Thursday, June 9, 2016

MENYELAMI PULAU PAHAWANG, SURGANYA LAMPUNG

Pulang Pahawang… Yes, pastinya kalian sudah gak asing kan dengan wisata satu ini karena sudah cukup terkenal kok. Hehehe. Terletak di Lampung Selatan, wisata ini mulai eksis di kalangan pelancong nusantara tahun 2011 lalu. Keindahan bawah laut dan pasir putihnya memang menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak seperti naik gunung, bermain ke pantai bukanlah hal yang pertama bagiku. Karena aku sudah beberapa kali mengunjungi pulau-pulau sejak tahun 2010. Aku pun pernah mengunjungi Teluk Kiluan yang juga ada di Lampung Selatan. So, aku sudah gak kaget lagi tuh naik kapal titanic feri laut yang guedeeee banget untuk menyeberangi pulau Sumatera. ^,^
Teluk Kiluan, Lampung
Kalau tahun lalu aku ke Teluk Kiluan bersama sahabat-sahabat kesayanganku sejagat raya yang tiada lain dan tiada bukan ya cuma Mia dan Isma (sayangnya Luke gak bisa ikut karena suatu alasan). Nah, kali ini masih sama seperti trip sebelumnya di GunungPrau, aku ikut open trip lagi. Masih dari sumber yang sama, group FB Komunitas Traveller Indonesia, aku bertemu dengan TaPAK Adventure’s di awal April 2016.

Oiya, goal aku dalam menulis bukan cuma sekedar bercerita aja guys, but rather than to engage the reader to join with me, so you can feel what I feel on this trip. So, jangan bosan untuk scroll down sampai bawah yah :) :) :)

Berangkat dari Slipi Jaya
Trip bermain air laut ini mepo nya di Merak tanggal 20 Mei 2016 jam 23.00. Ini trip dengan jumlah peserta yang banyak banget, kurang lebih 25 orang terdiri dari 4 orang cewek cantik :P dan sisanya ya dikuasai cowok-cowok. Orang sebanyak itu di-leader-in oleh Mas Dany dan Mas Rasyid (nama gaulnya Mas Ocid, sama dengan yang di Prau). Jadi inget belum lama ini lihat meme di Mbah Google tentang:
“Pacar idaman itu tour leader. Puluhan orang aja dijagain, apalagi ngurusin kamu!”
“Pacar idaman ya tour leader. Sendal kamu ilang aja dicariin, bayangin kalo kamu yang ilang!”

Hahahahaha. langsung baper kan??! Bersyukurlah pacarnya Mas Dany yang sudah mendapatkan posisi aman di kehidupan Mas Dany *colek pacarnya Mas Dany yang aku kenal juga nggak tapi sok kenal*

Untuk sampai di Merak tepat waktu, aku naik bus dari depan Slipi Jaya. Aku berangkat bareng Kak Iqbal dan 2 temannya. Sementara gengnya Mas Ocid dan Mas Dany berangkat dari Bekasi. Meluncur dengan roket gojek, aku akhirnya sampai di Slipi Jaya jam 8 lewat. Berbekal tas ransel di punggung dan 1 tas selempang untuk menaruh barang-barang kecil yang penting seperti handphone, charger, tisu, kacamata, dan dkk. Aku cukup tergopoh-gopoh berjalan mencari yang namanya Kak Iqbal di pinggir jalan raya dengan modal mengingat profile pict Line. Lucunya aku sudah lewatin Kak Iqbal dua kali dan baru tahu itu dia setelah menyerah mencari dan menelponnya. Aku wanita yang kurang peka memang >.< Hahaha

Setelah berkenalan dengan Kak Iqbal dan Kak Anton, kami pun duduk ditangga yang terdapat di depan Slipi Jaya karena lelah berdiri menggendong-gendong tas. “Tunggu 1 temen aku lagi yah tadi soalnya aku tinggalin, masih dijalan sekarang”, ujar Kak Iqbal.

Selang 30 menit kira-kira, yang ditunggu pun datang dengan menggendong tas ransel kantor khas pria, yang super guede. Aku sempat membathin sendiri, “ini orang mau kerja atau mau liburan sih, tasnya gak santai banget”. Hahahaha. Nah, namanya Kak Iwan. Tapi katanya gak mau dipanggil kakak karena berasa tua padahal ia gak sadar wajahnya mendukung lho. *peace*. Kami pun segera maju ke pinggir jalan untuk menyetop bus apapun yang tujuannya ke Pelabuhan Merak. Sekitar 15 menit kemudian kami mendapatkan bus besar berwarna kuning bertuliskan Arimbi.

Kalau tidak salah ingat, harga tiket bus Arimbi ini Rp. 40.000,-. Selama di bus kami habiskan dengan mengobrol dan bercanda. Kami duduk di kursi paling belakang tepat sebelum pintu pemisah antara bagian ber-ac dengan toilet dan kursi yang smoking area. Kami berempat berasa yang punya bus, berisiknya bukan main, padahal penumpang yang lain menghabiskan perjalanan dengan tidur. Sebetulnya aku kebanyakan mendengarkan ocehan para lelaki ini, ketawa-ketawa sama joke mereka yang stupid banget. Hahaha. Baru kali ini aku ketemu gerombolan laki-laki super cerewet dan gak ada berhentinya ngoceh. Aku berasa kalah banget deh sebagai cewek yang juga cerewet. Awalnya aku rada jaim ketawa hanya pelan aja, tapi lama-lama kebawa suasana dan kebablasan deh ketawanya saingan sama para lelaki itu. ^,^ *keluar aslinya*
Sarapan saat menuju Ketapang (Format: Iwan, Anton, Iqbal, Diana)
Meeting point di Merak
Perjalanan menuju Merak ternyata cepet banget lho. Yang kami kira akan macet ternyata hanya sekitar 2 jam kami sudah sampai Merak, kira-kira jam 11 malam kurang lah. Di sana kami menuju meeting point di depan Indomaret, depan jalur menuju pintu keberangkatan pelabuhan. Di sana sudah ada Mas Dany, Mas Ocid, and beberapa yang lain (maaf lupaaak ^,^) yang menyambut kami. Sementara tim yang berangkat dari Bekasi belum datang.

Sambil menunggu mereka, aku yang sudah kelaparan karena belum sempat makan dari pulang kerja, langsung sigap mencari makanan. Pengen indomie! Hanya itu makanan yang aman dimakan di tempat baru, daripada nanti rasa masakan yang lain sesuai dengan lidah dan menghilangkan nafsu makan. Kami berempat mendapatkan warung paling ujung kiri yang memajang indomie di estalasenya. Aku yang sudah kalap, pesen 2 indomie, rebus dan goreng. >,< Sudah gak peduli malulah depan laki-laki bocor itu.

“Bagus Di, kamu memang butuh banyak makan biar cepet gede”, ujar Kak Iqbal sambil menepuk pundakku. Hahaha. Daripada nanti masih laper di kapal dan tahu sendiri harga makanan di atas laut itu meningkat 3 kali lipat dibandingkan dengan harga di darat cuy! Gak rela lah! :P

Setelah semua tim lengkap, dengan dipimpin oleh Mas Ocid, sekitar jam 12 malam kami berboyong-boyong mirip bebek menuju kapal bersiap-siap untuk menyelami new journey di seberang pulau sana. Yeaaayy!!! Dan untuk kali pertamanya aku merasakan sensasi sholat di dalam kapal di atas laut. Wow! Rasanya pusing! Hahaha. Apa lagi pas rukuk. Takut indomie yang aku makan tadi keluar pada saat gerakan itu! Ikhhhhhh ><. Untuk arah kiblatnya sendiri gak usah bingung ya teman-teman karena searah dengan perjalanan kita menuju Lampung, begitu juga sebaliknya waktu kembali ke Jakarta. :)

Tapi selain pusing, sisanya seru banget. Perjalanan malam hari di atas laut meski gak keliatan pemandangan apa-apa kecuali malam yang gelap pekat, ada angin kencang yang enak banget menerpa wajah. Seselesainya sholat, aku sempat beberapa menit berdiri di sisi kapal sambil berpegangan pada besi pembatas dan memajukan badan sedikit ke luar pembatas, hanya sekedar menyatukan diri dengan alam laut yang sudah hampir setengah tahun lebih tak ku sapa. Dengan pasti aku bisa merasakan betapa angin-angin berebutan ingin menabrak-nabrak wajahku. Kalau mereka bisa ngomong mungkin bunyinya kayak gini:
“Aku aku aku aku duluan yang mau tabrak dia yang halangin jalan kita”. Atau,
“Duh duh duh duh duh, apa-apaan sih manusia norak ini menghambat permainan kita aja, jadi berantakan kan arah kita sekarang”.

Hahahahahaha *belajar gila*
Dan suara mesin kapal yang berisik menjadi backsound memoriku bermain bersama para angin malam yang ku anggap mereka sangat ramah, yang tentunya tidak akan pernah aku lupakan. ^,^

Pelabuhan Bakauheni, Lampung
Perjalanan menyeberang ke pulau Sumatera dari pulau Jawa ini memakan waktu sekitar 2 jam. Rasa ngantuk yang seakan melekat di mata karena baru tidur sebentar, aku bersama tim dan penumpang lain dengan sempoyongan berjalan turun ke parkiran kendaraan di bagian bawah kapal untuk bersiap-siap menginjakkan kaki lagi di Lampung. Sambil menunggu kapal bersandar dengan sempurna di Pelabuhan Bakauheni ini, aku mengobrol dengan 2 teman cewek. Perkenalkan namanya Ulfah dan Evi. Mereka akan jadi teman sekamarku di homestay di Pahawang selama 2 hari ke depan bersama Delta. Sementara Delta lagi sibuk ngobrol sama cowok-cowok ketika aku bertukar cerita dengan Ulfah dan Evi.

Sekedar info, Ulfah ini keren lho, cewek tapi kerjaannya Information Technology alias IT! *proud for woman who can do man’s job* ^,^ Sedangkan Evi, si Nyonya Rizal, seru banget ngobrol sama cewek yang sepantaran sama aku ini. Memori yang aku ingat tentang Evi, dia hijaber yang betul-betul kalem pembawaannya. Bicaranya sangat santun, tipikal cewek Indonesia banget deh! Aku kagum sama Evi. Hehehe. Aku jadi kebawa kalem kalo lagi sama Evi dan Ulfah. Tapi mirip bunglon yang suka berubah warna kulit mengikuti warna alam sekitar, aku pun suka terlalu terbawa suasana si lawan bicara. Sering bisa jadi petakilan, apalagi kalo deket-deket Delta. Wkwkwkwkw. Intinya sih aku selalu menyesuaikan sikap dengan siapa aku berbicara dan berhadapan, supaya bisa nyambung. ^^ aslinya kalem kok, tapi masih belum sekalem Evi dan Ulfah. Mereka juwaaraa deh. :P
Our girls ^^ (Format: Ulfah, Delta, Diana, Evi)
Oke ngelanturnya kebanyakan nih. Hahaha.
Jadi pas sudah sukses mendaratkan kaki di Pelabuhan Bakauheni ini, aku bertanya ke Mas Ocid naik apa menuju Pulau Pahawang.
“Naik angkot sampe Ketapang, Diana. Dari Ketapang nyebrang laut pakai kapal nelayan ke Pulau Pahawang. Nanti kita dibagi 2 angkot yah. Mereka sudah standby di parkiran”, ujar Mas Ocid. Dingin malam yang menggigiti kulit, aku pun hanya bersuara “oooohhh” tanda mengerti. Pas liat mobilnya, aku mikir ini bukan angkot tau! Hahaha. Tapi mirip mobil gede TNI yang suka aku naikin setiap tahun pas kegiatan LDKS (latihan dasar kepemimpinan sekolah) ke luar kota, waktu jaman SMK dulu. Waktu perpisahan kampus juga naik itu kok. Hehehe. Nah tapi bedanya ini mobil versi kecilnya. Cuma serius aku bener-bener lupa nama mobil ini apa dan gak punya fotonya juga! Hiks banget!

Tapiiiii aku baru inget-inget sih, ini tuh mirip angkot legenda Jakarta jaman film Si Doel Anak Sekolahan tauuuuk!! Iyaaa!!! Betuullll!!! Bemoooooo…!! Hahaha cuma bedanya bagian depan mobil ini gak monyong kayak bemo dan jauh lebih modern modelnya. Hihihihi.

Fyi guys, sopir mobil carteran di Lampung ini merupakan sopir yang bernyali besar sehingga selalu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan manuver yang nggilani. Bagi yang lemah jantung, sangat tidak disarankan untuk duduk di depan di sebelah sopir kayak aku. Tapi karena aku sedang dalam melawan fobia ekstrim, maka aku harus duduk di depan. Lagi pula karena ceweknya 4, maka sudah pas dengan komposisi 2 cewek duduk di depan di masing-masing mobil. Akibatnya bersama Eva, aku menikmati kengerian atas keberanian si supir mengendarai kendaraan dengan caranya yang ekstrim. T_T

Pelabuhan kecil, Pelabuhan Ketapang
Nah sampai di sini sekitar jam 7 pagi lewat. Matahari sudah muncul manis dibalik awan menyambut kedatangan kami yang masih belum sadar dari alam mimpi. *aaiiiiihhhh*. Terutama yang cewek-cewek, rada lola disuruh ganti pakaian  untuk siap nyemplung aja gak paham-paham. Sampe beberapa saat kemudian tanya Mas Ocid dan barulah paham bahwa kami akan menyeberang ke Pahawang tapi sekalian mampir snorkeling juga. Hihihihi.
View Pelabuhan Ketapang
Seperti mobil, kapal pun kami dibagi dua kapal yang masing-masing bermuatan 10-12 orang. Aku sekapal dengan Iwan, Kak Anton, Kak Iqbal, Evi dan suaminya, Ulfah, Delta, Mas Ocid, dan beberapa yang lain ditambah 1 nahkoda dan 1 orang yang aku sebut sebagai asisten nahkoda. Fyi, belakangan si Delta cintak banget lho sama nahkoda nya, Bapake siapa gitu namanya, nah aku cintak banget sama asisten nahkoda nya, Mas Joe :* ciye ciye ciye. Puas kan kalian nanti ngetawain aku. Oke itu cuma bercandaan ya Mas Joe, tolong jangan diambil hati. Sebenernya yang naksir Mas Joe itu si Ulfah. *lho keterusan jujurnya* kali ini sorry ya Ulfah. Hehehe.
Suasana di atas kapal XOXO
Sudah sudah sudah, aku kebanyakan ngebanyolnya nih di sini. Haha. Habisnya, saat tulisan ini sedang dirancang posisi hati lagi sedih banget for a reason that I can’t tell u guys, jadi butuh banyolan supaya tulisan ini tetap bisa sukses rampung dan tidak mengecewakan pembaca. *curhat mode on*

Penyeberangan menuju Pulau Pahawang lumayan jauh lho, hampir satu jam lamanya. Selama di perahu kecil ini aku tiada puasnya memandangi laut luas dan pohon-pohon di pulau-pulau kecil yang bertebaran di tengah-tengah laut. Kamu mesti tahu bahwa Pulau Pahawang memiliki pasir putih putih putih banget, sudah gitu halus sehalus bedak baby. Serius :D

Belum lagi airnya yang super jernih. Dari atas kapal aja kita bisa lihat langsung terumbu karang dan ikan-ikan yang seliweran di bawah (tapi kalau pas lagi di tengah laut dengan kedalaman yang dalam banget gak bisa yah). Nah kalo dari pinggir pantai, pemandangannya itu warna hijau muda laut yang keren dan semakin menjauh menjadi biru tua maskulin. Akhhhhh cantiiik bangeeett *gilak sendiri* Sambil nikmatin pemandangan yang sekeren itu, sesekali aku nyanyi-nyanyi kecil sendiri, gak bakal kedengeran juga suara pas-pasan aku secara ketelen suara mesin kapalnya hahaha… ini lagu nya..
♪♪♪ Perahu kertasku kan melaju.. membawa surat cinta bagimu... kata-kata yang sedikit gila... tapi ini adanya ♪♪♪    Tahu kaaann?? :D :D

Snorkeling (Sesi 1), Pulau Pahawang
Sesampainya di spot snorkeling, aku dengan semangat bersiap-siap nyemplung. Bermodalkan alat-alat snorkel yang tediri dari kacamata snorkel lengkap dengan alat untuk bernapas, pelampung, dan kaki katak yang semua itu disewa seharga Rp. 70.000,-, aku pun siap menjadi manusia laut. Hahaha.

Sementara para cowok-cowok sudah berhamburan di air dengan cepat dan tanpa beban layaknya paus :P Aku yang tidak punya keahlian berenang sama sekali harus meminta tolong salah satu cowok di situ untuk bersiap menangkap hati aku yang mau turun ke air. Dan kemudian entah kenapa aku tiba-tiba saja bisa snorkel tanpa hambatan sama sekali. Aku bisa langsung melihat-lihat terumbu karang yang dihiasi ikan-ikan cantik dan ganteng (asumsi dari warna mereka ajah :P). Yah tapi sesekali aku masih kemasukan air laut ke kecamata melalui hidung karena maklum itu sering terjadi di kala kamu punya hidung mini >.<

Dan sumpah suwer sesuwer suwernya orang suwer, aku bersumpah pemandangan di bawah laut Pahawang itu yang terkeren seumur hidupku. Terumbu karangnya itu bikin gemeessss banget, cantik-cantik, dan bikin mata sehat lihatnya.
Jernih air laut dan terumbu karang Pahawang
Aku lihat banyak ikan, warnanya macem-macem dari mulai hitam, kuning, hijau, biru, merah, dll. Modelnya pun banyak, ada yang badannya kecil pipih, moncong hitam panjang, gendut-gendut, akkhhh macem-macem deh. Paling seneng ketika aku pegang roti atau nasi aku biarin di atas telapak tangan dan ikan-ikan itu langsung nyamperin karena pancingan makanan tersebut. Kena mulut-mulut kecil mereka itu rasanya lucu banget, kombinasi kesetrum kecil, dipatuk, merinding-merinding gimana gitu. Hahaha.

Di spot ini, terdapat plang untuk kebutuhan narsis para pengguna sosial media, yaitu plang bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Pahawang”. Berada di bawah laut di kedalaman kira-kira 3 meter lebih, aku pun tertarik untuk bernasis di sana. Awalnya takut banget secara aku gak bisa berenang. Ditambah untuk bisa nyelam ke bawah harus lepas pelampung, nanti di bawah ada besi yang bisa dijadikan pegangan hidup kita selama berada di bawah tanpa oksigen. Hiks!
Lelah setelah menyelami laut Pahawang :D
Well, ternyata di sinilah peran Mas Joe. Ia bertugas mengawasi dan membantu peserta trip saat snorkeling, terutama cewek-cewek. Aku terus memohon bahwa aku mau ke bawah tapi aku gak bisa berenang, jadi kalau aku lepas pelampung harus dipegangin. Dan yang aku ingat Mas Joe, Mas Ocid, dan Iwan sabar banget nge-iya-in ocehan ditambah rengekan aku yang mirip anak kecil minta dibeliin es krim. Hahaha. Sumpah itu takutnya gak main-main. Masalahnya di tengah laut tanpa pelampung dan gak bisa berenang. Gak mau kan saya pulang tinggal nama doang, astaghfirullah. T_T

“Nanti juga kamu akan ngambang sendiri kok, gak akan tenggelam”, ujar salah satu laki-laki.
Oke, akhirnya aku dibantuin lepas pelampung dan dipegangin sama Mas Joe *aaaciieeee* Tepat di depanku kira-kira jarak 1,5 meter, Mas Andy sudah siap dengan kamera underwater-nya untuk mengabadikan momen di bawah sana, lalu aku ditarik ke bawah sama Mas Joe dan ia memastikan 1 tanganku sudah menggenggam besi plang untuk kemudian ia lepas dan meninggalkanku di bawah.

Dengan merasakan tekanan air laut yang tinggi ditambah harus menahan napas karena tidak ada oksigen, aku tetap eksis dengan 1 tangan memegang besi sementara yang lain membuat jari peace ke arah kamera Mas Andy. Setelah yakin Mas Andy telah berhasil mendokumentasikan tingkahku yang jarang-jarang ini, sekitar 5 detik aku pun melepaskan pegangan tanganku dan secara otomatis badanku seperti tertarik naik ke atas. Kepala ku muncul ke permukaan air dan oksigen berebutan masuk melalui hidung dan paru-paruku. Waktu sadar sudah ada di atas aku cukup panik mencari pelampung ku dan untungnya Mas Ocid langsung membantu tanganku untuk meraih pelampung tersebut. Aaahhhhhh legaaa sumpah bisa berpegangan sama pelampung.
Thank's God I'm Here! :D
Sambil masih mengatur napas, aku berusaha mengingat momen-momen di bawah laut yang begitu cepat dan kemudian amazing sendiri karena ternyata bener kata mereka bahwa secara otomatis badan kita akan ngambang sendiri bukan tenggelam. Intinya cuma satu, jangan panik dan relax saja. Dan yes, aku kagum pada diriku sendiri. Finally, aku berhasil melawan rasa takut pada tenggelam karena tidak bisa berenang. Terima kasih Tuhan dan teman-teman yang jagain aku pada saat itu. Thank you for supported me and changed my perception :) *aaahhaa melow tiba-tiba*

Homestay & Pulau Kelagian Lunik
Setelah puas main di air berjam-jam, kami pun naik kapal lagi menuju homestayHomestay-nya tepat di pinggir laut. Jadi seru banget, kami makan siang, malam, pagi, Cuma sejengkal jaraknya sama air. Karena makanan disajikan di meja yang di taruh persis di pinggir lautnya. ^.^
Abaikan masa kecil kurang bahagia ini :P
Yang cowok menempati hampir 90% dari keseluruhan besar rumah itu, sementara yang cewek cuma kebagian 1 kamar ajah karena memang hanya berempat. Ruangan kami dipisahkan oleh pintu kayu yang diselot dari bagian kekuasaan cowok-cowok.
Pulau Kelagian Lunik (sisi kanan-kiri gayanya unik yah? :P)
Sore hari kami kembali menyeberangi lautan luas, mengunjungi Pulau Kelagian Lunik untuk melihat sunset ciri khas laut. Seperti aku sudah sebutkan di atas, bahwa pasir di sini bener-bener bagus bak bedak baby dan air lautnya super jernih. Kami di sini hanya memuaskan isi handphone dan kamera DSLR kami dengan foto sepuas-puasnya. Sampai akhirnya air laut sudah mulai pasang dan matahari sudah sempurna menghilang dibalik awan, kami pun kembali ke homestay.
Kim lagi mentorin kami untuk loncat dengan kacau^,^
Sunset at Pulau Kelagian Lunik
Setelah makan malam, rencananya mau bakar-bakar ikan. Karena kapan lagi makan ikan laut langsung tangkapan dari laut. Biasanya kan sudah kena pengawet duluan kalo di Jakarta. Si seksi berisik bin rempong, alias Delta, menagih uang patungan sebesar Rp. 10.000,- kepada semua peserta karena semuanya mau makan ikan bakar.

Bakar-bakar dijadwalkan jam 10 malam karena kami masih kekenyangan. Sambil mengisi waktu, sebagian ada yang main kartu, ngobrol-ngobrol, bikin coklat, dan ada yang tidur. Satu jam pertama aku sempat asik ikutan main kartu bareng cowok-cowok. Ada Delta juga yang bikin rame permainan. Aku yang gak ngerti main kartu dibantuin Mas Andy untuk bisa menang. Aku lupa deh jenis permainan kartunya. Ngerti juga nggak kok hahaha. Nah karena bosan menang terus *tolak pinggang* aku pun mulai mengantuk, angin laut seakan terus meniup-niup mataku dan tubuh meresponnya dengan meminta direbahkan. Mungkin juga akibat snorkeling yang terlalu kelamaan. Aku pun tak kuasa menahan kantuk, akhirnya pindah ke bale-bale tempat Ulfah sedang tidur. Di situ ada Evi, Mas Rizal, dan mas-mas yang lain *lupa nama maaf yah* yang sedang mengobrol sambil nikmatin coklat mereka.

Aku berpesan pada Evi, “aku tidur bentar yah, ngantuk banget”. Well, ternyata aku malah kebablasan dong! Delta bilang aku sudah dibangunin sama Ulfah, Evi, Mas Ocid untuk ikutan bakar-bakar ikan tapi kayak orang mati gak kasih respon apa-apa. Kasih respon sih dikit cuma “hmm.. iyaa…nanti aja..” Dan aku baru bener-bener sadar ketika dibangunin untuk pindah ke kamar. Sempoyongan jalan ke kamar, aku tanya “kita gak jadi bakar-bakar ikan yah?” *gubrak*

Sunrise, Snorkeling (Sesi 2), Go Home
Kolam renang laut :D
Besok paginya sambil nikmatin sunrise dan menunggu sarapan, beberapa dari kami berfoto-foto. Uda Herman, salah satu temen trip kami, ia sudah colong start sarapan duluan. Tapi ini sarapan berenang. Ia melompat ke laut yang masih pasang yang mirip kolam renang karena antara homestay dengan air laut hanya dipisahkan dengan batu-batu. Beda memang perenang pro sih, berenang di kolam ataupun laut gak ada bedanya, gas teruuusss.. hehehe.
Sunrise at Pulau Pahawang
Selesai sarapan (beneran sarapan makanan :D), kami berkemas-kemas. Ada 2 kegiatan lagi yang harus dilakukan sebelum akhirnya pulang sore nanti. Yaitu ke Pasir Timbul, tapi sayangnya karena air laut belum juga surut, kami pun hanya lihat saja dari kapal lalu nahkoda kapal kecil ini langsung menyarankan untuk ke spot snorkeling saja. Kami pun setuju.
Pasir Timbul ketika air laut pasang sehingga tidak kelihatan timbul X_X
Snorkelingnya masih sama, airnya sama jernihnya, ikan-ikannya sama lucu-lucu dan imutnya, dan terumbunya masih sama indahnya. Tapi untuk plang, ada lebih banyak plang di sini. Ada bertuliskan “Taman Laut Pahawang”, “Pulau Pahawang Wisataku”, dan “Thanks God I’m Here”. Dan di sini banyak ikan badut berciri khas oranye garis-garis hitam alias nemo lho! Lucu bener-bener mirip film Finding Nemo. Tapi nemo ikan pemalu karena banyak ngumpet di balik rumah-rumahannya (anemon laut). Hehehe. Gemesss.. ^.^
Jangan lupa menyatu dengan alam :D
See you guys. Nice trip nice people nice holiday ever :*:*
Oke friends, many thanks yah sudah mau membaca perjalanan keduaku di tahun ini yang puanjaaaaang banget.. Hehehe.. See you in the next tracesme yaa.. :*:*:*

16 comments:

  1. Replies
    1. Hahaha. Turun gunung untuk menyelami laut nih? :)

      Delete
  2. Diana, ini kayaknya endingnya kurang deh, kan pulangnya ketemu adik2 yang minta jajan sm kamu :p

    Sungguh pengalaman luar biasaa yaa kesini, kebersamaannya mantapp, hehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya Kak Iqbal betul jugaa >,< Aku emang gitu kak orangnya, gampang lupain kesalahan orang ke aku. #lho haha.
      Mantap ya Kak memang. Yuk ke Krakatau ikutan :P

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Diana, kayaknya pas gw ga bener semua commentnya. Hahahahha
    Btw, thank you and see you at next trip. :p

    K-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Bang Kim abisnya posenya ada2 aja. Candid-candid gimana gitu fotonya. Gpp ya Bang Kim *peace*.
      Terima kasih kembali. Ditunggu ngetripnya lg Bang! Hehe

      Delete
  5. Diana, kayaknya pas gw ga bener semua commentnya. Hahahahha
    Btw, thank you and see you at next trip. :p

    K-

    ReplyDelete
  6. Mbak minta mbak ...
    Anak kecil yg di lampung sampe liat tulisan lw ini. Haha

    Ok thanks dah sempet2nya nulis diana, temen2. See you next trip

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Om ganteng Om.. Bagi duit Ooom.. Buat makan Ooom.." Kemudian si anak kecil meleng dan gak sadar Oom gantengnya udah lompatin selokan demi pesen makanan abang-abang gerobak. Hahaha.
      Thank u Kak Anton. See u next triippp yaak..

      Delete
  7. Izin share ya mbak lady diana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke boleh, boleh.. Silahkan di share. Walaupun ini aku gatau siapa karena keliatannya unknown. But thank u yah. :)

      Delete
  8. Manteb mbak diana...lanjutkan yak tulisannya...lucu baca pas dibangunin buat bakar ikan...jawabnya polos...hahahaha
    Wahyoetoro20@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas Wahyu. Hehehe. Iya lumayan kan kalian berkurang satu org pesaing berebutan ikan bakar yg endeeeess bgt. Hiks :')

      Delete
  9. Hehehe firman lagi... kayaknya ada yang hilang di trip ini nih... aappaa ya... ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang hilang apa nih Pak? Hahaha. Dan sepertinya sedang low ya kerjaan Pak?

      Delete