Thursday, June 9, 2016

MENYELAMI PULAU PAHAWANG, SURGANYA LAMPUNG

Pulang Pahawang… Yes, pastinya kalian sudah gak asing kan dengan wisata satu ini karena sudah cukup terkenal kok. Hehehe. Terletak di Lampung Selatan, wisata ini mulai eksis di kalangan pelancong nusantara tahun 2011 lalu. Keindahan bawah laut dan pasir putihnya memang menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak seperti naik gunung, bermain ke pantai bukanlah hal yang pertama bagiku. Karena aku sudah beberapa kali mengunjungi pulau-pulau sejak tahun 2010. Aku pun pernah mengunjungi Teluk Kiluan yang juga ada di Lampung Selatan. So, aku sudah gak kaget lagi tuh naik kapal titanic feri laut yang guedeeee banget untuk menyeberangi pulau Sumatera. ^,^
Teluk Kiluan, Lampung
Kalau tahun lalu aku ke Teluk Kiluan bersama sahabat-sahabat kesayanganku sejagat raya yang tiada lain dan tiada bukan ya cuma Mia dan Isma (sayangnya Luke gak bisa ikut karena suatu alasan). Nah, kali ini masih sama seperti trip sebelumnya di GunungPrau, aku ikut open trip lagi. Masih dari sumber yang sama, group FB Komunitas Traveller Indonesia, aku bertemu dengan TaPAK Adventure’s di awal April 2016.

Oiya, goal aku dalam menulis bukan cuma sekedar bercerita aja guys, but rather than to engage the reader to join with me, so you can feel what I feel on this trip. So, jangan bosan untuk scroll down sampai bawah yah :) :) :)

Berangkat dari Slipi Jaya
Trip bermain air laut ini mepo nya di Merak tanggal 20 Mei 2016 jam 23.00. Ini trip dengan jumlah peserta yang banyak banget, kurang lebih 25 orang terdiri dari 4 orang cewek cantik :P dan sisanya ya dikuasai cowok-cowok. Orang sebanyak itu di-leader-in oleh Mas Dany dan Mas Rasyid (nama gaulnya Mas Ocid, sama dengan yang di Prau). Jadi inget belum lama ini lihat meme di Mbah Google tentang:
“Pacar idaman itu tour leader. Puluhan orang aja dijagain, apalagi ngurusin kamu!”
“Pacar idaman ya tour leader. Sendal kamu ilang aja dicariin, bayangin kalo kamu yang ilang!”

Hahahahaha. langsung baper kan??! Bersyukurlah pacarnya Mas Dany yang sudah mendapatkan posisi aman di kehidupan Mas Dany *colek pacarnya Mas Dany yang aku kenal juga nggak tapi sok kenal*

Untuk sampai di Merak tepat waktu, aku naik bus dari depan Slipi Jaya. Aku berangkat bareng Kak Iqbal dan 2 temannya. Sementara gengnya Mas Ocid dan Mas Dany berangkat dari Bekasi. Meluncur dengan roket gojek, aku akhirnya sampai di Slipi Jaya jam 8 lewat. Berbekal tas ransel di punggung dan 1 tas selempang untuk menaruh barang-barang kecil yang penting seperti handphone, charger, tisu, kacamata, dan dkk. Aku cukup tergopoh-gopoh berjalan mencari yang namanya Kak Iqbal di pinggir jalan raya dengan modal mengingat profile pict Line. Lucunya aku sudah lewatin Kak Iqbal dua kali dan baru tahu itu dia setelah menyerah mencari dan menelponnya. Aku wanita yang kurang peka memang >.< Hahaha

Setelah berkenalan dengan Kak Iqbal dan Kak Anton, kami pun duduk ditangga yang terdapat di depan Slipi Jaya karena lelah berdiri menggendong-gendong tas. “Tunggu 1 temen aku lagi yah tadi soalnya aku tinggalin, masih dijalan sekarang”, ujar Kak Iqbal.

Selang 30 menit kira-kira, yang ditunggu pun datang dengan menggendong tas ransel kantor khas pria, yang super guede. Aku sempat membathin sendiri, “ini orang mau kerja atau mau liburan sih, tasnya gak santai banget”. Hahahaha. Nah, namanya Kak Iwan. Tapi katanya gak mau dipanggil kakak karena berasa tua padahal ia gak sadar wajahnya mendukung lho. *peace*. Kami pun segera maju ke pinggir jalan untuk menyetop bus apapun yang tujuannya ke Pelabuhan Merak. Sekitar 15 menit kemudian kami mendapatkan bus besar berwarna kuning bertuliskan Arimbi.

Kalau tidak salah ingat, harga tiket bus Arimbi ini Rp. 40.000,-. Selama di bus kami habiskan dengan mengobrol dan bercanda. Kami duduk di kursi paling belakang tepat sebelum pintu pemisah antara bagian ber-ac dengan toilet dan kursi yang smoking area. Kami berempat berasa yang punya bus, berisiknya bukan main, padahal penumpang yang lain menghabiskan perjalanan dengan tidur. Sebetulnya aku kebanyakan mendengarkan ocehan para lelaki ini, ketawa-ketawa sama joke mereka yang stupid banget. Hahaha. Baru kali ini aku ketemu gerombolan laki-laki super cerewet dan gak ada berhentinya ngoceh. Aku berasa kalah banget deh sebagai cewek yang juga cerewet. Awalnya aku rada jaim ketawa hanya pelan aja, tapi lama-lama kebawa suasana dan kebablasan deh ketawanya saingan sama para lelaki itu. ^,^ *keluar aslinya*
Sarapan saat menuju Ketapang (Format: Iwan, Anton, Iqbal, Diana)
Meeting point di Merak
Perjalanan menuju Merak ternyata cepet banget lho. Yang kami kira akan macet ternyata hanya sekitar 2 jam kami sudah sampai Merak, kira-kira jam 11 malam kurang lah. Di sana kami menuju meeting point di depan Indomaret, depan jalur menuju pintu keberangkatan pelabuhan. Di sana sudah ada Mas Dany, Mas Ocid, and beberapa yang lain (maaf lupaaak ^,^) yang menyambut kami. Sementara tim yang berangkat dari Bekasi belum datang.

Sambil menunggu mereka, aku yang sudah kelaparan karena belum sempat makan dari pulang kerja, langsung sigap mencari makanan. Pengen indomie! Hanya itu makanan yang aman dimakan di tempat baru, daripada nanti rasa masakan yang lain sesuai dengan lidah dan menghilangkan nafsu makan. Kami berempat mendapatkan warung paling ujung kiri yang memajang indomie di estalasenya. Aku yang sudah kalap, pesen 2 indomie, rebus dan goreng. >,< Sudah gak peduli malulah depan laki-laki bocor itu.

“Bagus Di, kamu memang butuh banyak makan biar cepet gede”, ujar Kak Iqbal sambil menepuk pundakku. Hahaha. Daripada nanti masih laper di kapal dan tahu sendiri harga makanan di atas laut itu meningkat 3 kali lipat dibandingkan dengan harga di darat cuy! Gak rela lah! :P

Setelah semua tim lengkap, dengan dipimpin oleh Mas Ocid, sekitar jam 12 malam kami berboyong-boyong mirip bebek menuju kapal bersiap-siap untuk menyelami new journey di seberang pulau sana. Yeaaayy!!! Dan untuk kali pertamanya aku merasakan sensasi sholat di dalam kapal di atas laut. Wow! Rasanya pusing! Hahaha. Apa lagi pas rukuk. Takut indomie yang aku makan tadi keluar pada saat gerakan itu! Ikhhhhhh ><. Untuk arah kiblatnya sendiri gak usah bingung ya teman-teman karena searah dengan perjalanan kita menuju Lampung, begitu juga sebaliknya waktu kembali ke Jakarta. :)

Tapi selain pusing, sisanya seru banget. Perjalanan malam hari di atas laut meski gak keliatan pemandangan apa-apa kecuali malam yang gelap pekat, ada angin kencang yang enak banget menerpa wajah. Seselesainya sholat, aku sempat beberapa menit berdiri di sisi kapal sambil berpegangan pada besi pembatas dan memajukan badan sedikit ke luar pembatas, hanya sekedar menyatukan diri dengan alam laut yang sudah hampir setengah tahun lebih tak ku sapa. Dengan pasti aku bisa merasakan betapa angin-angin berebutan ingin menabrak-nabrak wajahku. Kalau mereka bisa ngomong mungkin bunyinya kayak gini:
“Aku aku aku aku duluan yang mau tabrak dia yang halangin jalan kita”. Atau,
“Duh duh duh duh duh, apa-apaan sih manusia norak ini menghambat permainan kita aja, jadi berantakan kan arah kita sekarang”.

Hahahahahaha *belajar gila*
Dan suara mesin kapal yang berisik menjadi backsound memoriku bermain bersama para angin malam yang ku anggap mereka sangat ramah, yang tentunya tidak akan pernah aku lupakan. ^,^

Pelabuhan Bakauheni, Lampung
Perjalanan menyeberang ke pulau Sumatera dari pulau Jawa ini memakan waktu sekitar 2 jam. Rasa ngantuk yang seakan melekat di mata karena baru tidur sebentar, aku bersama tim dan penumpang lain dengan sempoyongan berjalan turun ke parkiran kendaraan di bagian bawah kapal untuk bersiap-siap menginjakkan kaki lagi di Lampung. Sambil menunggu kapal bersandar dengan sempurna di Pelabuhan Bakauheni ini, aku mengobrol dengan 2 teman cewek. Perkenalkan namanya Ulfah dan Evi. Mereka akan jadi teman sekamarku di homestay di Pahawang selama 2 hari ke depan bersama Delta. Sementara Delta lagi sibuk ngobrol sama cowok-cowok ketika aku bertukar cerita dengan Ulfah dan Evi.

Sekedar info, Ulfah ini keren lho, cewek tapi kerjaannya Information Technology alias IT! *proud for woman who can do man’s job* ^,^ Sedangkan Evi, si Nyonya Rizal, seru banget ngobrol sama cewek yang sepantaran sama aku ini. Memori yang aku ingat tentang Evi, dia hijaber yang betul-betul kalem pembawaannya. Bicaranya sangat santun, tipikal cewek Indonesia banget deh! Aku kagum sama Evi. Hehehe. Aku jadi kebawa kalem kalo lagi sama Evi dan Ulfah. Tapi mirip bunglon yang suka berubah warna kulit mengikuti warna alam sekitar, aku pun suka terlalu terbawa suasana si lawan bicara. Sering bisa jadi petakilan, apalagi kalo deket-deket Delta. Wkwkwkwkw. Intinya sih aku selalu menyesuaikan sikap dengan siapa aku berbicara dan berhadapan, supaya bisa nyambung. ^^ aslinya kalem kok, tapi masih belum sekalem Evi dan Ulfah. Mereka juwaaraa deh. :P
Our girls ^^ (Format: Ulfah, Delta, Diana, Evi)
Oke ngelanturnya kebanyakan nih. Hahaha.
Jadi pas sudah sukses mendaratkan kaki di Pelabuhan Bakauheni ini, aku bertanya ke Mas Ocid naik apa menuju Pulau Pahawang.
“Naik angkot sampe Ketapang, Diana. Dari Ketapang nyebrang laut pakai kapal nelayan ke Pulau Pahawang. Nanti kita dibagi 2 angkot yah. Mereka sudah standby di parkiran”, ujar Mas Ocid. Dingin malam yang menggigiti kulit, aku pun hanya bersuara “oooohhh” tanda mengerti. Pas liat mobilnya, aku mikir ini bukan angkot tau! Hahaha. Tapi mirip mobil gede TNI yang suka aku naikin setiap tahun pas kegiatan LDKS (latihan dasar kepemimpinan sekolah) ke luar kota, waktu jaman SMK dulu. Waktu perpisahan kampus juga naik itu kok. Hehehe. Nah tapi bedanya ini mobil versi kecilnya. Cuma serius aku bener-bener lupa nama mobil ini apa dan gak punya fotonya juga! Hiks banget!

Tapiiiii aku baru inget-inget sih, ini tuh mirip angkot legenda Jakarta jaman film Si Doel Anak Sekolahan tauuuuk!! Iyaaa!!! Betuullll!!! Bemoooooo…!! Hahaha cuma bedanya bagian depan mobil ini gak monyong kayak bemo dan jauh lebih modern modelnya. Hihihihi.

Fyi guys, sopir mobil carteran di Lampung ini merupakan sopir yang bernyali besar sehingga selalu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan manuver yang nggilani. Bagi yang lemah jantung, sangat tidak disarankan untuk duduk di depan di sebelah sopir kayak aku. Tapi karena aku sedang dalam melawan fobia ekstrim, maka aku harus duduk di depan. Lagi pula karena ceweknya 4, maka sudah pas dengan komposisi 2 cewek duduk di depan di masing-masing mobil. Akibatnya bersama Eva, aku menikmati kengerian atas keberanian si supir mengendarai kendaraan dengan caranya yang ekstrim. T_T

Pelabuhan kecil, Pelabuhan Ketapang
Nah sampai di sini sekitar jam 7 pagi lewat. Matahari sudah muncul manis dibalik awan menyambut kedatangan kami yang masih belum sadar dari alam mimpi. *aaiiiiihhhh*. Terutama yang cewek-cewek, rada lola disuruh ganti pakaian  untuk siap nyemplung aja gak paham-paham. Sampe beberapa saat kemudian tanya Mas Ocid dan barulah paham bahwa kami akan menyeberang ke Pahawang tapi sekalian mampir snorkeling juga. Hihihihi.
View Pelabuhan Ketapang
Seperti mobil, kapal pun kami dibagi dua kapal yang masing-masing bermuatan 10-12 orang. Aku sekapal dengan Iwan, Kak Anton, Kak Iqbal, Evi dan suaminya, Ulfah, Delta, Mas Ocid, dan beberapa yang lain ditambah 1 nahkoda dan 1 orang yang aku sebut sebagai asisten nahkoda. Fyi, belakangan si Delta cintak banget lho sama nahkoda nya, Bapake siapa gitu namanya, nah aku cintak banget sama asisten nahkoda nya, Mas Joe :* ciye ciye ciye. Puas kan kalian nanti ngetawain aku. Oke itu cuma bercandaan ya Mas Joe, tolong jangan diambil hati. Sebenernya yang naksir Mas Joe itu si Ulfah. *lho keterusan jujurnya* kali ini sorry ya Ulfah. Hehehe.
Suasana di atas kapal XOXO
Sudah sudah sudah, aku kebanyakan ngebanyolnya nih di sini. Haha. Habisnya, saat tulisan ini sedang dirancang posisi hati lagi sedih banget for a reason that I can’t tell u guys, jadi butuh banyolan supaya tulisan ini tetap bisa sukses rampung dan tidak mengecewakan pembaca. *curhat mode on*

Penyeberangan menuju Pulau Pahawang lumayan jauh lho, hampir satu jam lamanya. Selama di perahu kecil ini aku tiada puasnya memandangi laut luas dan pohon-pohon di pulau-pulau kecil yang bertebaran di tengah-tengah laut. Kamu mesti tahu bahwa Pulau Pahawang memiliki pasir putih putih putih banget, sudah gitu halus sehalus bedak baby. Serius :D

Belum lagi airnya yang super jernih. Dari atas kapal aja kita bisa lihat langsung terumbu karang dan ikan-ikan yang seliweran di bawah (tapi kalau pas lagi di tengah laut dengan kedalaman yang dalam banget gak bisa yah). Nah kalo dari pinggir pantai, pemandangannya itu warna hijau muda laut yang keren dan semakin menjauh menjadi biru tua maskulin. Akhhhhh cantiiik bangeeett *gilak sendiri* Sambil nikmatin pemandangan yang sekeren itu, sesekali aku nyanyi-nyanyi kecil sendiri, gak bakal kedengeran juga suara pas-pasan aku secara ketelen suara mesin kapalnya hahaha… ini lagu nya..
♪♪♪ Perahu kertasku kan melaju.. membawa surat cinta bagimu... kata-kata yang sedikit gila... tapi ini adanya ♪♪♪    Tahu kaaann?? :D :D

Snorkeling (Sesi 1), Pulau Pahawang
Sesampainya di spot snorkeling, aku dengan semangat bersiap-siap nyemplung. Bermodalkan alat-alat snorkel yang tediri dari kacamata snorkel lengkap dengan alat untuk bernapas, pelampung, dan kaki katak yang semua itu disewa seharga Rp. 70.000,-, aku pun siap menjadi manusia laut. Hahaha.

Sementara para cowok-cowok sudah berhamburan di air dengan cepat dan tanpa beban layaknya paus :P Aku yang tidak punya keahlian berenang sama sekali harus meminta tolong salah satu cowok di situ untuk bersiap menangkap hati aku yang mau turun ke air. Dan kemudian entah kenapa aku tiba-tiba saja bisa snorkel tanpa hambatan sama sekali. Aku bisa langsung melihat-lihat terumbu karang yang dihiasi ikan-ikan cantik dan ganteng (asumsi dari warna mereka ajah :P). Yah tapi sesekali aku masih kemasukan air laut ke kecamata melalui hidung karena maklum itu sering terjadi di kala kamu punya hidung mini >.<

Dan sumpah suwer sesuwer suwernya orang suwer, aku bersumpah pemandangan di bawah laut Pahawang itu yang terkeren seumur hidupku. Terumbu karangnya itu bikin gemeessss banget, cantik-cantik, dan bikin mata sehat lihatnya.
Jernih air laut dan terumbu karang Pahawang
Aku lihat banyak ikan, warnanya macem-macem dari mulai hitam, kuning, hijau, biru, merah, dll. Modelnya pun banyak, ada yang badannya kecil pipih, moncong hitam panjang, gendut-gendut, akkhhh macem-macem deh. Paling seneng ketika aku pegang roti atau nasi aku biarin di atas telapak tangan dan ikan-ikan itu langsung nyamperin karena pancingan makanan tersebut. Kena mulut-mulut kecil mereka itu rasanya lucu banget, kombinasi kesetrum kecil, dipatuk, merinding-merinding gimana gitu. Hahaha.

Di spot ini, terdapat plang untuk kebutuhan narsis para pengguna sosial media, yaitu plang bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Pahawang”. Berada di bawah laut di kedalaman kira-kira 3 meter lebih, aku pun tertarik untuk bernasis di sana. Awalnya takut banget secara aku gak bisa berenang. Ditambah untuk bisa nyelam ke bawah harus lepas pelampung, nanti di bawah ada besi yang bisa dijadikan pegangan hidup kita selama berada di bawah tanpa oksigen. Hiks!
Lelah setelah menyelami laut Pahawang :D
Well, ternyata di sinilah peran Mas Joe. Ia bertugas mengawasi dan membantu peserta trip saat snorkeling, terutama cewek-cewek. Aku terus memohon bahwa aku mau ke bawah tapi aku gak bisa berenang, jadi kalau aku lepas pelampung harus dipegangin. Dan yang aku ingat Mas Joe, Mas Ocid, dan Iwan sabar banget nge-iya-in ocehan ditambah rengekan aku yang mirip anak kecil minta dibeliin es krim. Hahaha. Sumpah itu takutnya gak main-main. Masalahnya di tengah laut tanpa pelampung dan gak bisa berenang. Gak mau kan saya pulang tinggal nama doang, astaghfirullah. T_T

“Nanti juga kamu akan ngambang sendiri kok, gak akan tenggelam”, ujar salah satu laki-laki.
Oke, akhirnya aku dibantuin lepas pelampung dan dipegangin sama Mas Joe *aaaciieeee* Tepat di depanku kira-kira jarak 1,5 meter, Mas Andy sudah siap dengan kamera underwater-nya untuk mengabadikan momen di bawah sana, lalu aku ditarik ke bawah sama Mas Joe dan ia memastikan 1 tanganku sudah menggenggam besi plang untuk kemudian ia lepas dan meninggalkanku di bawah.

Dengan merasakan tekanan air laut yang tinggi ditambah harus menahan napas karena tidak ada oksigen, aku tetap eksis dengan 1 tangan memegang besi sementara yang lain membuat jari peace ke arah kamera Mas Andy. Setelah yakin Mas Andy telah berhasil mendokumentasikan tingkahku yang jarang-jarang ini, sekitar 5 detik aku pun melepaskan pegangan tanganku dan secara otomatis badanku seperti tertarik naik ke atas. Kepala ku muncul ke permukaan air dan oksigen berebutan masuk melalui hidung dan paru-paruku. Waktu sadar sudah ada di atas aku cukup panik mencari pelampung ku dan untungnya Mas Ocid langsung membantu tanganku untuk meraih pelampung tersebut. Aaahhhhhh legaaa sumpah bisa berpegangan sama pelampung.
Thank's God I'm Here! :D
Sambil masih mengatur napas, aku berusaha mengingat momen-momen di bawah laut yang begitu cepat dan kemudian amazing sendiri karena ternyata bener kata mereka bahwa secara otomatis badan kita akan ngambang sendiri bukan tenggelam. Intinya cuma satu, jangan panik dan relax saja. Dan yes, aku kagum pada diriku sendiri. Finally, aku berhasil melawan rasa takut pada tenggelam karena tidak bisa berenang. Terima kasih Tuhan dan teman-teman yang jagain aku pada saat itu. Thank you for supported me and changed my perception :) *aaahhaa melow tiba-tiba*

Homestay & Pulau Kelagian Lunik
Setelah puas main di air berjam-jam, kami pun naik kapal lagi menuju homestayHomestay-nya tepat di pinggir laut. Jadi seru banget, kami makan siang, malam, pagi, Cuma sejengkal jaraknya sama air. Karena makanan disajikan di meja yang di taruh persis di pinggir lautnya. ^.^
Abaikan masa kecil kurang bahagia ini :P
Yang cowok menempati hampir 90% dari keseluruhan besar rumah itu, sementara yang cewek cuma kebagian 1 kamar ajah karena memang hanya berempat. Ruangan kami dipisahkan oleh pintu kayu yang diselot dari bagian kekuasaan cowok-cowok.
Pulau Kelagian Lunik (sisi kanan-kiri gayanya unik yah? :P)
Sore hari kami kembali menyeberangi lautan luas, mengunjungi Pulau Kelagian Lunik untuk melihat sunset ciri khas laut. Seperti aku sudah sebutkan di atas, bahwa pasir di sini bener-bener bagus bak bedak baby dan air lautnya super jernih. Kami di sini hanya memuaskan isi handphone dan kamera DSLR kami dengan foto sepuas-puasnya. Sampai akhirnya air laut sudah mulai pasang dan matahari sudah sempurna menghilang dibalik awan, kami pun kembali ke homestay.
Kim lagi mentorin kami untuk loncat dengan kacau^,^
Sunset at Pulau Kelagian Lunik
Setelah makan malam, rencananya mau bakar-bakar ikan. Karena kapan lagi makan ikan laut langsung tangkapan dari laut. Biasanya kan sudah kena pengawet duluan kalo di Jakarta. Si seksi berisik bin rempong, alias Delta, menagih uang patungan sebesar Rp. 10.000,- kepada semua peserta karena semuanya mau makan ikan bakar.

Bakar-bakar dijadwalkan jam 10 malam karena kami masih kekenyangan. Sambil mengisi waktu, sebagian ada yang main kartu, ngobrol-ngobrol, bikin coklat, dan ada yang tidur. Satu jam pertama aku sempat asik ikutan main kartu bareng cowok-cowok. Ada Delta juga yang bikin rame permainan. Aku yang gak ngerti main kartu dibantuin Mas Andy untuk bisa menang. Aku lupa deh jenis permainan kartunya. Ngerti juga nggak kok hahaha. Nah karena bosan menang terus *tolak pinggang* aku pun mulai mengantuk, angin laut seakan terus meniup-niup mataku dan tubuh meresponnya dengan meminta direbahkan. Mungkin juga akibat snorkeling yang terlalu kelamaan. Aku pun tak kuasa menahan kantuk, akhirnya pindah ke bale-bale tempat Ulfah sedang tidur. Di situ ada Evi, Mas Rizal, dan mas-mas yang lain *lupa nama maaf yah* yang sedang mengobrol sambil nikmatin coklat mereka.

Aku berpesan pada Evi, “aku tidur bentar yah, ngantuk banget”. Well, ternyata aku malah kebablasan dong! Delta bilang aku sudah dibangunin sama Ulfah, Evi, Mas Ocid untuk ikutan bakar-bakar ikan tapi kayak orang mati gak kasih respon apa-apa. Kasih respon sih dikit cuma “hmm.. iyaa…nanti aja..” Dan aku baru bener-bener sadar ketika dibangunin untuk pindah ke kamar. Sempoyongan jalan ke kamar, aku tanya “kita gak jadi bakar-bakar ikan yah?” *gubrak*

Sunrise, Snorkeling (Sesi 2), Go Home
Kolam renang laut :D
Besok paginya sambil nikmatin sunrise dan menunggu sarapan, beberapa dari kami berfoto-foto. Uda Herman, salah satu temen trip kami, ia sudah colong start sarapan duluan. Tapi ini sarapan berenang. Ia melompat ke laut yang masih pasang yang mirip kolam renang karena antara homestay dengan air laut hanya dipisahkan dengan batu-batu. Beda memang perenang pro sih, berenang di kolam ataupun laut gak ada bedanya, gas teruuusss.. hehehe.
Sunrise at Pulau Pahawang
Selesai sarapan (beneran sarapan makanan :D), kami berkemas-kemas. Ada 2 kegiatan lagi yang harus dilakukan sebelum akhirnya pulang sore nanti. Yaitu ke Pasir Timbul, tapi sayangnya karena air laut belum juga surut, kami pun hanya lihat saja dari kapal lalu nahkoda kapal kecil ini langsung menyarankan untuk ke spot snorkeling saja. Kami pun setuju.
Pasir Timbul ketika air laut pasang sehingga tidak kelihatan timbul X_X
Snorkelingnya masih sama, airnya sama jernihnya, ikan-ikannya sama lucu-lucu dan imutnya, dan terumbunya masih sama indahnya. Tapi untuk plang, ada lebih banyak plang di sini. Ada bertuliskan “Taman Laut Pahawang”, “Pulau Pahawang Wisataku”, dan “Thanks God I’m Here”. Dan di sini banyak ikan badut berciri khas oranye garis-garis hitam alias nemo lho! Lucu bener-bener mirip film Finding Nemo. Tapi nemo ikan pemalu karena banyak ngumpet di balik rumah-rumahannya (anemon laut). Hehehe. Gemesss.. ^.^
Jangan lupa menyatu dengan alam :D
See you guys. Nice trip nice people nice holiday ever :*:*
Oke friends, many thanks yah sudah mau membaca perjalanan keduaku di tahun ini yang puanjaaaaang banget.. Hehehe.. See you in the next tracesme yaa.. :*:*:*

Thursday, June 2, 2016

WISATA DIENG DAN GOLDEN SUNRISE GUNUNG PRAU


Berawal dari bosan karena kerjaan di kantor sudah mulai memasuki low season, aku pun mulai berencana untuk melakukan pembalasan dendam. Membalas dendam karena waktu tiga bulan ku di awal tahun sudah ku dedikasikan hanya untuk pekerjaan tercintaku :’)). Isenglah di Facebook, aku mencari-cari komunitas yang suka traveling atau pencinta alam. Daaan… dengan kekuatan radar yang diberikan dari Neptunus, *aaakkhhhhh* :P…. akhirnya ketemu juga deh tuh komunitas, dengan judul Komunitas Traveller Indonesia. *lalalalilili…lalalili*

Nah, disini bejibun deh tuh segala macem penawaran open trip, tiket pesawat, sampe perlengkapan travel dari orang-orang yang join komunitas ini. Maka dengan seru sambil angkat tangan dan mulai melambai-lambai girang aku mencari open trip yang paling pas dan cocok buat aku. Yang pertama pastinya adalah tujuan wisata. Awalnya cuma mau cari wisata cantik :33 ajah yang gak banyak habisin tenaga. Tapi, entah kenapa pas lagi scroll down, banyak juga yang nawarin open trip naik gunung. Naik gunung?? Iyahhh betul naik gunung… daaaaaan, gak tau kenapa aku jadi tertarik..

“Whaatt??? Lo mau naik gunung??? Yakin??? Capek lho..!! Ciyee…”, komentar salah satu temen. Temen gw satu ini rada gilaak emang, komentarnya gak jelas gitu, mengarah ke mencela, gak percaya atau memuji. T,T oke biarkan, skip…

Nah, akhirnya setelah membulatkan tekad dan bertanya pada hati menemukan open trip yang paling tepat baik dari segi lokasi, waktu, dan budget, aku berlabuh pada satu open trip dari “Explore Dieng” dengan tema open tripnya yang rada ngeselin -->> “Jomblo Atas Awan”. Kzl kaannn?? Iya kan?? Udah jomblo bangga lagi pake segala ada open tripnya? Apa bagusnya cobak??? Tapi… aku tetep mendaftarkan diri untuk ikut open trip.. *kyaaaaaaaa*

Udahlah lupakan temanya, yang penting aku mau melakukan sesuatu hal yang berbeda. Beda dari biasanya, karena biasanya aku punya sandaran hidup sekarang gak punya sebelumnya aku gak pernah suka dengan kegiatan outdoor yang sama dengan berat-berat. Aku termasuk anak manis yang gak mau susah, take a note yah, gak mau susah, bukan gak bisa susah, soalnya saya udah biasa hidup susah kok T,T

Naah, singkat cerita, tanggal 6 Mei 2016, berangkatlah aku ke Wonosobo via bus SinJay dari Terminal Kampung Rambutan jam 8 pagi dimana itu mundur 2 jam dari jadwal yang seharusnya. Zzzzzzz….. Oh ya, aku berangkat dari Jakarta bersama seorang teman yang mau ikutan setelah aku panas-panasin. Hahahahaha. Namanya, Hani. Eitsss, tunggu dulu, ini cowok! Gausah bingung, aku juga sama bingungnya kok. Katanya itu karena dia punya kembaran cewek, namanya Hana.. ^,^

Keesokan harinya, alias tanggal 7 Mei 2016, di depan terminal Mendolo kami di jemput jam 8 pagi oleh seorang guide yang bertugas menjadi leader di trip mendaki Prau ini dari tim Explore Dieng dengan mobil Elf putih. Tapi baru berangkat ke Dieng sekitar jam 10 lewat karena ada 2 orang traveller yang telat akibat macet. Total yang berangkat dari terminal Mendolo ada 6 orang termasuk aku. Selama perjalanan menuju Dieng, aku duduk di depan bersama pak kusir 1 orang teman baru, anak cowok, gak tau umurnya berapa, tapi pasti dia umurnya dibawah umur adik ketiga aku karena dia masih duduk di bangku SMA. Hahahaha.
Pemandangan jalan Dieng
Pemandangan perjalanan Wonosobo - Dieng (1)

Perjalanan dari Wonosobo ke Dieng memakan waktu sekitar 1 jam. Selama itu pula kami disuguhi pemandangan hijau nan asri sebagai pencuci mata yang gak ada bandingannya dengan apapun. Memandanginya membuat beban hidup, pikiran, dan lara hati bawaan dari Jakarta hilang untuk sejenak. ^,^ Jalur menuju Dieng juga gak kalah seru karena dipenuhi dengan naik turun naik lagi turun lagi belokan-belokan yang tajam pun bikin hati aku ngenes ngilu dan lumayan takut. Fobia akan ketinggian dan sesuatu yang ekstrim muncul lagi. Sempat terbesit dipikiran, apa bisa nanti menaklukkan Gunung Prau kalau baru begini aja udah mulai panik lagi. Tapi berusaha aku singkirkan rasa takut itu dengan hunting foto pemandangan aja bersama bocah sekolah samping aku. Hahaha.
Pemandangan perjalanan Wonosobo - Dieng (2)

Sesampainya di homestay di Dieng, kami bertemu dengan 4 orang teman yang juga akan bersama kami mendaki Prau. Selain itu ada juga 1 keluarga yang baru turun dari Prau. Mereka terdiri dari suami istri bersama 2 orang anak laik-lakinya yang kalau aku tebak baru sekolah di tingkat SD dan SMP. Wow! Keluarga keren yah, bisa mendaki bersama-sama itu rasanya pasti jadi liburan yang gak ada duanya. Mereka ini sudah sering mendaki gunung bersama-sama, apalagi si Ibu, sudah hobi dari jaman mudanya. Wow wow wow!! Aku juga amaze sama anak kecilnya yang kuat mendaki Prau, dan masa iya sih aku kalah sama anak kecil?? No way! ^,^ Dan sambil mendengarkan celotehan anggota keluarga yang semuanya suka ngobrol ini, aku mulai membayangkan, seru juga yah kalo nanti aku bisa punya keluarga kecil dengan hobi unik seperti ini. Ku nobatkan mereka sebagai keluarga seru bin ajaib yang pertama kali aku temui. *applause* :D:D:D

Trip Explore Dieng ini dimulai kira-kira jam 2 sore, karena terkendala oleh hujan yang gak berhenti-henti dari siang membuat acaranya ngaret banyak banget. Tapi sebelum ngetrip, kami makan siang yang juga ngaret di salah satu rumah makan disana, kalau gak salah ingat namanya Edelweis. Makannya prasmanan gitu dan untuk rasanya so so lah ya.
rumah makan edelweis
Sekilas rumah makan Edelweis

Setelah puas mengisi cacing-cacing di perut, kami pun meluncur ke tempat wisata Dieng yang pertama, yaitu Kawah Sikidang. Kawah ini masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang sehingga untuk mengunjunginya, wisatawan harus menggunakan masker agar tidak terganggu dengan bau belerangnya. Di pintu masuk kawah, sudah berjejer para penjual menawarkan masker, 10 ribu untuk 3 pasang.

Pemandangan Kawah Sikidang
Area depan wisata Sikidang
Menurut legenda, kawah ini terbentuk karena permintaan seorang putri cantik jelita nan rupawan bernama Shinta Dewi kepada calon suaminya yaitu Pangeran Kidang Garungan (pangeran dengan badan manusia dan berwajah kijang) untuk dibuatkan sumur sebagai sumber mata air di sana. Shinta Dewi memberikan waktu 1 hari untuk pembuatan sumur dengan niatan agar Pangeran Kidang tidak dapat memenuhi persyaratan nikah tersebut dan mereka batal menikah karena Shinta Dewi sebenarnya kecewa dengan penampakan Sang Pangeran. Namun, Pangeran Kidang yang ternyata mempunyai kekuatan sakti mandra guna ini mampu menyelesaikannya. Melihat hal itu Shinta Dewi tidak mau tinggal diam, karena takut Pangeran dapat menyelesaikannya maka ia memerintahkan para pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbuninya dengan tanah. Pangeran yang sudah tertimbun tanah galiannya sendiri pun dengan penuh amarah mengerahkan segala kesaktiaannya agar bisa keluar. Alhasil, sumur itu meledak sehingga tanah berhamburan keluar dan lama-kelamaan menjadi kawah yang diberi nama Kawah Sikidang.
Wisata Kawah Sikidang (1)
Pemandangan Kawah Sikidang
Wisata Kawah Sikidang (2)

Trail di atas Kawah Sikidang
Ada jasa sewa motor trail untuk yang mau rasain trek serunya di tanah Sikidang ini :D
Kawah diatas ini keren banget pemandangannya dan langsung saja kami sibuk ber-wefie. Tapi sayangnya akibat hujan mulai turun kami tidak bisa lama-lama, karena takut tidak bisa mencapai 2 tempat wisata lainnya. Kira-kira kami hanya 15-20 menit disana, kemudian langsung meluncur ke Telaga Warna. Tempat wisata ini sangat dekat lokasinya dengan Kawah Sikidang, tidak sampai 5 menit naik mobil. Sayangnya, saat sampai di lokasi, kami terjebak hujan besar sehingga tertahan di pintu masuk selama kurang lebih 10-15 menit. Sambil menunggu hujan, kami tetap narsis! ^,^

Gagal paham dengan posenya Mas Ocid ini ^,^
Di Telaga Warna, kami langsung foto-foto sebentar karena bener-bener deh alamnya kurang bersahabat, hujan teruuusss… Tapi, untuk telaga ini sendiri punya air yang berwarna-warni (saat disana warnanya sedang hijau), dilatar belakangi oleh gunung, dan dihiasi oleh kabut. Ciptaan Tuhan mana lagi yang bisa kau dustakan, nak?. :D Sayangnya kami kurang dapat foto yang memuaskan karena memang cuaca yang tidak mendukung. Maapkeun yah X_X
Telaga Warna Dieng
Bukan salah modelnya tapi salahkan yang ambil foto T_T *maksa*
Untuk legenda tentang Telaga Warna ini terjadi saat seorang Ratu penguasa samudra luas sedang mandi di Telaga Pengilon bersama putrinya yang cantik. Keduanya menyangkutkan pakaiannya di pepohonan dan menikmati air Telaga Pengilon yang jernih, berkilau, tenang, dan penuh kedamaian. Lalu, sekonyong-koyong datang angin kencang yang menerbangkan pakaian Sang Ratu dan putrinya yang berwarna-warni dan terjatuh ke bagian telaga yang lain. Sesaat air telaga itu berubah warna akibat terkena lunturan pakaian keduanya, sehingga terciptalah Telaga Warna yang suka berubah warna hijau, kuning, atau berwarna-warni seperti pelangi.

Kemudian, tempat wisata terakhir yang kami kunjungi adalah Kompleks Candi Arjuna. Kompleks yang ditemukan pada abad 18 ini memiliki luas 1 hektar dimana berdiri 4 candi yaitu Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Sembrada, dan Candi Srikandi. Candi Arjuna merupakan candi utama di kompleks ini yang juga diperkirakan sebagai candi tertua. Candi-candi tersebut dibangun oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno.

Komplek Candi Arjuna
Pemandangan Kompleks Candi Arjuna (1)
Komplek Candi Arjuna
Pasangan cinlok ^,^
Kami yang pastinya langsung mencari spot-spot bagus, seperti candi itu sendiri dan taman bunga-bunga untuk menghiasi kamera hp kami tanpa sadar dari hidung dan mulut sudah keluar asap efek super dinginnya disana bak di negeri Prancis. Hahahaha. Dan untuk kamu yang berminat megunjungi wisata di Dieng, sangat diwajibkan menggunakan jaket tebal ya kakak! ^,^
Pemandangan Kompleks Candi Arjuna (2)

Pemandangan Komplek Candi Arjuna
Sok tegar, padahal tangan udah beku itu :P
Setelah selesai hunting foto-foto keren, selesailah wisata Dieng ini dan kami pun kembali ke homestay guna bersiap-siap untuk acara utama dari open trip ini, yaitu mendaki Gunung Prau. :D:D:D Selesai menyiapkan segala macam peralatan dan perlengkapan mendaki serta mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan saat diatas, kira-kira jam 20.30 kami pun baru berangkat. Keterlambatan ini juga disebabkan hujan yang masih terus setia turun, hiks T.T Fyi, jumlah anggota yang berangkat ada 6 orang cowok dan 4 orang cewek yang dipandu oleh 3 orang tim Explore Dieng yang dipimpin oleh Mas Ocid, yang 2 lagi aku lupa namanya :’)

Sayangnya, 1 cewek, Vera, gak kuat untuk nanjak bahkan sebelum mencapai pos pendaftaran Prau. Ia mengalami sesak napas dan kepala pusing sehingga keputusan terbaik adalah menghentikan pendakian daripada nantinya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya Vera pun dijemput oleh tim Explore Dieng yang lain sementara kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendaftaran.
Mendaki Gunung Prau
Vera yang sedang duduk berjaket merah (maap kalo cuma punggung yang keliatan :P)

Sebetulnya pada saat perjalanan dari homestay ke pos pendaftaran itu, aku pun merasakan sesak napas. Apalagi ini kali pertamanya aku naik gunung. Meski sudah olahraga teratur tiap malam selama 1 bulan sebelum berangkat, tetap saja aku kaget. Aku bisa mendengar jelas suara tidak enak dari paru-paruku… hrooookk…hroooookk.. hrooookk.. mirip suara orang yang sedang tidur mendengkur, tapi ini sakit banget. Karena lumayan juga jalanan yang dilalui untuk ke pos pendaftaran, melewati perumahan warga yang salah satunya adalah menaiki tangga dengan jarak tinggi-tinggi. Tapi sewaktu menunggu jemputan untuk Vera, aku berusaha mengatur napas. Disarankan oleh salah satu teman untuk memakai salonpas dibatang hidung guna menghangatkan hidung dan supaya tidak terkena flu. Aku pun mengikuti saran itu. Dengan perlahan napasku sudah bisa teratur dan detak jantung pun sudah satu irama lagi. Selain itu, aku juga diberikan 1 sachet madu hisap untuk perjalanan ke atas. Madu ini berfungsi menghangatkan tubuh kita dan juga sebagai supply energi. Diinget-inget ya guys, bawa madu sebagai teman hidup konsumsi wajib kamu selama pendakian! ^,^

Sesampainya di pos pendaftaran Gunung Prau, kami menunggu sebentar saat Mas Ocid mendaftarkan nama kami. Selesai mendaftar, kita mesti kudu wajib harus berdoa dulu sesuai agama dan kepercayaan masing-masing supaya bisa selamat sampai dengan Puncak serta pada saat kembali turun. Maka berangkatlah kami dengan hanya tersisa 3 orang cewek, sementara untuk cowoknya masih dengan komposisi yang sama.

Aku menikmati perjalanan ke atas, sambil sesekali menyanyi-nyanyi kecil dan menghisap madu. Ada 3 pos dan 1 pos bayangan untuk mencapai puncak Prau. Jarak antara masing-masing pos bervariasi mulai dari 800 meter sampai dengan 4 km kalau tidak salah ingat. Tapi yang paling seru dari masing-masing pos ini adalah jalur pendakiannya itu sendiri. Jalur tiap pos memiliki ciri khas sendiri-sendiri.

Jalur dari pos pendaftaran ke pos bayangan 1 merupakan jalan setapak yang lumayan becek dan licin dimana kanan kiri masih terhampar sawah yang luas. Jalur dari pos bayangan ke pos 1 sudah mulai menantang dengan tanjakan yang tinggi-tinggi. Untuk tanahnya sendiri ada di beberapa spot yang becek namun masih aman untuk dilalui. Karena kami sempat khawatir hujan yang terus-menerus mengguyur Dieng seharian bisa menghambat pendakian kami. Aku pun memegang trekking pole dengan mantap dan ku percayakan segala hidupku kepada dia karena kalau sampai itu patah, maka bisa-bisa kelar hidupku. Astaghfirullah. T.T Sesampainya di pos 1 kami istirahat sejenak kira-kira 5 menit untuk menyelaraskan kembali kaki-kaki yang kaget, apalagi aku >,<

Dari perjalanan seru ini yang paling aku sukai adalah bagian saat menatap ke langit. Mata serasa dimanja dengan pemandangan bintang-bintang yang bertebaran di langit. Sumpah itu pemandangan terkeren seumur hidup yang kali pertama aku lihat!! Rasanya aku rela jika harus terdampar di hutan atau gunung asalkan aku bisa terus lihat pemandangan indah seperti itu. *lebay mode on*. Bener-bener menyejukkan hati dan memanjakan mata banget deh! Maklum berhubung di Jakarta gak pernah lihat beginian, jadi norak abis! Hahahahaha >,<”

Selanjutnya, dari pos 1 ke pos 2 jalurnya pun tidak beda jauh dengan jalur sebelumnya, namun yang berbeda ada banyaknya akar-akar pohon yang keluar dari tanah. Mesti hati-hati dalam melangkah karena banyak dari kami yang sering tersangkut kakinya karena akar-akar yang bervariasi ukurannya, termasuk aku. Nah lucunya, khusus jalur ini memiliki nama yang disebut akar cinta. Eyaaaaa…… ternyata akar cinta itu selain unik karena akar-akarnya yang ngintip-ngintip dari bawah tanah tapi juga bisa menjatuhkan hati eneng kita yang gak hati-hati dalam melangkah. Maka, sangat penting untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan agar tidak salah langkah jatuh disini yaa...
hiking ke gunung prau
Ngaso di pos 2 :D
Karena leader dari Explore Dieng, alias Mas Ocid, selalu berpesan bahwa ini pendakian santai, maka kalau ada yang lelah wajib bilang supaya semuanya break sejenak, jadi kami pun lumayan sering beristirahat. Istirahat 1 menit itu juga berharga banget loh dalam pendakian yang sulit ini. Hahahaha. Nah, setelah berhasil melalui akar cinta yang panjang dimana artinya kami sampai di pos 2, disini lah titik awal perjuangan kami yang paling berat dari jalur-jalur yang sudah kami lewati sebelumnya. Jalur pos 2 ke pos 3 ini sangatlah ekstrim. Apa yang kami takutkan perkara hujan seharian di Dieng ini pun terjadi. Trek yang kami lalui benar-benar top kacaunya. Tanahnya licin, becek, dan guess what? Yap! Betul! Kanan kiri udah jurang boookkk… >,< Kamu salah langkah dikit ajah, bisa kepeleset lalu jatuh ke jurang dan tinggal nama deh pulang ke rumah. Hiks! Gak mau kan kayak gitu? Jadi bener-bener deh buat kamu yang niatnya gaya-gayaan doang mau naik gunung mending ke laut ajah. Di gunung bukan tempat gaya-gayaan. Kamu mesti punya hati yang tulus, pikiran yang jernih, badan yang tegap, dan kaki yang kuat untuk bisa melewati medan pendakian yang bisa berubah-ubah setiap saat tergantung cuaca dan alam. Karena untuk mencapai sesuatu yang indah itu gak gampang dan kalau kamu mau mencapainya, maka seriuslah dalam mempersiapkan segala hal dengan baik dan terencana. *tiba-tiba sok bijak gini sih?*

Seperti yang sudah aku sebut diatas, jalur menuju pos 3 ini merupakan jalur terberat dari keseluruhan pendakian. Banyak dari kami yang tumbang selama disana, terutama yang cewek-cewek. Tapi alhamdulillah sekali lagi, aku jadi satu-satunya cewek yang gak jatoh selama pendakian ini…. Karena aku punya trekking pole. Nah, saran untuk teman-teman cewek yang mau mendaki, ada baiknya bawa trekking pole deh terutama untuk pemula seperti aku. Karena betul-betul membantu kamu berpijak serta mengambil keputusan tanah mana yang mau kamu injak.

Kami berjalan dan menanjak pelan sekali di jalur ini. Karena selain kondisi yang gelap, tanah licin, serta banyaknya peserta yang jatuh membuat kami harus benar-benar sabar, teliti, kerjasama, dan saling membantu. Sepanjang perjalanan ada 1 teman kami, Bang boy namanya, yang tidak membawa senter. Awalnya tidak terlalu masalah karena masih ada sumber penerangan dari cahaya bulan. Tapi, karena medan sekarang ini berat banget, maka cahaya senter sangat-sangat dibutuhkan apalagi jika mengingat temen kami ini punya berat badan yang mirip Hulk versi Indonesia. Hahahahaha. *peace Bang Boy*

Jadi selama perjalanan ini kami diiringi soundtrack yang berasal dari Bang Boy. Yang pertama, “yang di depan senterin dunk!”. Dan yang kedua, “dorongin dunk!”. HAHAHAHAHA *capslock jebol* 

Yah, jadi kami yang ada di depan pasti akan balik badan untuk senterin Bang Boy supaya gak jatoh. Tapi, ada saat aku posisinya dibelakang Bang Boy. Aku yang memang membawa senter mau berusaha nolongin Bang Boy dengan nyenterin jalan dia dari belakang punggungnya. Namun apa daya, badan ku yang tidak ada apa-apanya gak nyampe untuk nyenterin dia dari belakang. Jadinya lucu sendiri kalo lagi inget itu, mau niat nolongin tapi terhambat postur badan dua-duanya. Wkwkwkwk. Sampai sekarang pun, dua kicauan Bang Boy itu tetap jadi bulan-bulanan kami di group chatting whatsapp. Dan itu jadi bagian cerita dari perjalanan ini yang gak bakal bisa dilupain. XOXO.

Setelah melalui cobaan begitu berat di medan, akhirnya kami sampai juga di pos 3. Istiharat disini yang paling lama. Aku duduk di atas batu sambil mengatur napas, memasang koyo di punggung serta mengganti koyo yang di hidung karena sudah gak terasa panas lagi. Semua sudah mulai kelelahan. Mas Ocid pun sempat bilang bahwa trek menuju pos 3 tadi merupakan yang ter-ekstrim selama iamendaki Prau. Ia juga menyebut sangat bahaya sekali jalurnya, jika tidak hati-hati bisa saja tergelincir ke jurang. Dan kami pun mengiyakan pernyataan Mas Ocid. Kalau juru dakinya aja udah bilang ekstrim apa lagi aku yang baru kali pertama naik gunung. :’(

Menurut Mas Ocid, bukan karena faktor hujan saja yang mengguyur Dieng seharian tadi, tapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pendaki yang datang ke Prau di saat long weekend ini. Hal itu membuat tanah semakin lunak sehingga menjadi kombinasi ekstrim yang pas ketika hujan datang selama hampir sehari penuh.

Dan memang benar selama pendakian, tidak hanya tim kami yang mendaki, tapi juga banyak dari berbagai komunitas lainnya. Sesekali jika bertemu mereka saat sedang istirahat atau sebaliknya, kami saling bertegur sapa untuk sekedar bilang “permisi Bang, duluan ya Bang”. Dan aku menyimpulkan, menjadi pendaki gunung itu selain mesti punya kesabaran ekstra juga ramah-ramah yah! :D Terlepas dari kenyataan bahwa memang negara kita terkenal dengan orang-orangnya yang ramah-ramah. *mata bling-bling*. Wkwkwkwk.

10 menit kemudian kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Prau. Yeay!!! Jalurnya tidak separah yang sebelumnya. Hanya di beberapa spot yang tanahnya basah, namun untuk jalannya sendiri sudah mulai landai sehingga sudah tidak menyulitkan kami. Angin disini sudah mulai kencang. Daaaaannnn di suatu titik teratas 2565 mdpl nya Prau, kami pun sampaaaiiii….. *mata berbinar-binar*
membuat tenda di puncak prau
Suasana memasang tenda di Puncak Prau >,<
Dan aku rasanya ingin sujud syukur ketika sampai disana, ah! Sayangnya gak aku lakukan. Instead of I screamed at full speed! Kalah balapan motor liar juga! Disitu aku bener-bener syok, masih gak percaya aku bisa mencapai Puncak Prau bercampur dengan rasa senang, syukur, bahagia, takjub. Udah deh segala macem.. ^.^ Berkali-kali aku mengucapkan dzikir dan berterima kasih kepada Allah SWT atas izinnya untuk melihat pemadangan indah ini. Air mata udah menetes cuma karena malu langsung aku alihkan dengan berkali-kali teriak. :P :D

Udara di atas puncak Prau super super super dingin, ditambah angin kencang yang bikin badan merinding meski udah pakai jaket anti wind. Pas lihat arloji, waktu menunjukkan pukul 01.30 pagi. Pantes aja! >,< Tapi, aku mengabaikan waktu tersebut. Aku sambil mengucap syukur masih memandangi kabut, awan dibawah puncak Prau, dan lampu-lampu dikejauhan sana. Dalam hati mengucap, “Hi there, I’m here, how are you?” ditujukan kepada siapapun diluar sana. ^,^

“Yuk, cari tempat di bawah sana untuk buat tenda karena disini terlalu dingin”, teriak Mas Ocid. Memang anginnya super kenceng dan tapi masih ada saja yang berani buka tenda di atas puncak. Terlihat beberapa tenda sudah berdiri di sini. Kami pun beramai-ramai dengan badan yang sudah menggigil menuruni puncak ke arah bukit-bukit mirip bukit teletubbies. Setelah menemukan tempat yang cocok, segeralah laki-laki ketjee di tim kami dengan cepat membuat 4 tenda. 3 tenda untuk para laki-laki sementara 1 tenda untuk para perempuan.

Selesai membuat tenda, Mas Ocid langsung mengeluarkan keahlian ia yang selanjutnya, yaitu memasak di atas puncak gunung. *clap clap clap* karena setelah mendaki hampir 4 jam lebih, kami benar-benar kelaparan. Dengan sabar dan menahan dingin, Mas Ocid cukup telaten (hahahaha) membuat martabak mie dengan bahan-bahan yang tiada lain tiada bukan adalah mie dan telor saja. Sambil membuat martabak, sudah pasti kopi dan teh pun wajib dibuat untuk menghangatkan badan. Meskipun itu kopi kalo gak langsung diseruput dijamin langsung diselimuti angin malam nan dinginnya Prau alias berubah jadi es kopi.

Sumpah lho, makan nasi yang sudah dibawa dari Dieng dengan lauknya martabak mie, rasanya mmmmmm... yummyyy! Aku sangat menikmati makanan yang begitu sederhana terlihat tapi jadi berasa istimewa ditengah kelaparan dan kedinginannya Prau. Ini kali pertama untuk aku makan ditengah alam terbuka, disuguhi pemandangan alam yang gak ada duanya. Makan malam di restoran mahal di Jakarta gak bisa dijadikan bandingannya dengan makan malam bersama alam. Menikmati lautan bintang di langit, diselimuti udara dingin Prau ala-ala Prancis, dan semua itu bisa aku rasakan unlimited free. Rasanya capek mendaki gunung tadi terbayar disini, sampai tumpeh-tumpeh malah. :D

pemandagan langit di puncak prau
Diambil dari salah satu hp teman dengan model manual dan atur ISO :*
Sekitar jam 5 pagi, dengan mata ngantuk dan udara yang bikin badan menggigil banget karena dinginnya yang gak bisa ditoleransi, aku bersama beberapa teman beranjak keluar dari sleeping bag. Keluar dari tenda, langsung saja anginnya, wussssshhhh….. sensasinya gak ada dua nya memang Prau ini. Kami pun mencari view yang bagus untuk mendapatkan apalagi kalo bukan golden sunrise nya Prau. Dan itu keren banget! Udah deh gak ada lagi yang bisa bikin aku terpukau-pukau melihat lukisan Tuhan tersebut.
sunrise diatas gunung prau
Golden sunrise Prau..
bukit teletubbies Prau
Bukit teletubbies Prau :*

golden rise Prau
Diatas awan..
Begitulah sekilas pengalaman 2 hari ku berwisata di Dieng dan mendaki Gunung Prau. Untuk teman-teman yang berniat kesana, bisa tanya-tanya dengan tinggalkan comment di bawah yah. Atau bagi yang ingin menambahkan juga boleh. Hehehe. See you on the next tracesme :*:*:*

Sumber:

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/kompleks-candi-arjuna-kompleks-candi-terbesar-di-dieng