Sunday, December 31, 2017

PERJUANGAN DIBALIK PESONA GUNUNG LEMBU


Adakah yang orang Purwakarta? Atau pernah kesana untuk urusan pekerjaan?? Hmmm, atau sekedar backpacker untuk memenuhi hasrat traveling nya?? Yes, yang terakhir itu cerita aku.. Iyalah kalau urusan kerjaan sih pastinya tulisan ini gak akan pernah release, yes?? :)

Ok, ada apa sih di Purwakarta? Jujur, aku gak tahu juga ya disana ada apa, hanya berbekal rasa bosan akan kesepian karena rutinitas kerja yang kepadatan, tercetuslah ide ikutan share cost traveling ke Purwakarta dengan tujuan utamanya ke Gunung Lembu yang diadakan oleh JJS Squad (Jalan-Jalan Santai) pada Oktober 2016 lalu. Wow, sudah lebih dari setahun yang lalu bro!! Jadi, yeayyy ceritanya akan ku ringkas dan simple aja langsung ke point-point penderitaan dibalik 780 mdpl nya Gunung Lembu.

Eh, kok menderita ya mendaki ke Gunung Lembu? Yesss, it’s totally right!!! But it was so funny and I enjoy the moment of “duh dada gw sesek banget ni!”, “tanjakannya gini banget sik?”, “ah gilak gw capek banget!”, “sumpah gw gak mau kesini lagi”, atau “ini gimana sik pegang talinya, gw ngeri jatoh!”, and many more yang aku cuma bisa senyum-senyum aja sekarang mengingatnya kembali.

Perjalanan menuju Gunung Lembu ditempuh melalui kereta api dari Jakarta Kota ke Purwakarta. Di sana Ketua JJS Squad sudah mengurus urusan persewaan mobil yang mengantarkan kami menuju pos pendaftaran Gunung Lembu. Btw, kok bisa disebut Gunung Lembu sih? Jadi, jika dilihat dari arah timur, bentuk kontur gunung di Purwakarta ini seperti lembu sedang mendekam. Hal ini juga dipertegas pada papan informasi di pos pendaftaran. Garis-garis peta gunung dipertebal dan terbentuklah wujud lembu.

Like I told you before, Gunung Lembu ‘cuma’ punya ketinggian 780 mdpl saja kok guys. Rendah gak sih guys itu? Gak ada apa-apanya kan dengan deretan gunung yang sudah ku jajaki? Apalagi extra wow nya Gunung Butak dan Gunung Ceremai atau Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa? But, again guys, you can’t judge something by its cover because every single thing always has its own privileges to be admired, like me for example #eheh :P

Ok back to Gunung Lembu guys, serius deh Gunung Lembu benar-benar menipu dengan 780 mdpl nya. Karena selepas pos pendaftaran medan pendakian langsung dihajar dengan tanjakan tajam. Derajat kemiringan tanjakan awal ini 45 sampai dengan 50-an derajat. Beberapa titik ada pegangan dari batang bambu kecil. Alhasil ya kami semua bermandikan keringat dengan napas ngos-ngosan.

Eh wait, kami? Siapa aja sih kami? Yang pasti ada Bang Egi selaku ketua geng JJS, lalu ada Bang Ocid, Tepe, Mba Tiwi, Viktor, Novi, Iwan dan pacarnya alias si Ridwan, Andi Daeng, Mba Chipi, Mba Ruri, si fotografer handal nan syur alias Bang Bair, daaaann… ok maap guys sisanya aku lupa nama-namanya, cek foto diibawah ini aja deh kalau mau lihat personil lengkapnya :D:D dan boleh kasih tahu ya kalau ada yang kalian ingat dan aku akan revisi (duh kayak skripsi aja ada revisi 1, 2, 3 nya). Wkwkwk.
Formasi lengkap personil open trip Gunung Lembu via share cost JJS Squad)
Ku ingatkan kembali ya karena pendakian Gunung Lembu membutuhkan extra tenaga maka pastikan kondisi kalian benar-benar fit. Treknya yang terjal akan benar-benar menguras tenaga. Teknik pengaturan pernapasan kalian juga sangat diperlukan demi bisa menyelaraskan dengan tenaga yang dikeluarkan, kalau tidak duh sumpah sesak napas deh. Juga, treknya yang didominasi dengan tanah merah, sebaiknya menghindari mendaki saat hujan yaa karena sudah pasti licin banget itu tanah kalau dipijak, yakin tergelincir kalau tidak hati-hati.

Oh iya, ada makam keramat lho di puncak pertama Gunung Lembu, tapi sorry gak ada dokumentasi untuk ini, karena aku juga ngeri yaa kalau mau dekat-dekat. Tapi tenang, itu gak sengeri kalau di php-in mantan gebetan kok guys. *kyaaaaa
Pendakian Gunung Lembu
Layaknya pendakian di gunung-gunung lainnya, Gunung Lembu juga memiliki trek mulai jalur datar sampai dengan jalan setapak yang menantang dan akan menyita fokus kamu dari gebetan perhatian karena di sisi kanan-kirinya terdapat jurang. Tapi bukannya itu tantangan dan keseruannya melakukan pendakian kan?? ^.^
Duh love banget ya hammock'an view alam lepas begini ^n^
Tapi guys, yang namanya perjuangan berat selalu dibayar dengan hadiah yang jauh lebih hebat bahkan jauh diatas ekspetasi manusia. Itulah Tuhan, mau lihat perjuangan manusianya dulu, kalau bisa melalui cobaan-Nya, dan diberikanlah hadiah atas itu. Duh, tetiba bahasa formal begini. Wkwkwkwk. Yang jelas, pemandangan yang disuguhkan dari puncak Gunung Lembu sangat mempesona. Selain bisa menikmati sunrise atau sunset dari sini, luasnya hamparan Waduk Jatiluhur serta Gunung Parang dan Gunung Bongkok yang duduk bersebelahan dapat kami lihat dengan puas sambil berdecak kagum.
View Waduk Jatiluhur from Puncak Gunung Lembu 780 mdpl
Pemandangan spektakuler tersebut bisa kamu nikmati diatas tebing yang dinamakan batu Lembu di mana tebing ini menjorok keluar dan berbentuk menyerupai punuk lembu. Menyaksikan pemandangan itu semua benar-benar memberikan sensasi petualangan tersendiri yang pastinya gak akan bisa kamu lupakan guys. ^.^
Nah gaya asik begini lengkap banget dengan view nya Waduk Jatiluhur
Persiapan turun dari Gunung Lembu

Batu Lembu seperti Punuk Lembu
Pendaki zaman millenial yang penting tetap jaga kebersihan selama mendaki ya guys :)
Anyway, tulisan ini menjadi tulisan penutupku di penghujung tahun 2017 ini lho guys. Sedikit pesan untuk aku juga teman-teman tercinta, bahwa masa lalu adalah sejarah yang pernah kita buat, hari ini adalah goresan terbaru yang segera membekas seperti sejarah, dan hari esok adalah hari yang bisa kita letakkan harapan dan asa baru. Then, happy new year 2018 as the memories go away to welcome a new hope, good people!! :D:D

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Sunday, December 17, 2017

MENGGAPAI GUNUNG MERBABU VIA SUWANTING YANG TAK TERLUPAKAN

View Merapi dari Pos 3 Gunung Merbabu, via Suwanting Magelang (In frame: Bang Dany)
Merbabu. Hmm... mengingatnya, membuat pikiranku melayang kembali ke masa lalu. Ehemm, gak selamanya nengok ke belakang itu menyakitkan kok guys :D. Soalnya itu bisa dijadikan tolak ukur untuk kita belajar di masa depan, minimal supaya gak terulang lagi terjebak ke manisnya senyuman dia eh ternyata dia senyumin yang lain juga, mirip-mirip jebakan tikus, tikus bodoh ya mati terjepit perangkap manusia, maka dari itu mending wolesss ajalah kalau di senyumin dia dari pada baper doang nantinya yah :P #ehjadingelanturkejauhan wkwkwk.

Ok back to Gunung Merbabu, jadi tepat 1 tahun yang lalu aku berhasil menginjakkan kaki di puncaknya yang gagah dengan ketinggian 3.142 mdpl tapi kalau kata Mbah Google 3.145 mdpl lho guys. Sebagai salah satu deretan gunung tertinggi di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Gunung Merbabu tak bisa diremehkan sama sekali. Why? I will tell you soon :)

Secara geografis, Gunung Merbabu terletak diantara Kabupaten Semarang, Magelang, Salatiga dan Boyolali dengan jalur pendakian yang dapat ditempuh melalui 4 jalur yaitu, jalur Selo, Kopeng, Wekas, dan yang baru dibuka kembali pada Maret 2015 lalu (pernah dibuka di tahun 1990-1998) adalah Suwanting.

Pendakian Gunung Merbabu ku tempuh via jalur Suwanting yang sangat membekas di hati sampai dengan tulisan ini dibuat dan ku rasa akan selamanya ku ingat kayak sentuhan tangan dia *kyaaaaa..

Bagaimana tidak mau terlupakan, karena jalur Suwanting memberikan pengalaman mendaki gunung mulai dari santai, sedikit menanjak, ekstrim, ditambah bumbu-bumbu mistis tapi kemudian memberikan hasil yang tidak bisa dipungkiri buat diri puas luar biasa sampai ingin rasanya jejingkrakan kalau saja tidak malu sama pendaki lain *jaim dikitlah namanya juga masih jomblo #nahlho hahaha.
Tim Pendakian Gunung Merbabu
Bersama dengan 26 orang teman trip dari Tapak Adventure, mereka menjadi teman 2 hari 1 malam ku yang sama-sama punya harapan tinggi terhadap Gunung Merbabu agar bisa bersahabat dengan kami mengingat bulan Desember merupakan bulan-bulan high risk terhadap cuaca hujan untuk melakukan traveling.

Basecamp Suwanting menuju Pos 1: Lembah Lempong

Setelah short briefing dari TL Tapak, pendakian kami dimulai malam hari sekitar jam 7, karena ada kendala bus yang mogok-mogok di perjalanan, sudahlah ini gak usah di ceritain ya guys, sedih soalnya kalau di ceritain T_T/

Btw, untuk TL Gunung Merbabu dari Tapak ini ada Bang Dany, Bang Ocid, Bang Hamja yang setelahnya gw panggil nama sajalah karena dia muka saja boros, umur mah masih sebiji jagung wkwkwkwk, dan ada dik Teguh alias Tepe yang setia jagain aku selama di pendakian meski sempet ngilang sebentaran bikin gw mau mewek >,<.

Awal pendakian, track masih santai karena tanahnya yang masih landai dengan pemandangan ladang perkebunan berbalut nuansa pegunungan alami menyelimuti badan. Bermodalkan jaket tebal, jas hujan dan cahaya headlamp redup-redup (ini ngeselin banget X.X), aku melangkahkan kaki dengan hati-hati di tanah basah dan sedikit pakai perasaan supaya gak salah melangkah yang berakibat tergelincir ke hatinya yang palsu.

Pos 1 menuju Pos 2: Pos Bendera

Pendakian menuju Pos 2 diawali dengan terlihatnya barisan pepohonan pinus menawan yang ramping-ramping menjulang tinggi ke atas (iyalah tinggi itu ke atas, kalo ke samping namanya gendut itu aku hiks >,<)

Meskipun menyusuri hutan pinus (Hutan Manding), namun track nya sudah mulai meningkat lebih menanjak dibanding sebelumnya. Perjalanan juga melewati Lembah Cemoro, Lembah Singo dan Lembah Mitoh. Yang perlu diperhatikan lagi ketika melakukan pendakian di malam hari adalah banyak akar-akar pepohonan pinus tersebut yang mencuat keluar dari tanah. Tak jarang aku tersandung akar-akarnya. So guys, be careful and keep your eyes ahead.
Sabana 2 menuju Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Sesampainya di pos 2, ada beberapa pendaki yang sudah mendirikan tenda di sana, namun kami tetap melanjutkan perjalanan karena rencana nge-camp kami di pos 3. Tujuannya agar pada saat summit attack pendakiannya sudah lebih dekat.

Pos 2 menuju Pos 3: Dampo Awang

Pendakian menuju pos 3 menjadi semakin terasa banget mendakinya, luar biasa melelahkan (kalau gak mau lelah ke mall saja ya hahaha). Tanjakan curam, jalur zig-zag dan adanya tali tambang yang sudah tersedia di sana sebagai alat bantuan mewarnai suka duka pendakian ini yang kemudian membawa kami pada rimbunnya hutan dengan rumput-rumput yang tumbuh yang tinggi-tinggi.

Kami melewati 3 titik lokasi yakni Lembah Singo, Lembah Manding dan pos Bendera yang merupakan pos bayangan masa lalu, kemudian sampailah di pos 3 yang cukup lapang tempatnya sehingga kami dapat mendirikan tenda. Tanya jam berapa kami sampai? Jam setengah 3 pagi, guysss.. Woow!! Perjalanan super panjang ini baru sampe pos 3 lho, wkwkwk.
Makanan super mewah ini ada berkat koki handal TL Tapak a.k.a. Bang Ocid :) 
Di pos 3 ini terdapat sumber air yang airnya bisa digunakan untuk memasak, ya kalau kepepet persediaan air minum habis, monggo di minum saja :P

Wow nya lagi, di pos 3 ini terdapat spot foto asik nan keren berlatar Gunung Merapi yang gagah menantang di hadapan Gunung Merbabu, lhooo :D
View Gunung Merapi dari pos 3 Gunung Merbabu
Pos 3 menuju Puncak Gunung Merbabu: Suwanting dan Triangulasi

Kami memulai summit sekitar jam 8 pagi karena memang kondisi badan yang masih terlalu lelah jika harus mengejar sunrise akibat pendakian malam sebelumnya yang memakan waktu 7 jam lebih. Pendakian menuju Puncak Suwanting menjadi lebih hidup karena ya dilakukan pada saat terang dan bisa puas lihat pemandangan gunung kanan-kirinya. Setelah melewati 2 bukit sabana yang naik turun disertai pemandangan hamparan rumputan hijau, sampailah kami di puncak Suwanting.
Salah satu track sabana menuju Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Setelah berfoto-foto cantik ala-ala selebgram, ku lanjutkan summit ke puncak Triangulasi dengan kembali melewati bukit sabana. Jangan heran ya, Gunung Merbabu memang terkenal memiliki 3 bukit sabana yang cantik kayak di film-film fiksi gitu deh.
Cantik banget ya?? iya.. bukit-bukit sabananya kan? Hmmm..
Puncak Suwanting, Gunung Merbabu
Then, welcome to the highest peak of Merbabu on 3.142 mdpl guys... Angin Gunung Merbabu dengan kencang dan sembarang berhembusan ke seluruh badan seakan heboh sendiri menyambut para pendaki yang sudah berhasil menyelesaikan misi dengan selamat. Senang rasanya pernah memiliki cerita dengan Gunung Merbabu yang penuh mistis (bagian ini bisa japri aja lah kalau mau tahu jelasnya sambil ngomongin masa depan kita *kyaaa :P) namun juga mampu menyuguhkan pemandangan luar biasa yang tak mungkin terlupakan.
Awan gemeess di Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu 3.142 mdpl
Gaya loncat hak paten by Tepe :P

Cuma disini guys, kalian bisa masak di alam bebas view Gunung Sindoro ^^ (in frame: Azwar & Reza)
Puncak Triangulasi, Gunung Merbabu
Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Sunday, October 29, 2017

PENGALAMAN MENDAKI SEMERU, PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA

Touch down Puncak Mahameru at May 09, 2017
Semeru… untuk mendaki kesana gak pernah terbayang apalagi sekedar sekilas memikirkannya. Gak pernah sedikit pun! Meskipun sudah menonton booming nya film 5 cm yang dibintangi aa’ Fedi Nuril ^3^ lima tahun silam tentang pendakian ke Mahameru, gak sama sekali di benak mau ikut-ikutan pendaki-pendaki sosialita yang terpengaruh film itu. Gue gitu sik orangnya, nunggu kelar dulu trendnya baru deh kesana #ehgagitukok wkwkwkwk.


Well, itulah aku sebelum sekarang. Sebelum jadi orang yang rela ngabisin cutinya bahkan pernah unpaid leave kerja demi menyentuh alam luas Indonesia lebih dekat lagi. Waktu masih menjadi orang yang sangat kaku, jauh dari kata lentur, membosankan. Time flies too fast for me. Karena satu moment yang gak banget, I’m turning into the new me. Simplenya, menjadi orang yang gila jalan-jalan hampir di setiap weekend demi mencari yang namanya jodoh jati diri. Menjadi orang yang seneng ketika bisa ketemu orang baru setiap saat dan melebur bersama karakter orang itu. Mirip-mirip bunglon gak sik gw? Hahaha


Noooo.. I mean I become a more flexible person just to be closer with society. *tepuk-tepuk dada kiri pakai tangan kanan, sunggingkan senyum bangga* Apasiiiiiih… just kidding.. mana ada kan orang baik bilang dirinya baik… :P jadi tadi itu cuma demi naikin image aja kok *oke jadi kalian tau kan aku gimana orangnya?? Hahaha*

Okok cukup yaaa ngalor ngidulnya… back to Semeru…

4 hari 3 malam jadi cerita yang yang takkan bisa aku lupakan yang layak diceritakan ke calon anak nantinya, “Ini lho sayaang, mamamu dulu pernah ke puncak tertinggi di Jawa semasa masih mudanya” aseeeek :P

Pendakian terpanjangku ini dilalui bersama-sama teman baru. Semua teman baru. Harusnya ada teman lama alias teman kantor dimana aku ikut pendakian ini karena minta-minta sama ini temen supaya boleh nyelip. Tapi, ngeselinnya dia batalin pendakian di hari H!!!!!! Gilaak yaaa being an auditor makes you become a person who is too loyal to the company! Sedih T.T *cukup marah-marahnya, jangan lupa kudu jaim di sini*

Jadilah formasi pendakian hanya bertujuh karena si Erwin itu lebih bela kerjaannya. Iya Erwin yang gilak kerja! Huft! Ada perasaan takut gak bisa berbaur lho sama teman-temannya dia. Bagusnya waktu meeting seminggu sebelum pendakian, aku ikut lho jadi sudah kenalan terlebih dahulu. Yaaa jadi gak kikuk-kikuk banget kan kalau semisalnya belom sama sekali ketemu. Jadi cerita lucu sih, aku diajakin Erwin buat ke Semeru bareng temen-temen dia, tapi yang berangkat hanya orang yang diajakinnya. Yang ngajakin jadinya belom pernah ke Semeru deh :P
In Frame (kiri ke kanan): Heri, Trian, Akhamat, Suryo, Diana, Ade, Roni
Bersama satu cewek lagi, Ade namanya, kebetulan dia ex auditor juga di kantorku, sebelumnya kenal cuma by say hallo aja tapi itu sangat membantu, at least ada orang yang aku kenal selain Erwin.. Lima orang sisanya ada Trian, Heri, Roni, Suryo, dan Akhamat (later on we call him as “Sista” gegara kekonyolan ini anak :D). Bersama mereka-lah aku menaruh harapan 5 cm di depan kening kita. *kata aa’ Fedi Nuril di film 5 cm ^3^

Dengan duduk tegak di kereta ekonomis Matarmaja khasnya para pendaki yang mau ke Semeru dari Stasiun Senen, perjalanan menuju kota Malang nun-jauh dari Jakarta kami tempuh selama 17 jam. Mulai dari ngobrol, tidur, makan, main kartu uno, makan lagi, tidur lagi, ngobrol lagi, uno lagi.

Sampailah kami di kota Malang di hari Minggu jam 7.50 pagi dengan diiringi teriakan “akhirnyaaa…” dan bunyi krek-krek-krek di pinggang dan punggungku yang ngulet-ngulet karena saking pegelnya duduk 17 jam dikursi tegaknya Matarmaja.

Di luar stasiun, kami melakukan tawar menawar dengan pemilik mikrolet untuk menuju ke rumah Bang Saiful di daerah Gubugklakah. Kami meninggalkan barang-barang yang tidak perlu dibawa ke Semeru di rumahnya. Sesampainya di sana, kami langsung mengulang packing carrier masing-masing dan membeli beberapa logistik yang masih kurang.

Dari Gubugklakah, kami naik mobil jeep warna merah yang disewa sekitar Rp. 1 juta sekian untuk PP Gubugklakah – Ranu Pane. Dari pos pendaftaran Ranu Pane, kami memulai pendakian jam 4.30 sore setelah sebelumnya mengikuti antrian panjang di loket pendaftaran dan mengikuti pengarahan selama sekitar 10 menit dari tim SAR Semeru.
Gapura Selamat Datang di Ranu Pane

Makanan mewah di gunung, ada sarden, mie telor dan juga rendang sponsor ibu camer #eh ibunya temen :P
Perjalanan dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo melewati 4 pos yang treknya gak gitu menanjak tapi cukup membuat ngos-ngos’an. Treknya termasuk melipir bukit, melewati 2 jembatan, beberapa trek datar sebagai bonus, dan tanjakan cinta versi mini yang akan kamu temui dijalur pos 3 menuju pos 4. 

Malam pertama kami membuka tenda di Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.400 mdpl, sesaat setelah melakukan perjalanan selama 5 jam lebih. Tidak seperti yang di film 5 cm yang bisa berenang di danau Rakum, bahkan sesenti saja kaki menyentuh air danau, kalau ketahuan oleh penjaga di sana, siap-siap saja kamu disuruh bersihin WC umum di Rakum yang wanginya tiada duanya di dunia dan surat larangan masuk kawasan pendakian Semeru selama setahun ke depan! Tujuannya air danau gak boleh kesentuh kulit manusia ya untuk menjaga kesterilan air danau yang menjadi salah satu dari dua sumber air utama selama pendakian di Semeru. Kamu bakal pakai air danau untuk masak, minum, dan ke WC, bro!!! Jadi yaa gilak aja gw disuruh minum air danau yang sudah lu cemplungin sebadan! Jadi terima kasih pada aa’ Fedi Nuril yang ternyata kamu sama saja dengan laki-laki lain yang suka memberi harapan palsu #eeewww
Pemandangan Ranu Kumbolo diambil dari Tanjakan Cinta
Udara di Ranu Kumbolo cukup dingin malam itu di bulan Mei. Aku dan Ade jadi juru masak, sementara yang cowok-cowok mendirikan tenda. Well, aku yang sebelumnya naik gunung dengan open trip, maka ini jadi pendakian pertama aku dimana aku masak di gunung dengan peralatan apa adanya. Tanpa ada sekat penghalang debu, kami memasak makanan berbaur dengan alam, bercampur bau tanah sehabis hujan, diatas rumput-rumput Rakum yang bergoyang-goyang kegelian ditiup-tiup angin malam pegunungan, dan beratap langit yang memamerkan keindahan lukisan Tuhan yang penuh dengan bintang dan terang bulan.
View Danau Ranu Kumbolo ^n^
Kabut pagi menyelimuti Danau Ranu Kumbolo yang masih enggan menampakkan dirinya
Keesokan harinya, setelah sarapan dan packing kembali tenda, kami berangkat menuju Kalimati jam 9.30. Perjalanan dimulai dengan menapaki tanjakan cinta yang sangat fenomenal dimana ada mitos kalau kamu menyebut nama orang yang kamu suka tanpa menengok ke belakang, kelak dia bakal jadi milikmu. Pliss itu cuma mitos! Aku salah satu korban mitos kok :P coba aja kalau kamu gak percaya *ngelirik sinis* kalau di analisa dengan akal sehat yaa, itu juga kalau pikiran kamu masih sehat gak kebawa kegilaan kamu akan dia yaaa, hihihi, mungkin maksud dari mitos itu kamu harus bisa memilih apa mau terus menengok ke belakang karena ada godaan akan pemandangan danau Rakum yang begitu indah dan memukau namun langkahmu terhenti hanya untuk melihatnya atau kamu ingin tetap menatap ke depan tanpa perlu takut melihat kenyataan bahwa di depan kamu tanjakan masih panjang sekali, tapi jika kamu berteguh menjalaninya dengan sungguh-sungguh maka akan cepat sampai juga ke ujung bukit. Rasional gak, guys? ^n^ yaa itu sih menurutku yaaaa terserah kalian mau menganggap mitos itu bagaimana. :D

Oro-oro Ombo (in frame: Trian)
Dibalik bukit tanjakan cinta terhampar luas padang rumput Oro-oro Ombo yang dikelilingi bukit indah di kanan kirinya. Beruntungnya kami karena pada saat itu bunga Verbana brasiliensis sedang bermekaran berwarna ungu yang menambah kecantikan hamparan Oro-oro Ombo.
Bunga Verbana brasiliensis, Oro-oro Ombo ^3^

Oro-oro Ombo dibalik Tanjakan Cinta Semeru
Trek menuju Kalimati menjadi cukup berat selepas dari Cemoro Kandang dimana menguras banyak tenaga karena adanya tanjakan-tanjakan yang cukup ekstrem, perjalanan panjang menelusuri hutan cemara di jalan setapak, dan naik-turun bukit yang kemudian sampailah kami di pos Jambangan untuk melepas lelah. Oiya, di setiap pos-pos peristirahatan di Semeru selalu ada pedagang yang merupakan penduduk sekitar. Salah satu yang tak terlupakan dari Semeru adalah buah potong semangka seharga 2.500/potong yang posnya semakin mendekat ke Kalimati potongannya akan semakin kecil tapi harganya tetap sama ^n^ Buah ini bisa membantu melepas dahaga karena airnya yang banyak dan rasanya yang manis.
Pos Jambangan, pendakian Semeru
Kami semua sampai di Kalimati jam 1.40 siang dan segera mencari spot yang cocok untuk mendirikan tenda. Saat itu masih siang namun kabut sudah turun dengan jarak pandang kira-kira 100 meter. Bahkan WC umum yang berada ditengah-tengah hamparan padang rumput luas dengan view yaitu Puncak Semeru yang gagah, tidak kelihatan. Sumber air berada di pinggiran hutan Kalimati berjarak sekitar 1 km yang untuk menuju kesana melewati trek naik-turun tanjakan dan bukit sekitar 30 menit.

Ternyata hujan turun cukup deras di malam kedua itu di Kalimati. Aku hampir menyerah dan tidak ingin naik ke puncak Semeru menyaksikan hujan yang deras. Ditambah lagi untuk melanjutkan pendakian ke puncak, pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) tidak bertanggung jawab resiko atas apapun yang terjadi selepas pendakian Kalimati. Nyaliku lumayan ciut takut terjadi apa-apa jika hujan tak kunjung berhenti sampai dengan tengah malam.
Hamparan pasir padat berkerikil dan berbatu di Puncak Mahameru
Namun, akhirnya kami semua berangkat summit jam 12.30 tengah malam setelah hujan berhenti sempurna. Ku lihat banyak juga pendaki yang sudah berangkat summit. Ada sekitar 50 orang lebih yang berangkat malam itu (kira-kira aja sendiri wkwkwkwk) yang dibekali pesan oleh tim penjaga di Pos Kalimati untuk berhati-hati dan jika hujan kembali turun di depan agar sebaiknya kembali turun ke Kalimati. 

Pendakian kembali menyusuri hutan cemara namun sangat menanjak dan curam. Berbekal penerangan headlamp dan trekking pole aku melangkah pelan. Kepala yang terasa pening, dada yang sesak, dan perut yang mual sempat membuat aku putus asa. Minum tolak angin dan mengoleskan freshcare ke perut dan hidung cukup membantu dan bisa melanjutkan pendakian meski tak cepat namun teratur dan berjalan cukup mulus. Oiya, kamulah yang tahu kondisi badanmu sejauh mana kekuatannya, jangan memaksakan diri hanya untuk sekedar keinginan mencapai puncak, karena puncak bukan tujuan utama melainkan pulang ke rumah dengan selamat, bukan tinggal nama. So, be a smart climber yaaa :D
Yang kayak begini nih yang bikin pengen balik lagi dan lagi naik gunung ^3^
Kami sampai di batas vegetasi sekitar jam 2.10 pagi dimana sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa kamu jadikan pegangan selama pendakian. Hanya ada tanjakan pasir dimana kamu melangkah dua kali dan akan turun satu langkah. Beruntungnya lagi kami, karena hujan yang mengguyur sebelumnya membuat pasir cukup padat sehingga mempermudah kami berpijak. Pemandangan malam itu menjadi kerlap kerlip lampu headlamp para pendaki yang sudah lebih dulu berangkat. Karena gelap puncak belum terlihat hanya berpatokan pada cahaya lampu pendaki di atas kepala. Ngos-ngosan gak? Jangan ditanya! Ini paru-paru kalau bisa teriak pasti sudah teriak karena jantung yang berdegup kencang luar biasa ngelebihin waktu ditembak dia *eeeeh*
Sunrise di penanjakan pasir Puncak Semeru 
Ketika langit malam mulai memancarkan warna merah dan perlahan-lahan terlihat awan-awan gembul menghiasi sisi kanan kiri puncak Semeru, aku berdecak kagum melihatnya. Rasa ngeri dan nyali ciut yang sedari tengah malam menghiasi diri sejenak sirna karena disuguhi “ini lhoo Diana ciptaan-Ku” oleh Sang Maha Kuasa dan aku bergumam “gak sia-sia perjuangan lu, Di!”. Akhirnya aku sampai di puncak jam sekitar jam 6.20 pagi setelah memanjat batu besar, curam dan tinggi di ujung puncak dan saat berdiri then welcome to the highest peak of Java, bro sist!!
Puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru 3.670 mdpl
Alhamdulillah kami bertujuh selamat sampai di puncak Mahameru dan sampai dengan kami turun kembali. Setelah satu kali Semeru angkuh tak boleh disentuh tahun lalu yang berganti ke Gunung Butak, akhirnya aku berhasil menyentuhnya kali ini. Meski sudah mencapai puncak tertinggi jangan lupa tetap melihat ke bawah yaa guyssss, supaya kalian gak lupa kalau dibawah masih ada tanah sebagai media kalian berpijak. Kalau kata sahabat, semakin kamu mendongak ke atas gak akan pernah ada penyelesaiannya karena diatas langit masih ada langit lagi, gitu aja terus. :D

Puncak Semeru background letupan asap larva
Puncak Mahameru (in frame: Heri)

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Kelakuan pemuda jaman now :P
Pendakian ini di sponsori oleh Bourjois Velvet Edition yang membantu Ade tetap hitsss selama di Semeru :3

Wajah-wajah hepi super karena berhasil menyelesaikan misi Semeru dengan selamat ^^
Maafkan kelakuan kami yang ke-now-an ini :P
Dan gw kembali menemukan orang-orang aneh seperti di pendakian Butak :D
Kabut pagi beranjak bangun dari Danau Ranu Kumbolo

Monday, September 11, 2017

SURGANYA KEINDAHAN LAUT TAKABONERATE


Cara terbaik menikmati hidup :3 [Tinabo Island]
Weekend, siang hari yang terik di bulan yang seharusnya sudah masuk musim hujan, di dalam kamar, menatap layar laptop, itu aku.

Me: Mmmm.. Kerang Ajaib dapatkah kau membantuku mengambil keputusan?
Kerang Ajaib: Apa yang membuatmu gelisah?
Me: Haruskah aku melanjutkan menulis blog lagi? >.<
Kerang ajaib: Tentu saja, anak manis! :9 :9
Me: Puja Kerang Ajaiiiiib!!!! LULULULULULU!!
puja-kerang-ajaib LULULULU

Well… then here I am, coming back to my own creation world... Yeayyy *lari-lari di pasir sambil bawa papan tulisan “Welcome back, Me!!” 

Sejujurnya, banyak tempat baru yang sudah ku singgahi sejak postingan terakhir tahun lalu. Singapore, Kuala Lumpur, Jogja, Bandung, Gn. Krakatau, Gn. Papandayan, Gn. Manglayang, Gn. Merbabu, Gn. Lembu, dan berita besarnya Puncak Mahameru akhirnya berhasil aku capai di tahun ini!!! Waaaah,, setelah sebelumnya jual mahal, kali ini Semeru manis sekali padaku. Proud me :3:3
Teaser dulu lah :P
Tapi karena kebanyakan perjalanan tersebut dilakukan ditengah-tengah low-season-audit yang tetap saja lembur-lembur juga :/ well, aku ga sempet poles-poles ini blog dengan jejak-jejak main aku, padahal as some people know, blog aku memiliki ciri khas very-detail-oriented karena keinginan besarku ngeblog adalah mengajak kalian seolah-olah berada bersamaku di saat aku melakukan perjalanan dengan hanya membaca deretan kata yang puaaaaanjaaang sekali ini. Nah, bagaimana sekarang mau cerita detail kalau perjalanannya saja sudah berbulan-bulan yang lalu. Huhuhuhu..

Well.. aku tetap putuskan beberapa perjalanan sebelumnya satu persatu akan diposting dengan ingatan aku yaa well apa adanya, karena jujur belakangan ini aku sudah sering lupa contohnya saja waktu kemarin di-surprise-in ulang tahun sama temen kerja. Aku bingung gitu kok lilinnya berangka 26 yah? Rasa-rasanya harusnya 20 lho?! *iya neng kamu masih umur 20 ketika itu 6 tahun yang lalu sambil toyor kepala sendiri >,<*

Tapi masih tapi, sebelum bernostalgia dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, postingan pembuka perjalanan di 2017 ini, aku suguhi kalian dengan perjalananku ke Surganya Keindahan Laut Takabonerate berlokasi di Kepulauan Selayar, Makassar yang aku kasih two thumbs up kalo perlu tambahin ni dua jempol kaki. Aseelliiikk!!! Ngeselin banget!! Keren bangettt!! Wahh kalian harus kesana!! Sumpah!! Gak akan nyesel, gak akan rugi!! Malah bikin kangen kayak dia ngajakin balik lagi kesana! Hiks

Takabonerate menjadi perjalanan (mungkin) terjauh di tahun 2017 ini. Takabonerate menjadi perjalanan pertama aku yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam barisan tempat tujuan aku selain pelaminan *eh*. Takabonerate menjadi perjalanan pertamaku yang “dipaksa” temen yang hampir berjam-jam aku di doktrin dengan foto-foto pemandangan yang jujur aku ga kuat nahan iler melihatnya dan juga segala macam rencana perjalanan serta perkiraan budget share cost per-orangnya. Well, sekuat apapun aku menahannya, ternyata rapuh juga dinding pertahananku, dan Takabonerate pun aku kunjungi dengan harapan yang (terlanjur) di set tinggi sekali.
Udah bisa bikin cover album belom? :P (Formasi bawah: Suryo, Diana, Roni, Melvin)
Perjalanan panjang ditandai dengan mengangkasanya pesawat berlogo singa merah dari Bandara Soetta menuju Sultan Hasanuddin, Makassar. Setelah 2,5 jam “duduk” di udara, kami bertiga sampai di Makassar jam 08.00 WITA. Kami? Oiya nyaris kan lupa menyebut formasi perjalanan ini. Hehehe. Aku berangkat dari Jakarta bersama Bang Roni dan Melvin, sementara Suryo terbang dari Bali.

Temen: Semuanya cowok?
Aku: Yes
Temen: Lah lu tidurnya gimana?
Aku: Ya tinggal tidur aja, so what?
Temen: Tapi itu kan cowok semua
Aku: Terus gw harus batalin perjalanan gw dimana itu tiket pp uda dibeli (ditalangin Bang Roni pula) karena 1 cewe yang lain batal dan gw terlanjur punya bayangan Takabonerate di mata gw? Duh nggak gw banget plisss
Temen: Yauda hati-hati nak kamu disana, jadi princess 6 hari dikelilingin cowok-cowok
Aku: Zzzzzzzz

Jadi, plisss yang baca jangan bawel yes, tanya-tanya kenapa bisa ada 1 cewek, jomblo pula, mainnya sama cowok gak cuma 1 tapi 3 cowok. *angkat kepalan tinju ke udara* ^n^
Diambil dar Mbah-Google karena lupa dokumentasiin sendiri T.T
Yuk.. balik ke Makassar..

Di bandara Makassar kami disambut oleh 1 teman yang sudah duluan sampai di sana, which is Suryo. Lebih tepatnya kami yang nyamperin doi sih secara doi lagi tidur asyik ala-ala Hawaii pake kaos kutang lengan buntung dan celana pendekan, serta kacamata hitam kayak tukang pijet *sorry Yo gatel ni lidah hehe* di “sofa” ban truk super besar warna pelangi yang di jajarkan rapi di luar pintu kedatangan bandara Sultan Hasanuddin. Kelakuannya yang sok exotic itu sepertinya dipengaruhi juga oleh festival marathon yang diikutinya, sejauh 42.195km di Bali, tepat sebelum cerita perjalanan Takabonerate ini dibuat. Naaah, marathon sejauh itu saja dilakonin dengan penuh kesabaran dan ketekunan lho, kebayang kan kalo nanti dia sudah jadi suami?! Semoga Beruntung banget deh istrinya!! :P

Perjalanan menuju Takabonerate, kami menggunakan jalur darat dan laut karena memang belum ada jalur penerbangan sampai ke sana. Well, di Pulau Kayuadi sedang dibuat bandara dan mungkin akan rampung dalam 1-2 tahun ke depan. Dan memudahkan para traveler meyambangi Takabonerate sebagai tempat wisata yang bisa banget ngalahin Bali in my perception! Tapi gw yakin harga tiket pesawat ke sana bakal segila ke Papua! ^,^

Dari bandara, kami order Grabcar menuju Terminal Malengkeri untuk mengejar bus yang menuju Pelabuhan Bira. Perjalanan menuju Malengkeri melalui jalan tol yang betul-betul bebas hambatan! Luar biasa! Tidak seperti di tol di Jakarta >n<. Setelah 1 jam di jalan, ternyata benar saja kami ketinggalan bus ke Bira/Pammatata. Jadilah kami menyewa mobil omprengan yang mau langsung mengangkut kami. Fyi, kapal terakhir yang berangkat dari Pelabuhan Bira ke Selayar adalah jam 4 sore. Dengan perjalanan darat Bira-Selayar memakan waktu 6 jam perjalanan jelas membuat kami was was apakah driver bisa mengantarkan kami tepat waktu. Untuk kalian yang punya dana lebih, baiknya pesan tiket pesawat saja dari Makassar ke Selayar. Harganya cukup mahal sih untuk penerbangan singkat 35 menit yaitu sekitar IDR 400k – 500k, tapi berguna banget memangkas perjalanan darat selama 7 jam ditambah 2 jam di laut.

Dan ternyata?! Drivernya bisa tepat waktu doong sampai di Pelabuhan Bira jam 3.45 WITA dengan sekitar 20 menit dipotong jam makan siang karena drivernya kelaperan. Sambil turun dari mobil, dia teriak “sudah setengah perjalanan kok” menjawab kami yang bertanya apa mungkin sampai tepat waktu padahal sudah jam 1 siang.

Well, perut laper sih tapi dari pada ketinggalan kapal lagi kan? Tapi masih tapi, jangan tanya bagaimana gaya menyetir driver di daerah ini. Tidak ada yang patut dicontoh sama sekali apalagi dijadikan calon suami! Duh nggak deh! *ketok-ketok kepalan tangan bolak-balik meja-kepala* Kenapa? Karena sepertinya si driver saja gak sayang sama diri sendiri apalagi sama istrinya nanti? *kyaaa* Nggak gitu ding! Maksudnya yah, si driver nyetirnya ugal-ugalan banget, nyalinya ngelebihin orang-orang yang berbondong-bondong ngantri Histeria di Dufan! Suatu kali si driver menyalip mobil jalan mobil di depan tapi tipis banget jaraknya dengan mobil yang lawan arah depan mobil kita dan *AAARRGHH”, keluarlah teriakan lumayan kenceng ku diiringi lafal istigfhar yang bikin orang-orang semobil nengok ke aku dan bilang “gak apa-apa Diana, masih jauh kok jaraknya”. *ndasmu kui masih jauh, dada gw sesek liat maut di depan mata* >n< kesel lagi wkwkwk

Ok, back to Bira. Penyebrangan ke Selayar memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sampai di Pelabuhan kami langsung naik bus Damri (kalau gak salah ingat) untuk menuju Pelabuhan Benteng, Selayar. Perjalanannya hanya 30 menit dan sampai di sana kami sudah menyewa mobil dari travel yang di jemput oleh Bang OG (sebelumnya aku tulis "Oge" yang belakangan aku ketahui doi dulu rocker berambut gondrong makanya dipanggil OG stands for Om Gondrong :P). Untungnya, Bang OG masih lebih manusiawi lah nyetirnya ketimbang driver Makassar. :3:3
Laut lepas Selayar, Makassar, Sulawesi Selatan ^n^
Daaaan… panjang sekali ya guys kalau harus aku ceritakan secara detail perjalanan 6 hari ini yang di dominasi oleh darat-laut-darat-laut? Boleh kah kali ini aku memangkasnya langsung ke poin-poin perjalanan? Yess, terima kasih, aku sudah memutuskannya. :P

Berdasarkan rencana itinerary yang sudah dibuat seindah mungkin disertai acara yang dipadatkan oleh ketua geng, Bang Roni, tapi namanya rencana manusia tidak melulu berjalan sempurna. Kita sadar betul bahwa resiko ber-packer-an sendiri lebih tinggi ketimbang ikut open trip walaupun aku pernah kok ikut open trip yang itinerary nya juga berubah karena faktor inherent risks yang tidak bisa kita hindari. sorry jadi pakai bahasa ekonomi :D

Teman Bang Roni yang ketika H-7 berjanji mau menyewakan kapalnya untuk kami dan mengantarkan perjalanan Selayar-Tinabo-Tanjung Bira berakhir hanya tinggal janji karena ada alasan tertentu yang membuatnya membatalkan janjinya cowok emang gitu gak bisa dipegang janjinya. Jadilah ketiga laki-laki perkasa *ehem* ini sibuk mencari kapal lain sana-sini, dan kali ini aku cuma bisa percayakan saja pada mereka semua. Wkwkwk. 
Dimensi Coffee = Dimensi Resort. Penyelamat kami ketika gak dapet penginapan di Selayar :D
Formasi kiri ke kanan: Melvin, Bang OG, Diana, Suryo, Roni, Bang Ruil
Kami tinggal di Benteng 2 malam karena adanya missed communication dengan pemilik kapal yang sebetulnya sudah deal H-2 sebelum kami berangkat ke Makassar, namun tidak bisa dihubungi dari hari pertama setelah sampai di Makassar. Fyi, guys, next time kalau kalian mau trip ke Takabonerate, pastikan ke pemilik kapal bahwa kalian pasti datang dan tanyakan berapa lama pemilik kapal akan menunggu kalian di pelabuhan temapat janjian in worst case kalian ada keterlambatan di perjalanan. Kenapa? Karena signal HP sangat susah di luar wilayar Selayar! Hanya Telkomsel yang punya jaringan tapi tetap tidak bisa terlalu diharapkan.

Well, itu yang terjadi pada kami. Ditinggalin oleh pemilik kapal karena dianggap membatalkan penyewaan, padahal kami di sini juga menyangka si Puang A (pemilik kapal) juga tidak jadi menjemput kami karena HP nya sama sekali tidak bisa dihubungi. Jadi lah 2 hari kami terbuang sia-sia.
Salah satu pantai di Selayar :* (tolong jangan salfok sama "in frame" nya ya :P)
Eitsss.. sebetulnya gak sia-sia banget sih, karena sebagai gantinya, Bang OG mengajak kami ke salah satu spot snorkel di Pantai Timur Selayar. Well, bisa membuat kami sejenak hepi-hepi melupakan Tinabo.

Isi bawah lautnya Selayar juga masih sangat bagus kok. Airnya bening dan pasir putihnya halus sekali menyentuh sela-sela jemari kakiku ketika mendarat di sana. Karang-karang di Selayar ini masih jauh lebih bagus dan tidak rusak layaknya belum tersentuh banyak manusia seperti di Pahawang atau Bali. Tapi, ketika tempat wisata ini boom meledak terdengar ke banyak telinga traveler di Indonesia, aku jamin tak lama kemudian keadaannya akan mengikuti dua tempat diatas. Jadi bersyukurlah kami yang sudah lebih dulu mengunjungi tempat ini. Wkwkwk.
Bawah laut di Pantai Timur Selayar, Makassar ^,^
Foto bawah diambil dengan drone-sponsor-Bang Melvin :P
Hari berikutnya kami sampai di Pulau Kayuadi tepat setelah matahari terbenam sempurna yang digantikan terang bulan dan kerlap-kerlip bintang di langit. Sebelum kapal benar-benar berlabuh dihatinya sempurna di Kayuadi, masih di tengah laut, sempat terdengar ramai suara bedug malam takbiran mengingatkan bahwa besoknya adalah Hari Raya Idul Adha dari pulau tersebut. Namun, setibanya di sana, suasana malam Idul Adha sama sekali tak terasa. Sepi, sunyi, gelap, hanya ada sedikit lampu jalan yang berdiri di kanan dan kiri jalanan yang menemani pandangan mata menuju rumah Bang Sirajo. Kami menyewa kapalnya dengan rute Kayuadi-Tinabo-Patumbukang sebesaaar…… oke nanti diakhir tulisan ini aku buatin ringkasan cost perjalanan ini :*

Melaut ke Pulau Tinabo menghabiskan waktu sekitar 4 jam dari Kayuadi. Kapal besar milik Bang Sirajo terasa sangat mewah untuk kami berempat. Serasa orang kaya pake banget yang menyewa kapal besar untuk liburan, padahal nyatanya kita sesak lahiriyah dan batiniyah. HAHAHA ^n^

Next time guys, kalau kalian berniat mau ke Takabonerate, silahkan tanya ke Bang Sirajo kapan waktu yang tepat untuk kesana karena beliau tau kapan ombak yang bagus. Yang pasti, saranku jangan kesana pas libur lebaran kayak kami ini, nyusahin banget sebab banyak pemilik kapal yang menolak berlayar di moment lebaran yang ingin berkumpul dengan keluarga. Jadi jangan sok ngide seperti kami ya guys! Hahaha
Makanan wajib saat kunjungi Selayar: nasi santan + ikan bakar mmm..endesss..
Lokasi: "Warung Kita", Wisata Kuliner, Pelabuhan Benteng
Oiya, kami kedapatan personil baru dalam perjalanan ke Tinabo ini. Berkenalan di kapal saat menuju Kayuadi, Risda, remaja perempuan yang baru saja lulus SMK ini hampir “menipu” kami dengan wajah polosnya yang pendiam sekali selama perjalanan Benteng-Kayuadi. Nyatanya, anak ini bukanlah tipikal anak kalem, melainkan cerewet, aktif, pintar (bangganya Risda ketika bisa mengalahkan aku dalam permainan kartu uno ^n^), dan yang paling terpenting adalah jago menghabiskan makanan!! Ketika dia bilang lapar dan makanan datang, jadilah dia orang pertama yang menyendok nasi dan lauknya. Well, kami menikmati kepolosan anak itu dengan saling melemparkan candaan. Oh, Risda! Aku cemburu karena 3 laki-laki yang bersamaku ini sudah merindukanmu ketimbang aku, bahkan baru seminggu dari kita berpisah. Deng! Becanda ding! Aku juga kangen anak ini, sampai rasanya pengen nyuruh bantuin cuci baju di rumah #eh

Formasi kiri ke kanan: Suryo, Diana, Risda, Melvin, Roni
Ok, cukup sekilas cerita kepolosan anak baru di geng kita *ceileh uda jadi gengster?* Wkwkwk
Kami sampai di Tinabo dengan seutuh hati nya selamat pada sore hari dengan mata lebar menatap Tinabo, berdecak-decak kagum, sambil berulang kali menyerukan “Tinabo Harga Mati” secara bergantian. Kemudian cekrak cekrek ambil foto, berganti baju siap-siap menyelami hati dia ke pesisir laut Tinabo. Tidak perlu ke tengah laut untuk bisa mencari spot snorkel di Kepulauan Selayar ini. Karena pesisir lautnya masih banyak karang-karang cantik dengan beraneka ragam ikan warna-warni. Dan memang benar bahwa Tinabo yang terbaik bahwa kita saja masih bisa melihat kasat mata jauh berpuluh-puluh meter ke bawah palung.

Sesuatu banget ya Pulau Tinabo! ^n^
Tapi kalian harus sangat hati-hati snorkel di Tinabo, karena sebagian besar pesisir lautnya sangat dangkal, kamu bisa berdiri diatas karang dan airnya hanya sepinggang orang dewasa bahkan setelah sekitar 20 meter lebih dari pinggir laut. Dan tidak seperti di Selayar yang punya banyak bulu babi yang bergoyang-goyang gemulai di sela-sela karang laut, di Tinabo tidak sama sekali ditemukan bulu babi.
Cuci mata yang keren begini nih, traveler \^n^/
Satu hal yang menjadi ciri khas Pulau Tinabo adalah banyaknya bayi-bayi ikan hiu yang tidak mungil karena badannya saja lebih besar dan panjang daripada betisku. Mereka bayi-bayi manja seperti aku *uhuk* yang main-main di pinggir laut, bukan di tempat penangkaran yaaa. Itu dikarenakan kebiasaan orang-orang yang berkunjung ke Tinabo sambil memberikan makanan untuk bayi-bayi hiu tersebut, jadilah mereka senang berada di pinggiran laut. Badannya saja yang besar, bayi-bayi hiu sangat pemalu jika di dekati dan gampang terusik dengan suara berisik, kecuali kamu punya makanan untuk mereka. Malu atau songong sik? Hahaha… Dan tenang saja kamu tidak perlu takut digigit karena bayi-bayi hiu ini nurani ke-kanibalan-nya belum ada. Tapi jangan coba-coba kamu nyemplung dengan ada bagian tubuh yang berdarah yaa atau bagi yang cewe sambil bawa tamu bulanannya, siap-siap aja dengan kejadian terburuk. So, be a smart traveler ya, guys!
Baby shark do do do do do do do
Bawah laut Tinabo. Airnya jernih banget kan?? ^^
Terakhir, sunset di Tinabo super gilak! Seperti tidak ada pembatas apapun antara bumi dan langit, matahari yang perlahan turun dengan anggun menyebarkan cahaya oranye sempurna keseluruh langit. Rasanya mata tidak rela berkedip bahkan untuk sekejap. Belum pernah ku temukan di tempat wisata sebelumnya, apalagi di Jakarta. Tidak hanya di Tinabo sebetulnya, di perjalanan pulang menuju Selayar dan di Makassar pun kami masih mendapatkan warna sunset oranye tersebut, dan ku sebut sebagai sunset-khas-laut-Makassar yang tidak ada duanya. :3
Sunset terbaik yang pernah ku temui; Tinabo Island, Selayar, Makassar

Yesss… selesai sudah perjalanan ke Tinabo ini. Next time jika masih diberi kesempatan, aku mau ke sana lagi.. :D karena selain Tinabo-Harga-Mati, masih banyak pulau di kawasan Takabonerate tersebut yang menunggu untuk dikunjungi. :3:3

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme!

Btw, klik link dibawah ini untuk melihat video singkat perjalanan kami ke Tinabo yang dibuat oleh Bang Melvin ya, guys! Kalian bakal lengkap mupengnya deh. Hehehehe
Paradise of Takabonerate
Laut Tinabo tampak atas diambil dengan drone-sponsor-Bang Melvin. Sungguh takjub!
Sunset oranye Tinabo Island yang tak terlupakan :3
Pasir putih dan warna soft laut Tinabo ^.^
Sunrise di Tinabo Island :D
Just jump as high as you can to reach highest happiness :D
Sayang-dibuang ^n^
Oh iya! Nyaris lupa membeberkan ringkasan biaya perjalanannya. Let’s check in the below guys!

Sewa mobil dari Terminal Malengkeri ke Pel. Bira: IDR 400k
Tiket kapal laut Pel. Bira – Pel. Pammatata (4 orang): IDR 96k
Penginapan di Selayar 2x & Kayuadi (incl. makan): IDR 175k + 150k + 300k
Sewa kapal besar Kayuadi-Tinabo-Patumbukang: IDR 5.000k
Sewa mobil di Selayar 2x + bensin + tips: IDR 350k + 250k + 100k + 100k
Sewa alat snorkel di Selayar + Tinabo: IDR 135k (2 orang) + 150k (3 orang)
Makan coto makassar (4 orang): IDR 124k
Makan nasi santan + ikan bakar (4 orang): IDR 130k (tergantung kalian pesan berapa banyak ikan)
Makan malam mie goreng di Tinabo (5 orang): IDR 240k (plisss kalian jangan makan mie di sana mahal banget x_x)
Sarapan 3 mie goreng + 1 nasi goreng di Tinabo: IDR 70k
Sewa travel dari Selayar ke Bandara Sultan Hasanuddin (4 orang) + charge masuk bandara: IDR 600k + 100k

Dan masiiih banyak lagi biaya-biaya dadakan lainnya… pokoknya total biaya kami Jakarta-Makassar-Jakarta sebesar IDR 10.248k, jadi kira-kira biaya per orang IDR 2.500k. Semakin banyak yang ikut akan semakin lebih murah share cost per orangnya :D Bagaimana tertarik ke Tinabo kah??

Catatan Tambahan:
Bang OG: yang mengantar kami selama di selayar sekaligus pemilik Dimensi Coffee
Bang Ruil: polisi yang betugas di Polres Selayar dan juga pemilik Dimensi Coffee
Bang Sirajo: pemilik kapal yang mengantarkan kami ke Tinabo Island

Jika kalian berniat ke Tinabo, mereka bisa membantu kalian guys! So, don't hesitate to contact me for more info! :D