhi hasrat traveling nya?? Yes, yang terakhir itu cerita aku.. Iyalah kalau urusan kerjaan sih pastinya tulisan ini gak akan pernah release, yes?? :)

Ok, ada apa sih di Purwakarta? Jujur, aku gak tahu juga ya disana ada apa, hanya berbekal rasa bosan akan kesepian karena rutinitas kerja yang kepadatan, tercetuslah ide ikutan share cost traveling ke Purwakarta dengan tujuan utamanya ke Gunung Lembu yang diadakan oleh JJS Squad (Jalan-Jalan Santai) pada Oktober 2016 lalu. Wow, sudah lebih dari setahun yang lalu bro!! Jadi, yeayyy ceritanya akan ku ringkas dan simple aja langsung ke point-point penderitaan dibalik 780 mdpl nya Gunung Lembu.

Eh, kok menderita ya mendaki ke Gunung Lembu? Yesss, it’s totally right!!! But it was so funny and I enjoy the moment of “duh dada gw sesek banget ni!”, “tanjakannya gini banget sik?”, “ah gilak gw capek banget!”, “sumpah gw gak mau kesini lagi”, atau “ini gimana sik pegang talinya, gw ngeri jatoh!”, and many more yang aku cuma bisa senyum-senyum aja sekarang mengingatnya kembali.

Perjalanan menuju Gunung Lembu ditempuh melalui kereta api dari Jakarta Kota ke Purwakarta. Di sana Ketua JJS Squad sudah mengurus urusan persewaan mobil yang mengantarkan kami menuju pos pendaftaran Gunung Lembu. Btw, kok bisa disebut Gunung Lembu sih? Jadi, jika dilihat dari arah timur, bentuk kontur gunung di Purwakarta ini seperti lembu sedang mendekam. Hal ini juga dipertegas pada papan informasi di pos pendaftaran. Garis-garis peta gunung dipertebal dan terbentuklah wujud lembu.

Like I told you before, Gunung Lembu ‘cuma’ punya ketinggian 780 mdpl saja kok guys. Rendah gak sih guys itu? Gak ada apa-apanya kan dengan deretan gunung yang sudah ku jajaki? Apalagi extra wow nya Gunung Butak dan Gunung Ceremai atau Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa? But, again guys, you can’t judge something by its cover because every single thing always has its own privileges to be admired, like me for example #eheh :P

Ok back to Gunung Lembu guys, serius deh Gunung Lembu benar-benar menipu dengan 780 mdpl nya. Karena selepas pos pendaftaran medan pendakian langsung dihajar dengan tanjakan tajam. Derajat kemiringan tanjakan awal ini 45 sampai dengan 50-an derajat. Beberapa titik ada pegangan dari batang bambu kecil. Alhasil ya kami semua bermandikan keringat dengan napas ngos-ngosan.

Eh wait, kami? Siapa aja sih kami? Yang pasti ada Bang Egi selaku ketua geng JJS, lalu ada Bang Ocid, Tepe, Mba Tiwi, Viktor, Novi, Iwan dan pacarnya alias si Ridwan, Andi Daeng, Mba Chipi, Mba Ruri, si fotografer handal nan syur alias Bang Bair, daaaann… ok maap guys sisanya aku lupa nama-namanya, cek foto diibawah ini aja deh kalau mau lihat personil lengkapnya :D:D dan boleh kasih tahu ya kalau ada yang kalian ingat dan aku akan revisi (duh kayak skripsi aja ada revisi 1, 2, 3 nya). Wkwkwk.
Formasi lengkap personil open trip Gunung Lembu via share cost JJS Squad)
Ku ingatkan kembali ya karena pendakian Gunung Lembu membutuhkan extra tenaga maka pastikan kondisi kalian benar-benar fit. Treknya yang terjal akan benar-benar menguras tenaga. Teknik pengaturan pernapasan kalian juga sangat diperlukan demi bisa menyelaraskan dengan tenaga yang dikeluarkan, kalau tidak duh sumpah sesak napas deh. Juga, treknya yang didominasi dengan tanah merah, sebaiknya menghindari mendaki saat hujan yaa karena sudah pasti licin banget itu tanah kalau dipijak, yakin tergelincir kalau tidak hati-hati.

Oh iya, ada makam keramat lho di puncak pertama Gunung Lembu, tapi sorry gak ada dokumentasi untuk ini, karena aku juga ngeri yaa kalau mau dekat-dekat. Tapi tenang, itu gak sengeri kalau di php-in mantan gebetan kok guys. *kyaaaaa
Pendakian Gunung Lembu
Layaknya pendakian di gunung-gunung lainnya, Gunung Lembu juga memiliki trek mulai jalur datar sampai dengan jalan setapak yang menantang dan akan menyita fokus kamu dari gebetan perhatian karena di sisi kanan-kirinya terdapat jurang. Tapi bukannya itu tantangan dan keseruannya melakukan pendakian kan?? ^.^
Duh love banget ya hammock'an view alam lepas begini ^n^
Tapi guys, yang namanya perjuangan berat selalu dibayar dengan hadiah yang jauh lebih hebat bahkan jauh diatas ekspetasi manusia. Itulah Tuhan, mau lihat perjuangan manusianya dulu, kalau bisa melalui cobaan-Nya, dan diberikanlah hadiah atas itu. Duh, tetiba bahasa formal begini. Wkwkwkwk. Yang jelas, pemandangan yang disuguhkan dari puncak Gunung Lembu sangat mempesona. Selain bisa menikmati sunrise atau sunset dari sini, luasnya hamparan Waduk Jatiluhur serta Gunung Parang dan Gunung Bongkok yang duduk bersebelahan dapat kami lihat dengan puas sambil berdecak kagum.
View Waduk Jatiluhur from Puncak Gunung Lembu 780 mdpl
Pemandangan spektakuler tersebut bisa kamu nikmati diatas tebing yang dinamakan batu Lembu di mana tebing ini menjorok keluar dan berbentuk menyerupai punuk lembu. Menyaksikan pemandangan itu semua benar-benar memberikan sensasi petualangan tersendiri yang pastinya gak akan bisa kamu lupakan guys. ^.^
Nah gaya asik begini lengkap banget dengan view nya Waduk Jatiluhur
Persiapan turun dari Gunung Lembu

Batu Lembu seperti Punuk Lembu
Pendaki zaman millenial yang penting tetap jaga kebersihan selama mendaki ya guys :)
Anyway, tulisan ini menjadi tulisan penutupku di penghujung tahun 2017 ini lho guys. Sedikit pesan untuk aku juga teman-teman tercinta, bahwa masa lalu adalah sejarah yang pernah kita buat, hari ini adalah goresan terbaru yang segera membekas seperti sejarah, dan hari esok adalah hari yang bisa kita letakkan harapan dan asa baru. Then, happy new year 2018 as the memories go away to welcome a new hope, good people!! :D:D

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Sunday, December 17, 2017

MENGGAPAI GUNUNG MERBABU VIA SUWANTING YANG TAK TERLUPAKAN

View Merapi dari Pos 3 Gunung Merbabu, via Suwanting Magelang (In frame: Bang Dany)
Merbabu. Hmm... mengingatnya, membuat pikiranku melayang kembali ke masa lalu. Ehemm, gak selamanya nengok ke belakang itu menyakitkan kok guys :D. Soalnya itu bisa dijadikan tolak ukur untuk kita belajar di masa depan, minimal supaya gak terulang lagi terjebak ke manisnya senyuman dia eh ternyata dia senyumin yang lain juga, mirip-mirip jebakan tikus, tikus bodoh ya mati terjepit perangkap manusia, maka dari itu mending wolesss ajalah kalau di senyumin dia dari pada baper doang nantinya yah :P #ehjadingelanturkejauhan wkwkwk.

Ok back to Gunung Merbabu, jadi tepat 1 tahun yang lalu aku berhasil menginjakkan kaki di puncaknya yang gagah dengan ketinggian 3.142 mdpl tapi kalau kata Mbah Google 3.145 mdpl lho guys. Sebagai salah satu deretan gunung tertinggi di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Gunung Merbabu tak bisa diremehkan sama sekali. Why? I will tell you soon :)

Secara geografis, Gunung Merbabu terletak diantara Kabupaten Semarang, Magelang, Salatiga dan Boyolali dengan jalur pendakian yang dapat ditempuh melalui 4 jalur yaitu, jalur Selo, Kopeng, Wekas, dan yang baru dibuka kembali pada Maret 2015 lalu (pernah dibuka di tahun 1990-1998) adalah Suwanting.

Pendakian Gunung Merbabu ku tempuh via jalur Suwanting yang sangat membekas di hati sampai dengan tulisan ini dibuat dan ku rasa akan selamanya ku ingat kayak sentuhan tangan dia *kyaaaaa..

Bagaimana tidak mau terlupakan, karena jalur Suwanting memberikan pengalaman mendaki gunung mulai dari santai, sedikit menanjak, ekstrim, ditambah bumbu-bumbu mistis tapi kemudian memberikan hasil yang tidak bisa dipungkiri buat diri puas luar biasa sampai ingin rasanya jejingkrakan kalau saja tidak malu sama pendaki lain *jaim dikitlah namanya juga masih jomblo #nahlho hahaha.
Tim Pendakian Gunung Merbabu
Bersama dengan 26 orang teman trip dari Tapak Adventure, mereka menjadi teman 2 hari 1 malam ku yang sama-sama punya harapan tinggi terhadap Gunung Merbabu agar bisa bersahabat dengan kami mengingat bulan Desember merupakan bulan-bulan high risk terhadap cuaca hujan untuk melakukan traveling.

Basecamp Suwanting menuju Pos 1: Lembah Lempong

Setelah short briefing dari TL Tapak, pendakian kami dimulai malam hari sekitar jam 7, karena ada kendala bus yang mogok-mogok di perjalanan, sudahlah ini gak usah di ceritain ya guys, sedih soalnya kalau di ceritain T_T/

Btw, untuk TL Gunung Merbabu dari Tapak ini ada Bang Dany, Bang Ocid, Bang Hamja yang setelahnya gw panggil nama sajalah karena dia muka saja boros, umur mah masih sebiji jagung wkwkwkwk, dan ada dik Teguh alias Tepe yang setia jagain aku selama di pendakian meski sempet ngilang sebentaran bikin gw mau mewek >,<.

Awal pendakian, track masih santai karena tanahnya yang masih landai dengan pemandangan ladang perkebunan berbalut nuansa pegunungan alami menyelimuti badan. Bermodalkan jaket tebal, jas hujan dan cahaya headlamp redup-redup (ini ngeselin banget X.X), aku melangkahkan kaki dengan hati-hati di tanah basah dan sedikit pakai perasaan supaya gak salah melangkah yang berakibat tergelincir ke hatinya yang palsu.

Pos 1 menuju Pos 2: Pos Bendera

Pendakian menuju Pos 2 diawali dengan terlihatnya barisan pepohonan pinus menawan yang ramping-ramping menjulang tinggi ke atas (iyalah tinggi itu ke atas, kalo ke samping namanya gendut itu aku hiks >,<)

Meskipun menyusuri hutan pinus (Hutan Manding), namun track nya sudah mulai meningkat lebih menanjak dibanding sebelumnya. Perjalanan juga melewati Lembah Cemoro, Lembah Singo dan Lembah Mitoh. Yang perlu diperhatikan lagi ketika melakukan pendakian di malam hari adalah banyak akar-akar pepohonan pinus tersebut yang mencuat keluar dari tanah. Tak jarang aku tersandung akar-akarnya. So guys, be careful and keep your eyes ahead.
Sabana 2 menuju Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Sesampainya di pos 2, ada beberapa pendaki yang sudah mendirikan tenda di sana, namun kami tetap melanjutkan perjalanan karena rencana nge-camp kami di pos 3. Tujuannya agar pada saat summit attack pendakiannya sudah lebih dekat.

Pos 2 menuju Pos 3: Dampo Awang

Pendakian menuju pos 3 menjadi semakin terasa banget mendakinya, luar biasa melelahkan (kalau gak mau lelah ke mall saja ya hahaha). Tanjakan curam, jalur zig-zag dan adanya tali tambang yang sudah tersedia di sana sebagai alat bantuan mewarnai suka duka pendakian ini yang kemudian membawa kami pada rimbunnya hutan dengan rumput-rumput yang tumbuh yang tinggi-tinggi.

Kami melewati 3 titik lokasi yakni Lembah Singo, Lembah Manding dan pos Bendera yang merupakan pos bayangan masa lalu, kemudian sampailah di pos 3 yang cukup lapang tempatnya sehingga kami dapat mendirikan tenda. Tanya jam berapa kami sampai? Jam setengah 3 pagi, guysss.. Woow!! Perjalanan super panjang ini baru sampe pos 3 lho, wkwkwk.
Makanan super mewah ini ada berkat koki handal TL Tapak a.k.a. Bang Ocid :) 
Di pos 3 ini terdapat sumber air yang airnya bisa digunakan untuk memasak, ya kalau kepepet persediaan air minum habis, monggo di minum saja :P

Wow nya lagi, di pos 3 ini terdapat spot foto asik nan keren berlatar Gunung Merapi yang gagah menantang di hadapan Gunung Merbabu, lhooo :D
View Gunung Merapi dari pos 3 Gunung Merbabu
Pos 3 menuju Puncak Gunung Merbabu: Suwanting dan Triangulasi

Kami memulai summit sekitar jam 8 pagi karena memang kondisi badan yang masih terlalu lelah jika harus mengejar sunrise akibat pendakian malam sebelumnya yang memakan waktu 7 jam lebih. Pendakian menuju Puncak Suwanting menjadi lebih hidup karena ya dilakukan pada saat terang dan bisa puas lihat pemandangan gunung kanan-kirinya. Setelah melewati 2 bukit sabana yang naik turun disertai pemandangan hamparan rumputan hijau, sampailah kami di puncak Suwanting.
Salah satu track sabana menuju Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Setelah berfoto-foto cantik ala-ala selebgram, ku lanjutkan summit ke puncak Triangulasi dengan kembali melewati bukit sabana. Jangan heran ya, Gunung Merbabu memang terkenal memiliki 3 bukit sabana yang cantik kayak di film-film fiksi gitu deh.
Cantik banget ya?? iya.. bukit-bukit sabananya kan? Hmmm..
Puncak Suwanting, Gunung Merbabu
Then, welcome to the highest peak of Merbabu on 3.142 mdpl guys... Angin Gunung Merbabu dengan kencang dan sembarang berhembusan ke seluruh badan seakan heboh sendiri menyambut para pendaki yang sudah berhasil menyelesaikan misi dengan selamat. Senang rasanya pernah memiliki cerita dengan Gunung Merbabu yang penuh mistis (bagian ini bisa japri aja lah kalau mau tahu jelasnya sambil ngomongin masa depan kita *kyaaa :P) namun juga mampu menyuguhkan pemandangan luar biasa yang tak mungkin terlupakan.
Awan gemeess di Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu 3.142 mdpl
Gaya loncat hak paten by Tepe :P

Cuma disini guys, kalian bisa masak di alam bebas view Gunung Sindoro ^^ (in frame: Azwar & Reza)
Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Sunday, October 29, 2017

PENGALAMAN MENDAKI SEMERU, PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA

Touch down Puncak Mahameru at May 09, 2017
Semeru… untuk mendaki kesana gak pernah terbayang apalagi sekedar sekilas memikirkannya. Gak pernah sedikit pun! Meskipun sudah menonton booming nya film 5 cm yang dibintangi aa’ Fedi Nuril ^3^ lima tahun silam tentang pendakian ke Mahameru, gak sama sekali di benak mau ikut-ikutan pendaki-pendaki sosialita yang terpengaruh film itu. Gue gitu sik orangnya, nunggu kelar dulu trendnya baru deh kesana #ehgagitukok wkwkwkwk.


Well, itulah aku sebelum sekarang. Sebelum jadi orang yang rela ngabisin cutinya bahkan pernah unpaid leave kerja demi menyentuh alam luas Indonesia lebih dekat lagi. Waktu masih menjadi orang yang sangat kaku, jauh dari kata lentur, membosankan. Time flies too fast for me. Karena satu moment yang gak banget, I’m turning into the new me. Simplenya, menjadi orang yang gila jalan-jalan hampir di setiap weekend demi mencari yang namanya jodoh jati diri. Menjadi orang yang seneng ketika bisa ketemu orang baru setiap saat dan melebur bersama karakter orang itu. Mirip-mirip bunglon gak sik gw? Hahaha


Noooo.. I mean I become a more flexible person just to be closer with society. *tepuk-tepuk dada kiri pakai tangan kanan, sunggingkan senyum bangga* Apasiiiiiih… just kidding.. mana ada kan orang baik bilang dirinya baik… :P jadi tadi itu cuma demi naikin image aja kok *oke jadi kalian tau kan aku gimana orangnya?? Hahaha*

Okok cukup yaaa ngalor ngidulnya… back to Semeru…

4 hari 3 malam jadi cerita yang yang takkan bisa aku lupakan yang layak diceritakan ke calon anak nantinya, “Ini lho sayaang, mamamu dulu pernah ke puncak tertinggi di Jawa semasa masih mudanya” aseeeek :P

Pendakian terpanjangku ini dilalui bersama-sama teman baru. Semua teman baru. Harusnya ada teman lama alias teman kantor dimana aku ikut pendakian ini karena minta-minta sama ini temen supaya boleh nyelip. Tapi, ngeselinnya dia batalin pendakian di hari H!!!!!! Gilaak yaaa being an auditor makes you become a person who is too loyal to the company! Sedih T.T *cukup marah-marahnya, jangan lupa kudu jaim di sini*

Jadilah formasi pendakian hanya bertujuh karena si Erwin itu lebih bela kerjaannya. Iya Erwin yang gilak kerja! Huft! Ada perasaan takut gak bisa berbaur lho sama teman-temannya dia. Bagusnya waktu meeting seminggu sebelum pendakian, aku ikut lho jadi sudah kenalan terlebih dahulu. Yaaa jadi gak kikuk-kikuk banget kan kalau semisalnya belom sama sekali ketemu. Jadi cerita lucu sih, aku diajakin Erwin buat ke Semeru bareng temen-temen dia, tapi yang berangkat hanya orang yang diajakinnya. Yang ngajakin jadinya belom pernah ke Semeru deh :P
In Frame (kiri ke kanan): Heri, Trian, Akhamat, Suryo, Diana, Ade, Roni
Bersama satu cewek lagi, Ade namanya, kebetulan dia ex auditor juga di kantorku, sebelumnya kenal cuma by say hallo aja tapi itu sangat membantu, at least ada orang yang aku kenal selain Erwin.. Lima orang sisanya ada Trian, Heri, Roni, Suryo, dan Akhamat (later on we call him as “Sista” gegara kekonyolan ini anak :D). Bersama mereka-lah aku menaruh harapan 5 cm di depan kening kita. *kata aa’ Fedi Nuril di film 5 cm ^3^

Dengan duduk tegak di kereta ekonomis Matarmaja khasnya para pendaki yang mau ke Semeru dari Stasiun Senen, perjalanan menuju kota Malang nun-jauh dari Jakarta kami tempuh selama 17 jam. Mulai dari ngobrol, tidur, makan, main kartu uno, makan lagi, tidur lagi, ngobrol lagi, uno lagi.

Sampailah kami di kota Malang di hari Minggu jam 7.50 pagi dengan diiringi teriakan “akhirnyaaa…” dan bunyi krek-krek-krek di pinggang dan punggungku yang ngulet-ngulet karena saking pegelnya duduk 17 jam dikursi tegaknya Matarmaja.

Di luar stasiun, kami melakukan tawar menawar dengan pemilik mikrolet untuk menuju ke rumah Bang Saiful di daerah Gubugklakah. Kami meninggalkan barang-barang yang tidak perlu dibawa ke Semeru di rumahnya. Sesampainya di sana, kami langsung mengulang packing carrier masing-masing dan membeli beberapa logistik yang masih kurang.

Dari Gubugklakah, kami naik mobil jeep warna merah yang disewa sekitar Rp. 1 juta sekian untuk PP Gubugklakah – Ranu Pane. Dari pos pendaftaran Ranu Pane, kami memulai pendakian jam 4.30 sore setelah sebelumnya mengikuti antrian panjang di loket pendaftaran dan mengikuti pengarahan selama sekitar 10 menit dari tim SAR Semeru.
Gapura Selamat Datang di Ranu Pane

Makanan mewah di gunung, ada sarden, mie telor dan juga rendang sponsor ibu camer #eh ibunya temen :P
Perjalanan dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo melewati 4 pos yang treknya gak gitu menanjak tapi cukup membuat ngos-ngos’an. Treknya termasuk melipir bukit, melewati 2 jembatan, beberapa trek datar sebagai bonus, dan tanjakan cinta versi mini yang akan kamu temui dijalur pos 3 menuju pos 4. 

Malam pertama kami membuka tenda di Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.400 mdpl, sesaat setelah melakukan perjalanan selama 5 jam lebih. Tidak seperti yang di film 5 cm yang bisa berenang di danau Rakum, bahkan sesenti saja kaki menyentuh air danau, kalau ketahuan oleh penjaga di sana, siap-siap saja kamu disuruh bersihin WC umum di Rakum yang wanginya tiada duanya di dunia dan surat larangan masuk kawasan pendakian Semeru selama setahun ke depan! Tujuannya air danau gak boleh kesentuh kulit manusia ya untuk menjaga kesterilan air danau yang menjadi salah satu dari dua sumber air utama selama pendakian di Semeru. Kamu bakal pakai air danau untuk masak, minum, dan ke WC, bro!!! Jadi yaa gilak aja gw disuruh minum air danau yang sudah lu cemplungin sebadan! Jadi terima kasih pada aa’ Fedi Nuril yang ternyata kamu sama saja dengan laki-laki lain yang suka memberi harapan palsu #eeewww
Pemandangan Ranu Kumbolo diambil dari Tanjakan Cinta
Udara di Ranu Kumbolo cukup dingin malam itu di bulan Mei. Aku dan Ade jadi juru masak, sementara yang cowok-cowok mendirikan tenda. Well, aku yang sebelumnya naik gunung dengan open trip, maka ini jadi pendakian pertama aku dimana aku masak di gunung dengan peralatan apa adanya. Tanpa ada sekat penghalang debu, kami memasak makanan berbaur dengan alam, bercampur bau tanah sehabis hujan, diatas rumput-rumput Rakum yang bergoyang-goyang kegelian ditiup-tiup angin malam pegunungan, dan beratap langit yang memamerkan keindahan lukisan Tuhan yang penuh dengan bintang dan terang bulan.
View Danau Ranu Kumbolo ^n^
Kabut pagi menyelimuti Danau Ranu Kumbolo yang masih enggan menampakkan dirinya
Keesokan harinya, setelah sarapan dan packing kembali tenda, kami berangkat menuju Kalimati jam 9.30. Perjalanan dimulai dengan menapaki tanjakan cinta yang sangat fenomenal dimana ada mitos kalau kamu menyebut nama orang yang kamu suka tanpa menengok ke belakang, kelak dia bakal jadi milikmu. Pliss itu cuma mitos! Aku salah satu korban mitos kok :P coba aja kalau kamu gak percaya *ngelirik sinis* kalau di analisa dengan akal sehat yaa, itu juga kalau pikiran kamu masih sehat gak kebawa kegilaan kamu akan dia yaaa, hihihi, mungkin maksud dari mitos itu kamu harus bisa memilih apa mau terus menengok ke belakang karena ada godaan akan pemandangan danau Rakum yang begitu indah dan memukau namun langkahmu terhenti hanya untuk melihatnya atau kamu ingin tetap menatap ke depan tanpa perlu takut melihat kenyataan bahwa di depan kamu tanjakan masih panjang sekali, tapi jika kamu berteguh menjalaninya dengan sungguh-sungguh maka akan cepat sampai juga ke ujung bukit. Rasional gak, guys? ^n^ yaa itu sih menurutku yaaaa terserah kalian mau menganggap mitos itu bagaimana. :D

Oro-oro Ombo (in frame: Trian)
Dibalik bukit tanjakan cinta terhampar luas padang rumput Oro-oro Ombo yang dikelilingi bukit indah di kanan kirinya. Beruntungnya kami karena pada saat itu bunga Verbana brasiliensis sedang bermekaran berwarna ungu yang menambah kecantikan hamparan Oro-oro Ombo.
Bunga Verbana brasiliensis, Oro-oro Ombo ^3^

Oro-oro Ombo dibalik Tanjakan Cinta Semeru
Trek menuju Kalimati menjadi cukup berat selepas dari Cemoro Kandang dimana menguras banyak tenaga karena adanya tanjakan-tanjakan yang cukup ekstrem, perjalanan panjang menelusuri hutan cemara di jalan setapak, dan naik-turun bukit yang kemudian sampailah kami di pos Jambangan untuk melepas lelah. Oiya, di setiap pos-pos peristirahatan di Semeru selalu ada pedagang yang merupakan penduduk sekitar. Salah satu yang tak terlupakan dari Semeru adalah buah potong semangka seharga 2.500/potong yang posnya semakin mendekat ke Kalimati potongannya akan semakin kecil tapi harganya tetap sama ^n^ Buah ini bisa membantu melepas dahaga karena airnya yang banyak dan rasanya yang manis.
Pos Jambangan, pendakian Semeru
Kami semua sampai di Kalimati jam 1.40 siang dan segera mencari spot yang cocok untuk mendirikan tenda. Saat itu masih siang namun kabut sudah turun dengan jarak pandang kira-kira 100 meter. Bahkan WC umum yang berada ditengah-tengah hamparan padang rumput luas dengan view yaitu Puncak Semeru yang gagah, tidak kelihatan. Sumber air berada di pinggiran hutan Kalimati berjarak sekitar 1 km yang untuk menuju kesana melewati trek naik-turun tanjakan dan bukit sekitar 30 menit.

Ternyata hujan turun cukup deras di malam kedua itu di Kalimati. Aku hampir menyerah dan tidak ingin naik ke puncak Semeru menyaksikan hujan yang deras. Ditambah lagi untuk melanjutkan pendakian ke puncak, pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) tidak bertanggung jawab resiko atas apapun yang terjadi selepas pendakian Kalimati. Nyaliku lumayan ciut takut terjadi apa-apa jika hujan tak kunjung berhenti sampai dengan tengah malam.
Hamparan pasir padat berkerikil dan berbatu di Puncak Mahameru
Namun, akhirnya kami semua berangkat summit jam 12.30 tengah malam setelah hujan berhenti sempurna. Ku lihat banyak juga pendaki yang sudah berangkat summit. Ada sekitar 50 orang lebih yang berangkat malam itu (kira-kira aja sendiri wkwkwkwk) yang dibekali pesan oleh tim penjaga di Pos Kalimati untuk berhati-hati dan jika hujan kembali turun di depan agar sebaiknya kembali turun ke Kalimati. 

Pendakian kembali menyusuri hutan cemara namun sangat menanjak dan curam. Berbekal penerangan headlamp dan trekking pole aku melangkah pelan. Kepala yang terasa pening, dada yang sesak, dan perut yang mual sempat membuat aku putus asa. Minum tolak angin dan mengoleskan freshcare ke perut dan hidung cukup membantu dan bisa melanjutkan pendakian meski tak cepat namun teratur dan berjalan cukup mulus. Oiya, kamulah yang tahu kondisi badanmu sejauh mana kekuatannya, jangan memaksakan diri hanya untuk sekedar keinginan mencapai puncak, karena puncak bukan tujuan utama melainkan pulang ke rumah dengan selamat, bukan tinggal nama. So, be a smart climber yaaa :D
Yang kayak begini nih yang bikin pengen balik lagi dan lagi naik gunung ^3^
Kami sampai di batas vegetasi sekitar jam 2.10 pagi dimana sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa kamu jadikan pegangan selama pendakian. Hanya ada tanjakan pasir dimana kamu melangkah dua kali dan akan turun satu langkah. Beruntungnya lagi kami, karena hujan yang mengguyur sebelumnya membuat pasir cukup padat sehingga mempermudah kami berpijak. Pemandangan malam itu menjadi kerlap kerlip lampu headlamp para pendaki yang sudah lebih dulu berangkat. Karena gelap puncak belum terlihat hanya berpatokan pada cahaya lampu pendaki di atas kepala. Ngos-ngosan gak? Jangan ditanya! Ini paru-paru kalau bisa teriak pasti sudah teriak karena jantung yang berdegup kencang luar biasa ngelebihin waktu ditembak dia *eeeeh*
Sunrise di penanjakan pasir Puncak Semeru 
Ketika langit malam mulai memancarkan warna merah dan perlahan-lahan terlihat awan-awan gembul menghiasi sisi kanan kiri puncak Semeru, aku berdecak kagum melihatnya. Rasa ngeri dan nyali ciut yang sedari tengah malam menghiasi diri sejenak sirna karena disuguhi “ini lhoo Diana ciptaan-Ku” oleh Sang Maha Kuasa dan aku bergumam “gak sia-sia perjuangan lu, Di!”. Akhirnya aku sampai di puncak jam sekitar jam 6.20 pagi setelah memanjat batu besar, curam dan tinggi di ujung puncak dan saat berdiri then welcome to the highest peak of Java, bro sist!!
Puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru 3.670 mdpl
Alhamdulillah kami bertujuh selamat sampai di puncak Mahameru dan sampai dengan kami turun kembali. Setelah satu kali Semeru angkuh tak boleh disentuh tahun lalu yang berganti ke Gunung Butak, akhirnya aku berhasil menyentuhnya kali ini. Meski sudah mencapai puncak tertinggi jangan lupa tetap melihat ke bawah yaa guyssss, supaya kalian gak lupa kalau dibawah masih ada tanah sebagai media kalian berpijak. Kalau kata sahabat, semakin kamu mendongak ke atas gak akan pernah ada penyelesaiannya karena diatas langit masih ada langit lagi, gitu aja terus. :D

Puncak Semeru background letupan asap larva
Puncak Mahameru (in frame: Heri)

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Kelakuan pemuda jaman now :P
Pendakian ini di sponsori oleh Bourjois Velvet Edition yang membantu Ade tetap hitsss selama di Semeru :3

Wajah-wajah hepi super karena berhasil menyelesaikan misi Semeru dengan selamat ^^
Maafkan kelakuan kami yang ke-now-an ini :P
Dan gw kembali menemukan orang-orang aneh seperti di pendakian Butak :D
Kabut pagi beranjak bangun dari Danau Ranu Kumbolo