Tuesday, August 30, 2016

BACKPACKER KE BANGKOK, THAILAND

Grand Palace, Thailand
Berbeda dengan blog-blog sebelumnya, kali ini aku ingin mengajak teman-teman berjalan-jalan selama tiga hari ke negara tetangga kita yaitu Thailand. Bersama 3 orang teman baru dan si empunya tour, untuk pertama kalinya aku traveling ke tempat terjauh selama umur hidupku. Sepanjang 3.090 km jauhnya dari Jakarta, dengan bahasa yang sama sekali aku tidak mengerti.
Bukanlah sebuah keputusan sulit bagiku untuk memutuskan ikut trip ini pada saat pertama kali membaca blog www.travelearn.com. Bermodalkan bahasa pemesartu bangsa, yaitu bahasa inggris, rasanya akan aman-aman saja. Yah, awalnya itulah yang aku fikirkan. Namun kenyataan selalu tidak semanis yang kau fikirkan. Ya bukan? :P
Cukup sulit berkomunikasi dengan warga Thailand terutama pada saat menyetop taksi, berbelanja di pasar tradisional dan di mall nya. Tak banyak dari mereka yang bisa berbahasa inggris. Tak jarang pulang kami ditolak supir taksi. Yah?! Sedih yah, sopir taksi aja menolak aku loh, wajar saja sampai sekarang aku masih men-single #eh >.<

Bandara KLIA2 & Stesen Sentral, Malaysia
Perjalanan ke Thailand menggunakan jalur udara dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur. Bandaranya masih cukup sepi, luas, dan mewah. Perjalanan dari KLIA2 ke KLIA1 menggunakan kereta. Keretanya pun sangat bagus dan terawat.
Jarak waktu transit cukup lama hampir 7 jam. Sehingga bersama Kak Teguh dan Teh Yati, kami sempat ke Stesen Sentral untuk sarapan yang dibarengi makan siang. Perjalanan memakan waktu hampir 2-3 jam dengan menggunakan bus antar kota, mirip jika kita ke Bandung dari Jakarta. Tiket bus ber-AC itu seharga 10 RM.
Stesen Sentral merupakan pusat dari semua bus di Malaysia. Kamu bisa menemukan bus jurusan mana pun di sana. Untuk driver, ticketing, serta knek nya didominasi oleh orang India. Berbeda dengan para driver bus di Jakarta, mereka tidak mengizinkan adanya kelebihan penumpang alias tidak boleh ada penumpang yang berdiri. Karena memang perjalanannya sendiri sudah sangat jauh sehingga memang akan melelahkan jika berdiri selama waktu hampir 3 jam. Jadi  bus hanya akan berangkat jika semua kursi sudah penuh tanpa ada yang berdiri.
Di Stesen Senter kami bertiga makan di rumah makan (lagi-lagi) India. Karena memang itu yang paling aman bagi aku dan Teh Yati sebagai muslim. Kami makan nasi briani seharga 12 RM. Porsinya sangat sangat sangat banyak. Nasinya menjulang tinggi dengan ayam pentung yang besar dan telur bulat. Rasanya? Enak! Sesuai dengan lidah orang Indo meski untuk bumbu tidak sekuat masakan kita. Hehehe.
Kiri ke kanan: Penampakan dalam kereta, bus, Stesen Sentral, Bandara KLIA2
Don Meuang International Airport, Bangkok
Pesawat kami mendarat di Bandara Don Mueang 17.30. Sudah semangat turun dari pesawat namun hati langsung mencelos ketika melihat antrian imigrasi. Sangat-sangat tidak tertolong keadaannya. Crowded! Kami selesai antri jam 19.45. Wah pegel nya bukan main berdiri. Betul-betul membuang waktu. Entah mengapa begitu banyak turis yang berkunjung terutama dari China. Entah mereka saat itu sedang libur panjang.
Kak Lisa dan suaminya sudah lebih dulu sampai di Bangkok. Kita berbeda penerbangan karena mereka terbang langsung dari Batam sementara kami dari Jakarta. Maka itu kami baru bertemu di Stasiun Phaya Thai. Jadi, trip ini berjumlah 5 orang yang termasuk tour guide nya Kak Teguh.
Suasana antrian imigrasi di Bandara Don Meuang, Bangkok, Thailand
Bus, Sky Train & Taksi di Thailand
Bus di Thailand banyak yang sudah tua penampakannya. Namun, emisi pembuangannya hampir tidak kelihatan. Sangat bersih karena mereka tidak menggunakan bahan bakar solar seperti kopaja-kopaja di Jakarta. Berjalan kaki lama di Thailand sangatlah nyaman karena udaranya yang masih segar dan polusi dari kendaraan masih sangat sedikit.
Teknologi kereta di Thailand belum secanggih di Singapore dan Malaysia, namun masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Indonesia. Untuk membeli kartu masuk kereta kita harus menukarkan sejumlah uang di mesin tiket yang dioperasikan sendiri.
Selain bus dan taksi, taksi merupakan kendaraan umum yang paling diandalkan untuk kemana-mana. Tarifnya tidak terlalu mahal namun yang memusingkan bagi turis kalau bertemu dengan driver yang tidak bisa berhasa Inggris. Driver di sana tak akan tega menolak penumpang. Kami sering sekali ditolak oleh mereka dengan 2 alasan: tidak bisa bahasa inggris dan kami  berjumlah 5 orang.
BTS Skytrain
Malam hari di Khaosan
Kami sampai di hostel di kawasan Khaosan sekitar jam 22.00. Kawasan ini mirip dengan Kuta, Bali. Banyak bule-bule, pub, dan makanan tradisional yang dijual di gerobak dorong. Gemerlap lampu disko, bule-bule yang mabuk sambil berjoget-joget, serta musik-musik barat terdengar keras dan saling mengadu di setiap pub. Malam itu jalanan full dengan para turis hanya sedikit celah tersisa untuk berjalan.
Aku sempat mencoba salah satu makanan khas Thailand yaitu Phad Thai yang mie-nya seperti kwetiau seharga 30 THB/porsi. Untuk rasanya tidak jauh beda dengan yang kita sering makan di tukang nasi goreng tiap malam di Jakarta karena bumbunya yang sama.
Kami makan malam di salah satu rumah makan di ruko-ruko pinggiran Khaosan. Aku mencoba Tom Yam asli Thailand dengan harga 100 THB. Well, lumayan juga rasanya. Meski jujur aku lebih suka tom yam yang dijual di Indo sebab rasanya yang sudah disesuaikan dengan lidah kita.
Khaosan Road, Phad Thai, Tom Yum Thailand
Wisata Grand Palace & Sleeping Buddha Temple
Dari Khaosan kami naik taksi menuju Grand Palace dengan argo sebesar 47 THB. Di Grand Palace inilah kami kembali kaget melihat turis yang membludak, sama dengan di antrian imigrasi. Betul-betul bukan tempat wisata yang nyaman ketika terlalu banyak orang karena jarak dari 1 temple ke temple lain terlalu berdekatan sehingga kami berdesak-desakan untuk bisa mengambil foto. Sepertinya semua pemikiran turis sama, yaitu ke Grand Palace pagi-pagi, alhasil di sana mirip pepes manusia.
Cuaca hari itu cukup aneh, sebentar matahari begitu silau kemdian mendung, bahkan sempat gerimis kecil. Cuaca aneh tersebut membuat pengunjung dibanjiri keringat. Komplek wisata ini cukup luas tempatnya namun tetap tidak seimbang dengan jumlah turis yang berknjung. Kami berjalan-jalan sekitar 2 jam lamanya. Kemudian keluar wilayah Grand Palace untuk berjalan kaki menuju Sleeping Buddha Temple atau Patung Budha Tidur Raksasa.
Grand Palace, Bangkok, Thailand
Patung Budha Tidur merupakan ikon umat Budha sehingga tak heran tempat ini menjadi target utama para turis. Namun, tak hanya di Thailand, Indonesia pun memiliki Patung Budha Tidur yang bertempat di Mojokerto, Jawa Timur. Jadi kalian tidak perlu jauh-jauh ke Thailand kalau ingin berkunjung ke Budha Tidur yah.
Sleeping Buddha Temple

Di hari ke-2 ini aku dan Teh Yati agak kesulitan mendapatkan makanan halal. Makanan yang dijual di pinggiran jalan wilayah Grand Palace mengandung minyak babi. Jadi kalian harus super hati-hati dalam memilah-milah makanan selama di Thailand yah. Bahkan Mc Donald’s, Starbucks, dan beberapa resto internasional yang ada di Bandara Don Meuang saja semua mengandung minyak babi. Makanan yang paling aman bagi aku dan Teh Yati adalah buah. >.<
Jajanan dan makanan pinggir jalan yang non-halal
Pusat Perbelanjaan Chatuchak
Di pasar ini terdapat banyak barang dengan harga murah meriah. Uniknya, antara satu toko dengan toko lainnya tidak memiliki model barang yang sama. Aku hampir tidak menemukan model pakaian di toko yang berbeda-beda. Jadi kita sebagai wanita yang suka membandingkan harga untuk mendapatkan harga termurah tidak bisa melakukannya di pasar ini. Jika kalian suka dengan barang tersebut langsung beli di toko tersebut atau jika kalian melewatinya maka kesempatannya pun akan terlewat. Karena belum tentu kan kalian bisa ingat posisi tokonya karena mengingat pasar ini sangatlah padat. Selain pakaian, di sini juga menjual segala macam oleh-oleh khas Thailand, pakaian adat khas Thailand, pajangan, dll. Aku ingin sekali membelu salah satu pakaian adat khas Thailand namun karena coraknya yang hampir sama dengan Kalimantan mengurungkan niatku. Aku tak bisa membedakan mana yang milik kita dengan yang milik Thailand. T_T Daripada salah beli lebih baik tak usah.
Pasar Chatuchak, Thailand
Cabaret Show Ladyboy
Malam harinya kami menonton Cabaret Show Ladyboy “Banci”. Untuk sampai ke lokasi Cabaret ini kami naik taksi. Awalnya kami semua senang karena driver nya bisa Bahasa Inggris. Namun, di sinilah ternyata kami bertemu dengan driver konyol yang mempermainkan turis. Driver taksi ini sengaja memutar-mutar perjalanan kami padahal dia sudah berbicara lewat telepon dengan petugas Cabaret untuk petunjuk jalan menuju lokasi.
Kami kesal karena driver itu malah menyalahkan kami dengan berkata bahwa kami yang memaksanya untuk mengikuti jalan yang diarahkan Google Maps dari handphone ku. Padahal dengan jelas kamis udah bilang bahwa Google Maps itu tidak betul-betul menunjukkan lokasi Cabaret nya maka dia harus tetap mengikuti instruksi yang diberikan petugas Cabaret lewat telepon. Belum lagi cara membawa mobilnya yang aneh dimana dia memainkan kopling dan rem bersamaan dengan terus lampu sein. Aku yakin betul itu cara curang dia untuk membuat argo kami mahal namun driver tersebut berkilah bahwa itu yang dia dapatkan dari sekolah mengemudi.
Setelah hampir 1 jam diputar-putar oleh driver tak sopan itu ditambah gaya menyetir yang menggangu kami, akhirnya kami sampai juga di Cabaret Show sekitar jam 21.30. Karena kami semua sudah kesal maka kami memutuskan tidak memberi tips untuk dia, ditambah lagi argo taksi sudah mendakati angka 200 THB. Driver itu berulang-ulang mengatakan maaf karena merasa tidak enak melihat wajah kami semua yang kesal.
Sambil membawa belanjaan yang berat kami berlari-lari menuju ruangan theater. Pertunjukan sudah setengah berlangsung. Aku terkagum-kagum dengan ladyboy yang show di panggung. Mereka menari-nari diatas panggung dengan gemulai bak wanita sesungguhnya. Setelah selesai show mereka menunggu para penonton di aula yang menuju pintu keluar. Disitu, mereka “memaksa” para penonton untuk berfoto bersama. Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya bahwa ladyboy akan mengajak penonton berfoto bersama lalu kemudian meminta sejumlah uang sebagai gantinya. Padahal kan mereka yang ajak kan? Aku sudah didekati oleh salah satu ladyboy, karena aku takut begitu melihat mereka secara dekat maka aku langsung ngacir menghindari mereka. Sayangnya, Kak Lisa dan suaminya kurang lihai menghindari sehingga menjadi korban foto dengan dua ladyboy. 1000 THB pun melayang. >.<
Cabaret Show, Ladyboy Thailand
Berbarengan dengan kejadian. Teh Yati baru menyadari bahwa kantong plastik belanjaan yang berisi oleh-oleh tidak lagi bersamanya. Kemungkinan terbesar tertinggal di taksi saat menuju Cabaret. Rasanya sudah hopeless ketika kita kehilangan barang di negara orang, tidak banyak yang bisa dilakukan. Teh Yati dengan wajah penuh ikhlas dan senyum kecil berkata, “Ya sudahlah, mungkin emmang aku nggak boleh beli oleh-oleh seperti kata suamiku”. Sementara aku dan Kak Lisa masih belum rela. Kami mah memang begitu orangnya. Huhuhu.

Malam hari di Ratchaprapop
Sebelum masuk ke hostel tempat kami menginap di malam ke-2, kami makan malam terlebih dahulu. Perutku sudah perih karena asam lambung naik dan maagh yang kumat karena telat makan sudah cukup membuatku frustasi saat itu. Syukurlah kami menemukan tempat makan halal. Di sini aku menemukan makan khas Thailand yang wajib kalian coba saat berkunjung ke sini mango sticky rice. Nasi di sini bukanlah nasi menurut kami tapi ketan putih yang rasanya sendiri sudah sangat manis lalu disirami susu putih yang disajikan bersama buah mangga yang sudah dipotong-potong. Well, rasanya endesssss banget. Aku yang memang penggila makanan manis langsung jatuh cinta. Tapi tidak untuk Kak Lisa yang kurang suka manis, sehingga makanannya aku yang habisin. Hehehe. untuk harganya, resto ini menghargai 130 THB. Lebih mahal dari pada yang aku beli di mall keesokan harinya yang hanya 100 THB. Tapi memang untuk rasanya lebih enak yang di resto itu.
Mango Sticky Rice & Fish Ball With Noodle
Pratunam Market
Berbeda dengan Pasar Chatuchak, Pasar Pratunam menjual barang-barang murah dalam pembelian jumlah banyak. Ketika kamu beli 3,6,12 pcs pakaian akan jauh lebih murah ketimbang kamu hanya beli 1 pc. Maka ini sangat cocok untuk reseller. Aku pun menemukan beberapa orang Indonesia yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali di sini. Model-model pakaian di sana sama dengan yang dijual di online shop tapi dengan harga yang 50% lebih murah. Ya tentu saja dijual mahal di Jakarta karena barang tersebut tentu harus dikenai bea cukai jika di impor ke Indonesia.
Pasar Pratunam, Thailand
Oleh-oleh khas Thailand
Kartu pos Thailand = 10THB
Gantungan kunci = 100THB / 6pcs
Magnet kulkas bentuk gajah = 100THB / 3pcs kecil, 40THB / 1pc besar
Kaos = 100 THB / 1 potong
Nestea rasa milk tea = 90 THB / 1 kantong / 13pcs >> Thai Tea yang wajib kalian beli :D
Permen rasa pandan dan mangga = 34 THB / 1 kantong
Manggo dried = 42 THB
Kaca bulat dua sisi = 100 THB / 3pcs
Pajangan gambar alam Thailand terbuat dari kain kanvas ukuran 100cm x 35cm = 100 THB

Kiri atas: Kendaraan Thailand, Tuk-tuk
Kanan ke kiri: Suami Kak Lisa, Kak Lisa, Diana, Teh Yati, Kak Teguh
Daaaaaan itulah ceritaku yang pertama kali melangkahkan kaki ke luar negeri tercinta ini. Pepatah yang berbunyi “rumput tetangga selalu lebih hijau dari pada rumput di halaman rumah sendiri” memang terdengar klasik di telinga kita. Kemajuan teknologi, budaya, bahasa, dll membuat kita selalu ingin tahu lebih jauh tentang negara orang yang kemudian berujung dengan membandingkan dengan apa yang kita miliki di sini. Namun satu hal yang aku selalu percaya bahwa semewah-mewah dan semaju-majunya kita hidup di (tempat) negara orang, tempat ternyaman selalulah rumah sendiri. Bukan begitu? :D

Terima kasih traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme!  :D

Wednesday, August 24, 2016

WISATA SUKU BADUY DALAM, BANTEN

Banyak cara bagi kita untuk menyambut hari kemerdekaaan negara kita. Umumnya, masyarakat merayakan 17 Agustusan dengan berbagai macam permainan tradisional; lomba makan kerupuk, memasukkan jarum ke botol, joget jeruk, balap karung, tangkap belut, dll; lomba tari tradisional modern atau dance, dan syukuran. Namun semakin berkembangnya negara kita, anak-anak muda pun semakin kreatif dalam menyambut hari kemenangan negara kita. Salah satunya dengan naik gunung dan mengibarkan bendera merah putih di puncak atau melakukan kegiatan bakti sosial atau lebih dikenal dengan sebutan baksos. Yang kedua yang kali ini aku lakukan.
Gerbang menuju Pedalaman Suku Baduy
 Awalnya tidak pernah terpikir olehku untuk merayakan 17 Agustusan dengan berbaksos. Beberapa teman pun mengajak untuk mendaki gunung, namun aku menolak karena mendaki tidak cukup satu hari sehingga perlu ambil cuti sementara aku tidak ingin ambil cuti lagi. Tepat jam 11 malam tanggal 16 Agustus 2016, aku mendapatkan panggilan telepon dari nomor telepon tidak dikenal yang ketika diangkat ternyata temenku, Ajeng.

“Besok lu kemana? Ada acara gak? Ikut kampus gw yuk baksos di Baduy”, celoteh cewek cerewet dari ujung line.
“Gak ada acara sih. Baduy di mana?”
“Banten……..”

Begitulah percakapan kami sampai pada akhirnya berujung pada penjemputan dari driver g*jek dan aku pun tiba di depan kampus USNI, Gancit 25 menit kemudian. Penculikan yang sungguh tidak romantis banget yah ><

Sesampainya aku di sana, rombongan 12 orang pun langsung berangkat menggunakan mini bus. Bus terasa begitu dingin sedingin hatiku karena jumlah penumpang yang sedikit. Perjalanan kami memakan waktu hampir 4 jam sehingga sampai di pintu masuk Baduy Luar langitnya masih gelap. Kami tetap melanjutkan tidur di bus sampai dengan matahari pagi menyapa bumi.

Menjelang jam 7 pagi kami semua turun dari bus untuk sarapan. Di pintu masuk Baduy Luar ini terdapat banyak warung makan, bahkan sudah mini market bermerk Alf*m*rt. Sekitar jam 7.30 kami melangkahkan kaki menuju Baduy Dalam bersama warga asli Baduy atau disebut jugaorang Kanekes. Mereka berjumlah 7 orang dengan ciri khas ikat kepala kain berwarna putih dan berjalan tanpa alas kaki. Juga pakaian mereka yang hanya berwarna putih dan hitam. “Memang hanya warna ini yang dibolehkan”, begitu jawab Kang Sapri ketika ditanya mengapa mereka tak seragam pakaiannya.

Fyi, pakaian yang mereka kenakan merupakan hasil tangan mereka sendiri yaitu dengan tenun. Untuk bertahan hidup, ibu-ibu bahkan anak perempuan berumur 10 tahun menenun kain menjadi selendang. Mereka juga turut membuat pernak-pernik seperti gelang, gantungan kunci, alat penghisap rokok yang semuanya dibuat dari alam seperti jeramian dan kulit buah-buahan.
Wisata alam Suku Baduy, Banten
Yak, kembali ke perjalanan dari luar menuju dalam Baduy. Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk orang-orang normal seperti kami, sementara bagi suku Baduy asli yang super kuat-kuat hanya membutuhkan 1,5 jam saja. T_T. Padahal mereka membawa begitu banyak sembako-sembako yang dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa perwakilan USNI. Ada beras, mie instan, tepung, dll.

Kami juga sering istirahat karena cuaca yang begitu terik membuat napas tersengal-sengal. Bagi beberapa teman dan aku yang sudah sering naik gunung *ecieee* medan menuju Baduy Dalam sebetulnya tidaklah begitu sulit. Bonus jalan landainya memang hanya sedikit karena didominasi oleh tanjakan, namun tanjakannya sebetulnya masih normal, ya lagi-lagi itu untuk kami yang sudah terbiasa hiking tidak untuk yang belum sama sekali pernah ya **colek Ajeng**. :P

Kaki tetap gemetar hebat, pangkal paha lelah menopang badan, napas sesak, jantung berdegup kencang, sementara keringat sebesar-besar biji jagung terus menerus mengocor di seluruh badan. Rasanya ingin menyerah saja hati ini sudah lelah. Entah berapa banyak kalori tubuh yang  berhasil dibakar dalam perjalanan panjang ini. Hahaha. Serasa sepanjaaaaang apaaa yaa. :P
Wisata alam, Suku Baduy, Banten
Kami juga sempat disuguhkan buah kelapa asli Baduy. Rasanya nggak ada bedanya kok dengan kelapa yang lain. Yang beda hanyalah tempat dan dengan siapa kamu menikmatinya *aih* Kami menyeruput air kelapa langsung dari batok kelapanya. Lalu untuk memakan bagian dalam kelapanya menggunakan kulit kelapa itu sendiri yang sudah di desain sebagus mungkin menjadi sendok berkat keahlian tangan para suku Baduy tersebut. Hehehe.

Perjalanan kami melewati beberapa desa dengan tujuan ke Desa Cibeo. Baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, rumah mereka yang mirip-mirip rumah panggung Minang ini masih terbuat dari kayu-kayu. Namun tetap terdapat perbedaan yang mendasari mengapa ada sebutan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Selama berjalan di perkampungan Baduy Luar, kalian akan mendapati jalan setapak yang memisahkan sisi kanan dan kiri rumah atau di hutannya sudah menggunakan batu-batu yang disusun rapi seperti paving block jika di Jakarta. Selain itu bangunan rumah-rumah kayu dan pagar mereka terlihat sudah menggunakan paku. Dua hal kasat mata ini yang paling dapat kami temukan.

Selain melewati perkampungan dan hutan, kami juga beberapa kali menyebrangi sungai meggunakan jembatan tinggi dan panjang yang terbuat dari bambu. Jembatan ini merupakan pemisah antara satu desa dengan desa lainnya. Awalnya, melihat jembatan yang tinggi itu, aku tidak punya perasaan apapun. Mungkin karena sibuk jeprat jepret dengan kamera baru *eeehhh* hahaha. Tapi ketika sudah menyebrang setengah jembatan, hati mencelos, air muka sudah mulai berubah, mata diusahakan tidak melihat ke bawah sungai hanya sampai sebatas bambu guna membantu kaki dalam memilih langkah. Kenapa begitu? Ya, karena jembatannya goyang tau! Gimana nggak mau goyang, karena ditengahnya tidak ada bambu yang dipasang ke sungai sebagai kaki-kakinya. Huhuhuhu. Aku deg-degan sambil nyerocos panik dan jujur saja hampir setengah lari demi ingin buru-buru sampai di ujung jembatan.
Sungai perbatasan antar desa
Jembatan kedua atau ketiga merupakan batas area Baduy Luar dan Dalam. Itu pertanda bahwa peraturan no electronics allowed pun diberlakukan. Suku Baduy Dalam masih memegang teguh peraturan leluhur kita sehingga entah belum atau tidak sama sekali bisa menerima adanya perubahan yang bersifat modernisasi. Mereka betul-betul masih menyatu dan bergantung pada alam.

Hal yang cukup menyentuh perasaan dan pikiran aku *ehem* adalah ketika kami mengobrol tentang pernikahan. Suku Baduy tidak mengizinkan perceraian. Mereka berpegang pada prinsip menikah sekali, menikah sekali, dan mati sekali. Lain hal jika pada perjalanan hidup mereka ternyata pasangan mereka meninggal, maka pernikahan kedua diperbolehkan. Duuuuuhhh romantis banget kan. Jadi sehidup semati bersama pasangan seperti di happy ending fairy tale betul-betul ada di sana. Baper sekali kau jadi jomblo hah! >.<
Suku Baduy :*
Fyi (lagi), warga asli suku Baduy ganteng-ganteng dan cantik-cantik loh parasnya. Kecantikan mereka betul-betul alami. Mungkin hal ini juga karena mereka tidak meggunakan bahan kimia sama sekali. Mereka mandi, mencuci baju serta piring hanya menggunakan air sungai. Dan kerennya lagi mereka tidak memiliki masalah dengan bau badan loh, yah kecuali kalo habis berpanas-panasan setelah menempuh perjalanan jauh ya. Hehehe. Maka dari itu tak heran jika mereka bisa hidup sampai dengan umur 126 tahun loh. Di rombongan kami pun terdapat bapak tua yang sudah berumur 60 tahun tapi wajahnya yang masih terlihat muda serta badannya yang kuat menuruku lebih cocok berumur 35-40an. Betul-betul natural and fresh! :)
Foto bersama sebelum setelah itu no electronic allowed
Nah tapi sayang amat disayang nih, karena mereka masih berpegang teguh pada peraturan yang dibuat leluhur menjadikan mereka tidak bisa mencicipi bangku sekolah. Pendidikan formal dianggap berlawanan dengan adat-istadat mereka. Seperti yang sebelumnya aku sebut bahwa anak perempuan berumur 10 tahun saja hanya menenun saja kegiatannya, sementara anak laki-laki membantu di luar. Ya, selalu ada plus minus di dalam hidup ini kan?

Tapi jangan salah sangka dulu. Meski tidak sekolah dan mungkin juga tak bisa baca tulis, mereka sudah sering main ke Jakarta loh! Jalan-jalan ke Mal Taman Anggrek saja mereka sudah cicipi. Hehehe. Bagaimana cara sampai di sana? Yap, hanya dengan berjalan kaki! Dan karena mereka sudah sangat terkenal sehingga mereka punya banyak kenalan di Jakarta. Mereka beristirahat di rumah-rumah teman-teman mereka. Seru kan? Jadi jika suatu saat kalian berkunjung ke Suku Baduy jangan enggan meninggalkan alamat dan nomor telepon karena mereka akan senang sekali mengunjungi kita. :D

Sesampainya di kampung mereka, kami beristirahat di rumah Kang Sapri. Aku sempat main-main di sungai yang airnya jernih sehingga dasar sungai bisa terlihat jelas. Sayangnya karena sudah tidak boleh menggunakan elektronik, aku pun tak dapat mengabadikan momen itu. :(

Tenaga yang sudah habis terkuras karena cuaca yang begitu panas membuat kami semua kelelahan. Beralaskan tikar yang terbuat dari bambu rasanya sudah cukup membuat kami tidur nyenyak serasa di hotel bintang lima. :D

Sekitar 1 jam kemudian, kami yang tertidur dibangunkan untuk makan siang. Melihat nasi putih di dalam bakul kayu, ikan asin dan mie goreng yang banyak dan tinggi menjulang di atas penggorengan membuat mata ini berbinar-binar. Mungkin mereka merebus sampai 20 mie instan karena itu betul-betul banyak.
Dengan lahap kami menyantap makan siang kami. Dan tak disangka-sangka, ternyata Kang Sapri and the genk memiliki porsi makan yang banyak. Mereka makan 3-4 kali lebih banyak dari pada kami. Wah! Hebat! Ya ini sesuai dengan kenyataan bahwa mereka berjalan tanpa alas kaki dan memikul barang-barang yang banyak di pundak mereka. Tenaga yang keluar banyak sudah sepantasnya dibayar dengan asupan makan yang banyak juga bukan? :)

Selesai makan siang, entah mengapa rasa ngantuk malah semakin besar. Kami semua tertidur lagi. Berbaris seperti ikan pepes kami menyelam ke mimpi masing-masing. Daniel yang sudah duluan ke alam mimpi terlihat sangat asyik karena suara mendengkurnya yang hebat cukup menganggu aku beberapa saat yang tidur di sampingnya. Hahaha.

Kami baru betul-betul bangun sekitar jam 4 sore. Karena memang tidak ada rencana untuk menginap karena esok harinya masih kerja dan kuliah, kami pun segera bergegas untuk pulang. Untungnya perjalanan pulang kami lebih cepat hanya sekita 1,5 jam. Ini karena kami tidak melalui jalur yang sama saat berangkat. Jalur pulang hanya melewati dua desa. Saat ditanya mengapa berangkat harus berjalan sejauh 4 jam (versi kami), salah satu dari mereka menjawab karena jalur berangkatlah yang merupakan jalur wisata karena melintasi enam desa jika tak salah ingat.

Bahkan Bapak Jokowi saja yang ingin membawa pasukan 10.000 orang untuk berkunjung ke Baduy Dalam saja masih dalam proses nego dengan warga  setempat dikarenakan mereka keberatan menerima tamu sebanyak itu. Selain itu mereka juga keberatan karena bapak Jokowi meminta untuk lewat jalur pulang kami sebagai jalur pergi dan pulang mereka di mana itu bertentangan dengan peraturan yang ada.
Dirgahayu Indonesia!
Baiklah teman-teman itulah pengalaman baruku. Bukan hanya wisata alam, aku pun belajar untuk lebih mencintai budaya sendiri. Aku begitu terkagum dengan adat-istiadat yang sudah dibuat oleh para leluhur kita. Lebih kagum lagi bahwa masih ada sekelompok orang/suku diantara jutaan ribu warga negara ini yang masih mempertahankan hal itu. Meski harus hidup terisolasi dari dunia luar namun mereka tetap bisa hidup di zaman modern ini. Tidak lain dan tidak bukan yaitu untuk tetap berada di dalam garis dan menjaga apa yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita. Selamat ulang tahun negaraku! Dirgahayu-71 Indonesiaku!

See you in the next tracesme! Keep spread love and fighting! :D

Friday, July 22, 2016

PERJUANGAN GUNUNG CEREMAI, KUNINGAN

Setelah hampir 1 bulan lamanya tidak ngayap kemana-mana termasuk naik gunung, akhirnya hasrat untuk mendaki tidak bisa dibendung lagi. :P H-7 sebelum lebaran, aku memutuskan meng-iya-kan ajakan teman yang bertemu dari Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Raya di FB untuk mengeskplor Kuningan, Jawa Barat. Gunung Ceremai (sering salah kaprah disebut Ciremai, termasuk aku ^,^) yang juga termasuk dalam perbatasan Kab. Majalengka ini dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut memiliki pesona tersendiri yang menjadikannya favorit banyak pendaki untuk mendakinya lebih dari satu kali.

Jalur pendakian Ceremai dapat ditempuh melalui 3 jalur yaitu via Palutungan dan Linggarjati dari Kab. Kuningan dan Apuy dari Kab. Majalengka. Aku menggunakan jalur pertama untuk mencapai Ceremai. Menurut teman-teman sependakian, jalur Linggarjati lah yang paling banyak membuat mereka mengucap syukur, karena jalurnya yang supeeerrrr gilaaa.. Kata mereka medannya sangat terjal dan curam dengan kemiringan antara 70-80 derajat, jauh berbeda jika dibandingkan jalur Palutungan dan Apuy. Namun, untuk jalur pendakian terpendek Apuy lah pemenangnya. Hehe.
Sudah rindu berat dengan mendaki >,<
Desi dan aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 7.15 pagi menuju stasiun Cirebon Prujakan. Aku sangat menikmati perjalanan 3 jam di dalam kereta api (1 jam pertama baca buku; 1 jam kedua tidur; 1 jam ketiga baca buku lagi). Aku dan Desi tidak satu gerbong apalagi satu kursi, kami terpisah karena maklumlah pakai tiket sisa-sisaan yang harganya 2-3 kali lipat lebih mahal daripada biasanya. >.<

Sesampainya di Cirebon Prujakan, kami bertemu dengan Bang Erwin di mana ia sudah lebih dulu berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 5 pagi. Harusnya kami bertiga dari Jakarta, namun karena sudah kehabisan tiket kereta api jadilah kami terpisah. Huhuhu.

Dari Cirebon Prujakan, kami bertiga naik kendaraan umum untuk sampai ke Terminal Cirendang, Kuningan; 1 kali angkutan umum dan 2 kali mobil elf. Satu teman lagi, yaitu Edy (inisiator pendakian ke Ceremai) mengikuti kami dengan motor. Fyi, begitu cintanya terhadap Ceremai, bersama kami ini Edy melakukan pendakian yang ke-6 kalinya ke Ceremai. Wah, kalau Ceremai saja setia ia daki terus apalagi kalo ia mengejar cinta cewek, pasti getol yah! Hahaha :P

Angkot pertama dari depan Stasiun Cirebon Prujakan harganya Rp 4.000/orang sampai dengan Terminal Cirebon, lalu  berganti dengan mobil Elf menuju terminal bayangan (aku namain sendiri karena gak tau namanya apa, hehehe) dengan membayar Rp 5.000/orang. Terakhir dari terminal bayangan itu kami berganti mobil Elf lagi untuk menuju Terminal Cirendang sebesar Rp 50.000 bertiga.

Sesampainya di Terminal Cirendang sekitar jam 1 siang, kami dijemput oleh satu orang teman yang tinggal di Kuningan, Alan, yang juga bergabung dengan pendakian ke Ceremai. Bersama-sama kami menuju pos pendaftaran Palutungan dengan masing-masing menggunakan motor. Alan dengan sangat baik memberikan tumpangan kepada kami dari Cirendang ke Palutungan dengan “memberdayakan” adik dan teman-temannya. Hehehe. Terima kasih banyak ya Alan dan teman-temannya :D

Tiket masuk ke Gunung Ceremai terbilang mahal yakni sebesar Rp 50.000. Itu termasuk biaya camp, asuransi, dan 1 kali makan. Sayangnya, di jalur Palutungan, kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sertifikat seperti di jalur Apuy atau Linggarjati.
Full team: Edy, Diana, Desi, Alan, Erwin
Pendakian Ceremai
Setelah makan siang dan menunaikan ibadah sholat, sekitar jam 3 sore kami memulai pendakian. Dengan di awali doa, dengan mantap kami melangkahkan kaki. Ini pertama kalinya sepanjang hidup aku menghabiskan hari lebaran kedua dengan mendaki gunung. Rasa gelisah di dalam benak dan rindu berjumpa dengan alam bebas membuat aku sangat antusias menjajaki Gunung Ceremai.

Seperti halnya gunung-gunung yang sebelumnya aku daki, pada awalnya pendakian disuguhi oleh hamparan sawah luas. Di sini budidayanya adalah sayur sawi dan aku hampir tidak mengenali bentuknya karena saking lebar-lebarnya daun tersebut *ngeles karena gagal menjawab tanaman apa itu* T.T
Pohon Ceremai bukan sih?
Selanjutnya, medan berubah menjadi terjal ketika melewati mata air di kaki gunung Ceremai. Napas mulai ngos-ngosan karena jantung yang berdegup kencang. Cuacanya cukup panas di Gunung Ceremai tidak seperti gunung-gunung sebelumnya yang selalu dingin. Udara sejuk dan segar tetap berhembus namun diiringi dengan keringat sebesar-besar biji jagung yang terus mengucur di sekujur badan. Ini kali pertama aku naik gunung tanpa menggunakan jaket.
Pos Cigowong
Setelah berjalan hampir 3 jam kami sampai di pos Cigowong bersamaan dengan waktu sholat maghrib. Ini merupakan pos pertama via Palutungan yang kami (kecuali Edy) kira merupakan pos ke-4. Satu hal baru yang aku pelajari di pendakian ini adalah jangan mudah percaya dengan kata-kata para pendaki. Mostly, mereka PHP a.k.a pemberi-harapan-palsu! Edy dengan “manisnya” mengiyakan setiap tanda-tanda yang kami temui selama pendakian ke pos Cigowong ini sebagai tanda pos-pos sehingga saat sampai di Cigowong kami kira sudah sampai di pos ke-4. >,<” Kami tahu dari tukang warung bahwa Cigowong merupakan pos pertama. T,T Semua mengerang sementara Edy hanya tertawa puas sambil minta maaf. Puas banget yah! Huft!

Pos Cigowong sangatlah luas. Banyak warung berdiri di sana, sehingga dijadikan tempat bersinggah bagi para pendaki yang kelelahan sebelum menuju medan pendakian yang lebih berat dari pada sebelumnya. Terdapat beberapa pendaki yang juga terlihat mendirikan camp di sana. Fyi, pos Cigowong merupakan lokasi sumber air dan selanjutnya tidak akan ada sumber air lagi sampai dengan di Goa Wallet (setelah pos 7). Jadi kalian harus memastikan persediaan air kalian cukup sampai dengan ke puncak Ceremai. Kami sempat kehabisan air di atas dan lumayan panik karena artinya selain akan kehausan, kami pun tidak akan bisa masak karena masak juga butuh air. T,T

Lalu kami kembali ke zaman dahulu, melakukan barter dengan pendaki lain di mana mereka kehabisan rokok. Hahaha. Seru juga yah kalau dipikir-pikir sekarang. Kami kehabisan air dan kemudian saya menyadari value of money doesn’t work there. Makhluk macam apa aku yang mengatakan kehabisan air merupakan hal seru. Ya tapi justru jadi ada cerita kan? Dari pada semuanya hanya lurus-lurus saja. :P

Setelah berleye-leye (read: sholat, tidur, makan gorengan; gorengannya rasanya biasa saja tapi entah mengapa terasa nikmat disaat lelah dan kedinginan *.*, minum susu, ngopi-ngopi :P) di pos Cigowong kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak jam 20.41. Udaranya lumayan dingin saat itu, mungkin karena kami hanya diam saja sehingga kami cukup menggigil dan semuanya serentak memakai jaket. Tapi seperti yang saya sebut di atas, Ceremai memiliki suhu yang aneh, udaranya dingin dan sejuk tapi juga panas, sehingga saya akhirnya kembali berkeringat di pendakian malam tersebut dan memutuskan melepas jaket karena benar-benar seperti di sauna. >,< Kalian boleh coba sendiri yah :P

Kami mendaki sekitar 2 jam lamanya dengan medan yang banyak menghabiskan banyak tenaga karena terus-menerus “dihajar” dengan tanjakan terjal yang medannya merupakan tanah yang cukup basah dan licin. Desi yang paling banyak berhenti untuk sekedar mengatur napas atau istirahat beberapa menit, sementara aku masih cukup kuat dalam hal menanjak (tapi selalu merengek-rengek waktu turun >,<). Pos ke-2 yaitu Kuta, pos ini sangat kecil dan tidak bisa untuk camping sehingga kami hanya melewatinya saja.
Salah satu medan pendakian Ceremai
Kami memutuskan untuk camp sesampainya di pos ke-3, Pangguyangan Badak. Sudah ada 2 tenda di atas sana. Seperti biasa, para lelaki mulai aksi yaitu mendirikan dua tenda untuk 5 orang. Mereka sibuk memasang-masang besi-besi sebagai tulang tenda, membuatnya berdiri, memastikan tidak ada besi yang kusut, menancapkan pasak di setiap ujung tenda, dan terakhir memasang flysheet di atas dan di antara kedua tenda. Yang perempuan? As usual, kami tim hore saja sambil pegangin senter :P
Pos Pangguyangan Badak, Ceremai
Menuju Puncak Ceremai
Sesuai perjanjian yang telah disepakati secara mufakat dan kekeluargaan *kayak rapat RT-RW yah :P* pada saat makan malam, kami melanjutkan pendakian jam 2.30 dini hari. Berbekal 1 tas carriel milik Alan yang isinya alat masak, 1 matras, makanan dan minuman secukupnya kami dengan penuh keyakinan dapat mencapai puncak Ceremai pada saat sunrise.

Karena tidak membawa beban hidup yang berat apapun kecuali Alan *hohoho*, kami semua sangat cepat mendaki meski medannya cukup terjal. Ya, pokoknya kamu jangan heran dengan Ceremai karena gunung ini terkenal dengan pendakiannya yang curam dan terjal apalagi kalau kamu lewat Linggarjati, siap-siap “terpesona”. :P

Tanpa hambatan kami melalui pos 4 - Arban dan pos 5 - Tanjakan Asoy selama 1,5 jam. Kami baru beristirahat di sana bersama 2 orang pendaki yang sedang ngopi. Mereka (Fakhri dan temannya) kemudian melanjutkan pendakian bersama kami. Pos selanjutnya adalah Pasanggrahan yang kami tempuh di 1 jam selanjutnya.

Kami semua beriringan mendaki dengan tempo mengobrol, bercanda, nyanyi-nyanyi covering'in lagu yang di stel bang Erwin, diam, dan begitu seterusnya. Lalu cahaya dari langit sudah mulai masuk dari sela-sela pohon-pohon pertanda sunrise sudah siap menyapa bumi. Namun, kami tak kunjung sampai di Sanghyang Ropoh (sepertinya ini adalah pertigaan tempat bertemunya jalur Palutungan dengan Apuy).
Sunrise nya dapet di perjalanan menuju Puncak Ceremai *,*
Edy pun bilang, “tak apa yah tak dapat sunrise karena sepertinya tidak akan sampai di puncak tepat waktu”. Jujur sih, aku kecewa berat, tapi ya mau bagaimana lagi, kalau mendaki bisa dengan metode naik-helikopter-sampai-puncak aku tidak perlu khawatir tidak bertemu sunrise, lah ini cuma modal kaki, sudah gitu kaki cewek lagi, gak ada apa-apanya dengan kaki cowok yang setrooooong. T,T

15 menit yang dijanjikan Fakhri untuk sampai di pertigaan Palutungan-Apuy dari Pasanggrahan pun menyedihkan. Menyedihkan karena lagi-lagi kami kecuali Edy tentu saja menjadi korban PHP pendaki lainnya. 15 menit (read: 2 jam) kemudian kami sampai di pertigaan yang di maksud. Wow! Aku jadi meragukan kelulusan matematika para pendaki ketika SD! Mereka berkilah, “ya kan untuk menyemangati teteh”. Duh, please ternyata meme tentang laki-laki kurang memahami wanita itu betul yah. Besok-besok yuk para lelaki, kita adakan konferensi untuk menyamakan “paramater penyemangat” supaya gak salah sasaran lagi kayak gini. Deal?! *sambil nodongin palu* :P
Pendakian menuju Puncak Ceremai >.<
Di pertigaan Palutungan-Apuy sudah cukup terik, kami kepanasan warbiyasaaaah. Sambil masih ngomel cantik kepada dua pendaki, Fakhri dan temannya, atas insiden 15 menit =  2 jam, aku, Bang Erwin, dan Alan kembali dijanjikan oleh Fakhri bahwa kita akan sampai di Goa Walet dalam 30 menit. Dengan menyamakan waktu di hp masing-masing *saking takut kena PHP lagi*, kami kembali memegang janji tersebut. Oiya, untuk Desi, ia butuh perjuangan super ekstra untuk “bergulat” dengan medan terjalnya Ceremai. Edy yang setia menemani Desi *uhuk* mempunyai cukup kesabaran untuk terus menyemangati. Fyi, Desi sempet nangis karena disuruh turun lagi sama Edy kalau memang tidak sanggup sampai puncak. Duh, cowok! Di gunung aja masih bisa bikin nangis anak gadis orang yah. ><
Goa Walet, Ceremai
Untunglah kami bertiga tidak jadi korban PHP lagi, sampai di Goa Walet sekitar 30 menitan dengan penuh susah payah. Dengkulku sudah super lemas, sementara kaki rasanya sudah mau copot. Kalau saja ada yang membuka jasa sewa kaki, aku pasti orang pertama yang akan sewa sebanyak 10 kaki. Sudah seperti pesan gorengan saja. Hahaha.

Perjuangan kami tinggal “satu tanjakan” lagi, yaitu puncak Ceremai. Hati sudah mencelos ketika melihat medan di depan mata begitu mengerikan. Ingin rasanya nikah saja *loh* :P Dengan menguatkan hati, tangan, dan terutama kaki-kaki rentan ini, aku melanjutkan pendakian. Sungguh medan terberat, bebatuan dan kemiringan 45 derajat. Mendaki di atas batu-batu merupakan pengalaman pertamaku. Duh, betul-betul mengalahkan pendakian ke gunung Butak bulan lalu. Super berkesan banget deh Ceremai ini. Summit terjal dan bebatuan merupakan perpaduan yang sukses buat jantung ini olahraga ekstra. >.<

Daaaan… Yeay!!!!!! Sampai lah aku di puncak Ceremai yang menyambut dengan angin yang supeeeer kenceng. Tanpa ada satu pohon pun, kecuali tanaman-tanaman bogel di sisi kanan, angin di ketinggian 3.078 mdpl ini bebas kesana kemari. Dengan lemas aku duduk di salah satu bebatuan sambil berpegangan kencang pada batu tersebut. Aku sedang menyatukan keberanian untuk berdiri di puncak Ceremai dan berusaha membaur dengan angin dan udara di sini.
Puncak Cereremai 3.078 mdpl
Selamat Desi, kamu sukses mencapai puncak Ceremai! :*
Hah! Ceremai merupakan pendakian terpanjangku dengan total pendakian hampir 13 jam yang berhasil aku kalahkan meski dalam pendakian ini aku termasuk banyak mengeluh. Tapi aku tetap bersyukur karena masih bisa mengalahkan rasa takut, emosi, dan lelah sehingga Tuhan membalasnya dengan pemandangan super menakjubkan. Thanks God! ^.^
Formasi: Alan, Erwin, Diana, Temannya Fakhri, Fakhri

Puncak Gunung Slamet mengintip mungil dibalik awan :*
Awan-awan gembul itu yang selalu bikin aku kangen mendaki ^.^
Terima kasih para traveler yang setia membaca ceritaku sampai sini. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme! :*:*:*