Thursday, June 2, 2016

WISATA DIENG DAN GOLDEN SUNRISE GUNUNG PRAU


Berawal dari bosan karena kerjaan di kantor sudah mulai memasuki low season, aku pun mulai berencana untuk melakukan pembalasan dendam. Membalas dendam karena waktu tiga bulan ku di awal tahun sudah ku dedikasikan hanya untuk pekerjaan tercintaku :’)). Isenglah di Facebook, aku mencari-cari komunitas yang suka traveling atau pencinta alam. Daaan… dengan kekuatan radar yang diberikan dari Neptunus, *aaakkhhhhh* :P…. akhirnya ketemu juga deh tuh komunitas, dengan judul Komunitas Traveller Indonesia. *lalalalilili…lalalili*

Nah, disini bejibun deh tuh segala macem penawaran open trip, tiket pesawat, sampe perlengkapan travel dari orang-orang yang join komunitas ini. Maka dengan seru sambil angkat tangan dan mulai melambai-lambai girang aku mencari open trip yang paling pas dan cocok buat aku. Yang pertama pastinya adalah tujuan wisata. Awalnya cuma mau cari wisata cantik :33 ajah yang gak banyak habisin tenaga. Tapi, entah kenapa pas lagi scroll down, banyak juga yang nawarin open trip naik gunung. Naik gunung?? Iyahhh betul naik gunung… daaaaaan, gak tau kenapa aku jadi tertarik..

“Whaatt??? Lo mau naik gunung??? Yakin??? Capek lho..!! Ciyee…”, komentar salah satu temen. Temen gw satu ini rada gilaak emang, komentarnya gak jelas gitu, mengarah ke mencela, gak percaya atau memuji. T,T oke biarkan, skip…

Nah, akhirnya setelah membulatkan tekad dan bertanya pada hati menemukan open trip yang paling tepat baik dari segi lokasi, waktu, dan budget, aku berlabuh pada satu open trip dari “Explore Dieng” dengan tema open tripnya yang rada ngeselin -->> “Jomblo Atas Awan”. Kzl kaannn?? Iya kan?? Udah jomblo bangga lagi pake segala ada open tripnya? Apa bagusnya cobak??? Tapi… aku tetep mendaftarkan diri untuk ikut open trip.. *kyaaaaaaaa*

Udahlah lupakan temanya, yang penting aku mau melakukan sesuatu hal yang berbeda. Beda dari biasanya, karena biasanya aku punya sandaran hidup sekarang gak punya sebelumnya aku gak pernah suka dengan kegiatan outdoor yang sama dengan berat-berat. Aku termasuk anak manis yang gak mau susah, take a note yah, gak mau susah, bukan gak bisa susah, soalnya saya udah biasa hidup susah kok T,T

Naah, singkat cerita, tanggal 6 Mei 2016, berangkatlah aku ke Wonosobo via bus SinJay dari Terminal Kampung Rambutan jam 8 pagi dimana itu mundur 2 jam dari jadwal yang seharusnya. Zzzzzzz….. Oh ya, aku berangkat dari Jakarta bersama seorang teman yang mau ikutan setelah aku panas-panasin. Hahahahaha. Namanya, Hani. Eitsss, tunggu dulu, ini cowok! Gausah bingung, aku juga sama bingungnya kok. Katanya itu karena dia punya kembaran cewek, namanya Hana.. ^,^

Keesokan harinya, alias tanggal 7 Mei 2016, di depan terminal Mendolo kami di jemput jam 8 pagi oleh seorang guide yang bertugas menjadi leader di trip mendaki Prau ini dari tim Explore Dieng dengan mobil Elf putih. Tapi baru berangkat ke Dieng sekitar jam 10 lewat karena ada 2 orang traveller yang telat akibat macet. Total yang berangkat dari terminal Mendolo ada 6 orang termasuk aku. Selama perjalanan menuju Dieng, aku duduk di depan bersama pak kusir 1 orang teman baru, anak cowok, gak tau umurnya berapa, tapi pasti dia umurnya dibawah umur adik ketiga aku karena dia masih duduk di bangku SMA. Hahahaha.
Pemandangan jalan Dieng
Pemandangan perjalanan Wonosobo - Dieng (1)

Perjalanan dari Wonosobo ke Dieng memakan waktu sekitar 1 jam. Selama itu pula kami disuguhi pemandangan hijau nan asri sebagai pencuci mata yang gak ada bandingannya dengan apapun. Memandanginya membuat beban hidup, pikiran, dan lara hati bawaan dari Jakarta hilang untuk sejenak. ^,^ Jalur menuju Dieng juga gak kalah seru karena dipenuhi dengan naik turun naik lagi turun lagi belokan-belokan yang tajam pun bikin hati aku ngenes ngilu dan lumayan takut. Fobia akan ketinggian dan sesuatu yang ekstrim muncul lagi. Sempat terbesit dipikiran, apa bisa nanti menaklukkan Gunung Prau kalau baru begini aja udah mulai panik lagi. Tapi berusaha aku singkirkan rasa takut itu dengan hunting foto pemandangan aja bersama bocah sekolah samping aku. Hahaha.
Pemandangan perjalanan Wonosobo - Dieng (2)

Sesampainya di homestay di Dieng, kami bertemu dengan 4 orang teman yang juga akan bersama kami mendaki Prau. Selain itu ada juga 1 keluarga yang baru turun dari Prau. Mereka terdiri dari suami istri bersama 2 orang anak laik-lakinya yang kalau aku tebak baru sekolah di tingkat SD dan SMP. Wow! Keluarga keren yah, bisa mendaki bersama-sama itu rasanya pasti jadi liburan yang gak ada duanya. Mereka ini sudah sering mendaki gunung bersama-sama, apalagi si Ibu, sudah hobi dari jaman mudanya. Wow wow wow!! Aku juga amaze sama anak kecilnya yang kuat mendaki Prau, dan masa iya sih aku kalah sama anak kecil?? No way! ^,^ Dan sambil mendengarkan celotehan anggota keluarga yang semuanya suka ngobrol ini, aku mulai membayangkan, seru juga yah kalo nanti aku bisa punya keluarga kecil dengan hobi unik seperti ini. Ku nobatkan mereka sebagai keluarga seru bin ajaib yang pertama kali aku temui. *applause* :D:D:D

Trip Explore Dieng ini dimulai kira-kira jam 2 sore, karena terkendala oleh hujan yang gak berhenti-henti dari siang membuat acaranya ngaret banyak banget. Tapi sebelum ngetrip, kami makan siang yang juga ngaret di salah satu rumah makan disana, kalau gak salah ingat namanya Edelweis. Makannya prasmanan gitu dan untuk rasanya so so lah ya.
rumah makan edelweis
Sekilas rumah makan Edelweis

Setelah puas mengisi cacing-cacing di perut, kami pun meluncur ke tempat wisata Dieng yang pertama, yaitu Kawah Sikidang. Kawah ini masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang sehingga untuk mengunjunginya, wisatawan harus menggunakan masker agar tidak terganggu dengan bau belerangnya. Di pintu masuk kawah, sudah berjejer para penjual menawarkan masker, 10 ribu untuk 3 pasang.

Pemandangan Kawah Sikidang
Area depan wisata Sikidang
Menurut legenda, kawah ini terbentuk karena permintaan seorang putri cantik jelita nan rupawan bernama Shinta Dewi kepada calon suaminya yaitu Pangeran Kidang Garungan (pangeran dengan badan manusia dan berwajah kijang) untuk dibuatkan sumur sebagai sumber mata air di sana. Shinta Dewi memberikan waktu 1 hari untuk pembuatan sumur dengan niatan agar Pangeran Kidang tidak dapat memenuhi persyaratan nikah tersebut dan mereka batal menikah karena Shinta Dewi sebenarnya kecewa dengan penampakan Sang Pangeran. Namun, Pangeran Kidang yang ternyata mempunyai kekuatan sakti mandra guna ini mampu menyelesaikannya. Melihat hal itu Shinta Dewi tidak mau tinggal diam, karena takut Pangeran dapat menyelesaikannya maka ia memerintahkan para pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbuninya dengan tanah. Pangeran yang sudah tertimbun tanah galiannya sendiri pun dengan penuh amarah mengerahkan segala kesaktiaannya agar bisa keluar. Alhasil, sumur itu meledak sehingga tanah berhamburan keluar dan lama-kelamaan menjadi kawah yang diberi nama Kawah Sikidang.
Wisata Kawah Sikidang (1)
Pemandangan Kawah Sikidang
Wisata Kawah Sikidang (2)

Trail di atas Kawah Sikidang
Ada jasa sewa motor trail untuk yang mau rasain trek serunya di tanah Sikidang ini :D
Kawah diatas ini keren banget pemandangannya dan langsung saja kami sibuk ber-wefie. Tapi sayangnya akibat hujan mulai turun kami tidak bisa lama-lama, karena takut tidak bisa mencapai 2 tempat wisata lainnya. Kira-kira kami hanya 15-20 menit disana, kemudian langsung meluncur ke Telaga Warna. Tempat wisata ini sangat dekat lokasinya dengan Kawah Sikidang, tidak sampai 5 menit naik mobil. Sayangnya, saat sampai di lokasi, kami terjebak hujan besar sehingga tertahan di pintu masuk selama kurang lebih 10-15 menit. Sambil menunggu hujan, kami tetap narsis! ^,^

Gagal paham dengan posenya Mas Ocid ini ^,^
Di Telaga Warna, kami langsung foto-foto sebentar karena bener-bener deh alamnya kurang bersahabat, hujan teruuusss… Tapi, untuk telaga ini sendiri punya air yang berwarna-warni (saat disana warnanya sedang hijau), dilatar belakangi oleh gunung, dan dihiasi oleh kabut. Ciptaan Tuhan mana lagi yang bisa kau dustakan, nak?. :D Sayangnya kami kurang dapat foto yang memuaskan karena memang cuaca yang tidak mendukung. Maapkeun yah X_X
Telaga Warna Dieng
Bukan salah modelnya tapi salahkan yang ambil foto T_T *maksa*
Untuk legenda tentang Telaga Warna ini terjadi saat seorang Ratu penguasa samudra luas sedang mandi di Telaga Pengilon bersama putrinya yang cantik. Keduanya menyangkutkan pakaiannya di pepohonan dan menikmati air Telaga Pengilon yang jernih, berkilau, tenang, dan penuh kedamaian. Lalu, sekonyong-koyong datang angin kencang yang menerbangkan pakaian Sang Ratu dan putrinya yang berwarna-warni dan terjatuh ke bagian telaga yang lain. Sesaat air telaga itu berubah warna akibat terkena lunturan pakaian keduanya, sehingga terciptalah Telaga Warna yang suka berubah warna hijau, kuning, atau berwarna-warni seperti pelangi.

Kemudian, tempat wisata terakhir yang kami kunjungi adalah Kompleks Candi Arjuna. Kompleks yang ditemukan pada abad 18 ini memiliki luas 1 hektar dimana berdiri 4 candi yaitu Candi Arjuna, Candi Puntadewa, Candi Sembrada, dan Candi Srikandi. Candi Arjuna merupakan candi utama di kompleks ini yang juga diperkirakan sebagai candi tertua. Candi-candi tersebut dibangun oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno.

Komplek Candi Arjuna
Pemandangan Kompleks Candi Arjuna (1)
Komplek Candi Arjuna
Pasangan cinlok ^,^
Kami yang pastinya langsung mencari spot-spot bagus, seperti candi itu sendiri dan taman bunga-bunga untuk menghiasi kamera hp kami tanpa sadar dari hidung dan mulut sudah keluar asap efek super dinginnya disana bak di negeri Prancis. Hahahaha. Dan untuk kamu yang berminat megunjungi wisata di Dieng, sangat diwajibkan menggunakan jaket tebal ya kakak! ^,^
Pemandangan Kompleks Candi Arjuna (2)

Pemandangan Komplek Candi Arjuna
Sok tegar, padahal tangan udah beku itu :P
Setelah selesai hunting foto-foto keren, selesailah wisata Dieng ini dan kami pun kembali ke homestay guna bersiap-siap untuk acara utama dari open trip ini, yaitu mendaki Gunung Prau. :D:D:D Selesai menyiapkan segala macam peralatan dan perlengkapan mendaki serta mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan saat diatas, kira-kira jam 20.30 kami pun baru berangkat. Keterlambatan ini juga disebabkan hujan yang masih terus setia turun, hiks T.T Fyi, jumlah anggota yang berangkat ada 6 orang cowok dan 4 orang cewek yang dipandu oleh 3 orang tim Explore Dieng yang dipimpin oleh Mas Ocid, yang 2 lagi aku lupa namanya :’)

Sayangnya, 1 cewek, Vera, gak kuat untuk nanjak bahkan sebelum mencapai pos pendaftaran Prau. Ia mengalami sesak napas dan kepala pusing sehingga keputusan terbaik adalah menghentikan pendakian daripada nantinya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Akhirnya Vera pun dijemput oleh tim Explore Dieng yang lain sementara kami melanjutkan perjalanan menuju pos pendaftaran.
Mendaki Gunung Prau
Vera yang sedang duduk berjaket merah (maap kalo cuma punggung yang keliatan :P)

Sebetulnya pada saat perjalanan dari homestay ke pos pendaftaran itu, aku pun merasakan sesak napas. Apalagi ini kali pertamanya aku naik gunung. Meski sudah olahraga teratur tiap malam selama 1 bulan sebelum berangkat, tetap saja aku kaget. Aku bisa mendengar jelas suara tidak enak dari paru-paruku… hrooookk…hroooookk.. hrooookk.. mirip suara orang yang sedang tidur mendengkur, tapi ini sakit banget. Karena lumayan juga jalanan yang dilalui untuk ke pos pendaftaran, melewati perumahan warga yang salah satunya adalah menaiki tangga dengan jarak tinggi-tinggi. Tapi sewaktu menunggu jemputan untuk Vera, aku berusaha mengatur napas. Disarankan oleh salah satu teman untuk memakai salonpas dibatang hidung guna menghangatkan hidung dan supaya tidak terkena flu. Aku pun mengikuti saran itu. Dengan perlahan napasku sudah bisa teratur dan detak jantung pun sudah satu irama lagi. Selain itu, aku juga diberikan 1 sachet madu hisap untuk perjalanan ke atas. Madu ini berfungsi menghangatkan tubuh kita dan juga sebagai supply energi. Diinget-inget ya guys, bawa madu sebagai teman hidup konsumsi wajib kamu selama pendakian! ^,^

Sesampainya di pos pendaftaran Gunung Prau, kami menunggu sebentar saat Mas Ocid mendaftarkan nama kami. Selesai mendaftar, kita mesti kudu wajib harus berdoa dulu sesuai agama dan kepercayaan masing-masing supaya bisa selamat sampai dengan Puncak serta pada saat kembali turun. Maka berangkatlah kami dengan hanya tersisa 3 orang cewek, sementara untuk cowoknya masih dengan komposisi yang sama.

Aku menikmati perjalanan ke atas, sambil sesekali menyanyi-nyanyi kecil dan menghisap madu. Ada 3 pos dan 1 pos bayangan untuk mencapai puncak Prau. Jarak antara masing-masing pos bervariasi mulai dari 800 meter sampai dengan 4 km kalau tidak salah ingat. Tapi yang paling seru dari masing-masing pos ini adalah jalur pendakiannya itu sendiri. Jalur tiap pos memiliki ciri khas sendiri-sendiri.

Jalur dari pos pendaftaran ke pos bayangan 1 merupakan jalan setapak yang lumayan becek dan licin dimana kanan kiri masih terhampar sawah yang luas. Jalur dari pos bayangan ke pos 1 sudah mulai menantang dengan tanjakan yang tinggi-tinggi. Untuk tanahnya sendiri ada di beberapa spot yang becek namun masih aman untuk dilalui. Karena kami sempat khawatir hujan yang terus-menerus mengguyur Dieng seharian bisa menghambat pendakian kami. Aku pun memegang trekking pole dengan mantap dan ku percayakan segala hidupku kepada dia karena kalau sampai itu patah, maka bisa-bisa kelar hidupku. Astaghfirullah. T.T Sesampainya di pos 1 kami istirahat sejenak kira-kira 5 menit untuk menyelaraskan kembali kaki-kaki yang kaget, apalagi aku >,<

Dari perjalanan seru ini yang paling aku sukai adalah bagian saat menatap ke langit. Mata serasa dimanja dengan pemandangan bintang-bintang yang bertebaran di langit. Sumpah itu pemandangan terkeren seumur hidup yang kali pertama aku lihat!! Rasanya aku rela jika harus terdampar di hutan atau gunung asalkan aku bisa terus lihat pemandangan indah seperti itu. *lebay mode on*. Bener-bener menyejukkan hati dan memanjakan mata banget deh! Maklum berhubung di Jakarta gak pernah lihat beginian, jadi norak abis! Hahahahaha >,<”

Selanjutnya, dari pos 1 ke pos 2 jalurnya pun tidak beda jauh dengan jalur sebelumnya, namun yang berbeda ada banyaknya akar-akar pohon yang keluar dari tanah. Mesti hati-hati dalam melangkah karena banyak dari kami yang sering tersangkut kakinya karena akar-akar yang bervariasi ukurannya, termasuk aku. Nah lucunya, khusus jalur ini memiliki nama yang disebut akar cinta. Eyaaaaa…… ternyata akar cinta itu selain unik karena akar-akarnya yang ngintip-ngintip dari bawah tanah tapi juga bisa menjatuhkan hati eneng kita yang gak hati-hati dalam melangkah. Maka, sangat penting untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan agar tidak salah langkah jatuh disini yaa...
hiking ke gunung prau
Ngaso di pos 2 :D
Karena leader dari Explore Dieng, alias Mas Ocid, selalu berpesan bahwa ini pendakian santai, maka kalau ada yang lelah wajib bilang supaya semuanya break sejenak, jadi kami pun lumayan sering beristirahat. Istirahat 1 menit itu juga berharga banget loh dalam pendakian yang sulit ini. Hahahaha. Nah, setelah berhasil melalui akar cinta yang panjang dimana artinya kami sampai di pos 2, disini lah titik awal perjuangan kami yang paling berat dari jalur-jalur yang sudah kami lewati sebelumnya. Jalur pos 2 ke pos 3 ini sangatlah ekstrim. Apa yang kami takutkan perkara hujan seharian di Dieng ini pun terjadi. Trek yang kami lalui benar-benar top kacaunya. Tanahnya licin, becek, dan guess what? Yap! Betul! Kanan kiri udah jurang boookkk… >,< Kamu salah langkah dikit ajah, bisa kepeleset lalu jatuh ke jurang dan tinggal nama deh pulang ke rumah. Hiks! Gak mau kan kayak gitu? Jadi bener-bener deh buat kamu yang niatnya gaya-gayaan doang mau naik gunung mending ke laut ajah. Di gunung bukan tempat gaya-gayaan. Kamu mesti punya hati yang tulus, pikiran yang jernih, badan yang tegap, dan kaki yang kuat untuk bisa melewati medan pendakian yang bisa berubah-ubah setiap saat tergantung cuaca dan alam. Karena untuk mencapai sesuatu yang indah itu gak gampang dan kalau kamu mau mencapainya, maka seriuslah dalam mempersiapkan segala hal dengan baik dan terencana. *tiba-tiba sok bijak gini sih?*

Seperti yang sudah aku sebut diatas, jalur menuju pos 3 ini merupakan jalur terberat dari keseluruhan pendakian. Banyak dari kami yang tumbang selama disana, terutama yang cewek-cewek. Tapi alhamdulillah sekali lagi, aku jadi satu-satunya cewek yang gak jatoh selama pendakian ini…. Karena aku punya trekking pole. Nah, saran untuk teman-teman cewek yang mau mendaki, ada baiknya bawa trekking pole deh terutama untuk pemula seperti aku. Karena betul-betul membantu kamu berpijak serta mengambil keputusan tanah mana yang mau kamu injak.

Kami berjalan dan menanjak pelan sekali di jalur ini. Karena selain kondisi yang gelap, tanah licin, serta banyaknya peserta yang jatuh membuat kami harus benar-benar sabar, teliti, kerjasama, dan saling membantu. Sepanjang perjalanan ada 1 teman kami, Bang boy namanya, yang tidak membawa senter. Awalnya tidak terlalu masalah karena masih ada sumber penerangan dari cahaya bulan. Tapi, karena medan sekarang ini berat banget, maka cahaya senter sangat-sangat dibutuhkan apalagi jika mengingat temen kami ini punya berat badan yang mirip Hulk versi Indonesia. Hahahahaha. *peace Bang Boy*

Jadi selama perjalanan ini kami diiringi soundtrack yang berasal dari Bang Boy. Yang pertama, “yang di depan senterin dunk!”. Dan yang kedua, “dorongin dunk!”. HAHAHAHAHA *capslock jebol* 

Yah, jadi kami yang ada di depan pasti akan balik badan untuk senterin Bang Boy supaya gak jatoh. Tapi, ada saat aku posisinya dibelakang Bang Boy. Aku yang memang membawa senter mau berusaha nolongin Bang Boy dengan nyenterin jalan dia dari belakang punggungnya. Namun apa daya, badan ku yang tidak ada apa-apanya gak nyampe untuk nyenterin dia dari belakang. Jadinya lucu sendiri kalo lagi inget itu, mau niat nolongin tapi terhambat postur badan dua-duanya. Wkwkwkwk. Sampai sekarang pun, dua kicauan Bang Boy itu tetap jadi bulan-bulanan kami di group chatting whatsapp. Dan itu jadi bagian cerita dari perjalanan ini yang gak bakal bisa dilupain. XOXO.

Setelah melalui cobaan begitu berat di medan, akhirnya kami sampai juga di pos 3. Istiharat disini yang paling lama. Aku duduk di atas batu sambil mengatur napas, memasang koyo di punggung serta mengganti koyo yang di hidung karena sudah gak terasa panas lagi. Semua sudah mulai kelelahan. Mas Ocid pun sempat bilang bahwa trek menuju pos 3 tadi merupakan yang ter-ekstrim selama iamendaki Prau. Ia juga menyebut sangat bahaya sekali jalurnya, jika tidak hati-hati bisa saja tergelincir ke jurang. Dan kami pun mengiyakan pernyataan Mas Ocid. Kalau juru dakinya aja udah bilang ekstrim apa lagi aku yang baru kali pertama naik gunung. :’(

Menurut Mas Ocid, bukan karena faktor hujan saja yang mengguyur Dieng seharian tadi, tapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pendaki yang datang ke Prau di saat long weekend ini. Hal itu membuat tanah semakin lunak sehingga menjadi kombinasi ekstrim yang pas ketika hujan datang selama hampir sehari penuh.

Dan memang benar selama pendakian, tidak hanya tim kami yang mendaki, tapi juga banyak dari berbagai komunitas lainnya. Sesekali jika bertemu mereka saat sedang istirahat atau sebaliknya, kami saling bertegur sapa untuk sekedar bilang “permisi Bang, duluan ya Bang”. Dan aku menyimpulkan, menjadi pendaki gunung itu selain mesti punya kesabaran ekstra juga ramah-ramah yah! :D Terlepas dari kenyataan bahwa memang negara kita terkenal dengan orang-orangnya yang ramah-ramah. *mata bling-bling*. Wkwkwkwk.

10 menit kemudian kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Prau. Yeay!!! Jalurnya tidak separah yang sebelumnya. Hanya di beberapa spot yang tanahnya basah, namun untuk jalannya sendiri sudah mulai landai sehingga sudah tidak menyulitkan kami. Angin disini sudah mulai kencang. Daaaaannnn di suatu titik teratas 2565 mdpl nya Prau, kami pun sampaaaiiii….. *mata berbinar-binar*
membuat tenda di puncak prau
Suasana memasang tenda di Puncak Prau >,<
Dan aku rasanya ingin sujud syukur ketika sampai disana, ah! Sayangnya gak aku lakukan. Instead of I screamed at full speed! Kalah balapan motor liar juga! Disitu aku bener-bener syok, masih gak percaya aku bisa mencapai Puncak Prau bercampur dengan rasa senang, syukur, bahagia, takjub. Udah deh segala macem.. ^.^ Berkali-kali aku mengucapkan dzikir dan berterima kasih kepada Allah SWT atas izinnya untuk melihat pemadangan indah ini. Air mata udah menetes cuma karena malu langsung aku alihkan dengan berkali-kali teriak. :P :D

Udara di atas puncak Prau super super super dingin, ditambah angin kencang yang bikin badan merinding meski udah pakai jaket anti wind. Pas lihat arloji, waktu menunjukkan pukul 01.30 pagi. Pantes aja! >,< Tapi, aku mengabaikan waktu tersebut. Aku sambil mengucap syukur masih memandangi kabut, awan dibawah puncak Prau, dan lampu-lampu dikejauhan sana. Dalam hati mengucap, “Hi there, I’m here, how are you?” ditujukan kepada siapapun diluar sana. ^,^

“Yuk, cari tempat di bawah sana untuk buat tenda karena disini terlalu dingin”, teriak Mas Ocid. Memang anginnya super kenceng dan tapi masih ada saja yang berani buka tenda di atas puncak. Terlihat beberapa tenda sudah berdiri di sini. Kami pun beramai-ramai dengan badan yang sudah menggigil menuruni puncak ke arah bukit-bukit mirip bukit teletubbies. Setelah menemukan tempat yang cocok, segeralah laki-laki ketjee di tim kami dengan cepat membuat 4 tenda. 3 tenda untuk para laki-laki sementara 1 tenda untuk para perempuan.

Selesai membuat tenda, Mas Ocid langsung mengeluarkan keahlian ia yang selanjutnya, yaitu memasak di atas puncak gunung. *clap clap clap* karena setelah mendaki hampir 4 jam lebih, kami benar-benar kelaparan. Dengan sabar dan menahan dingin, Mas Ocid cukup telaten (hahahaha) membuat martabak mie dengan bahan-bahan yang tiada lain tiada bukan adalah mie dan telor saja. Sambil membuat martabak, sudah pasti kopi dan teh pun wajib dibuat untuk menghangatkan badan. Meskipun itu kopi kalo gak langsung diseruput dijamin langsung diselimuti angin malam nan dinginnya Prau alias berubah jadi es kopi.

Sumpah lho, makan nasi yang sudah dibawa dari Dieng dengan lauknya martabak mie, rasanya mmmmmm... yummyyy! Aku sangat menikmati makanan yang begitu sederhana terlihat tapi jadi berasa istimewa ditengah kelaparan dan kedinginannya Prau. Ini kali pertama untuk aku makan ditengah alam terbuka, disuguhi pemandangan alam yang gak ada duanya. Makan malam di restoran mahal di Jakarta gak bisa dijadikan bandingannya dengan makan malam bersama alam. Menikmati lautan bintang di langit, diselimuti udara dingin Prau ala-ala Prancis, dan semua itu bisa aku rasakan unlimited free. Rasanya capek mendaki gunung tadi terbayar disini, sampai tumpeh-tumpeh malah. :D

pemandagan langit di puncak prau
Diambil dari salah satu hp teman dengan model manual dan atur ISO :*
Sekitar jam 5 pagi, dengan mata ngantuk dan udara yang bikin badan menggigil banget karena dinginnya yang gak bisa ditoleransi, aku bersama beberapa teman beranjak keluar dari sleeping bag. Keluar dari tenda, langsung saja anginnya, wussssshhhh….. sensasinya gak ada dua nya memang Prau ini. Kami pun mencari view yang bagus untuk mendapatkan apalagi kalo bukan golden sunrise nya Prau. Dan itu keren banget! Udah deh gak ada lagi yang bisa bikin aku terpukau-pukau melihat lukisan Tuhan tersebut.
sunrise diatas gunung prau
Golden sunrise Prau..
bukit teletubbies Prau
Bukit teletubbies Prau :*

golden rise Prau
Diatas awan..
Begitulah sekilas pengalaman 2 hari ku berwisata di Dieng dan mendaki Gunung Prau. Untuk teman-teman yang berniat kesana, bisa tanya-tanya dengan tinggalkan comment di bawah yah. Atau bagi yang ingin menambahkan juga boleh. Hehehe. See you on the next tracesme :*:*:*

Sumber:

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/kompleks-candi-arjuna-kompleks-candi-terbesar-di-dieng

18 comments:

  1. waw kereeen, ga nyangka yaa , cerita naik gunung itu kalu jadi tulisan bisa perpuluh puluh paragraf kalo di critain, ada suka duka yang penuh perjuangan. Salut bgt buat tulisannya,rapi enak di baca, meski panjang tp bisa saling koheren, dokumentasinya jg okeee. Jadi pengen deh ga cuman baca,tp bisa ikutan trip nya. ajakin dong,, please...hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak Deny :) memang kebetulan saya cerewet berakibat tulisannya jadi banyak. Hahaha. Next blog akan aku ringkas lagi supaya pembaca gak bosen yah.
      Anyway ditunggu aja yah open trip naik gunung sesungguhnya! Masalah panggilan alam kita serahkan ke alam aja. Hahaha

      Delete
  2. senang bisa jadi bagian dari perjalanan seru kamu...bener2 tidak akan bisa dilupakan deh,best trekking best view with best people...semoga bisa trekking bareng lagi ya...btw keep blogging keep writinf keren tulisanya detail...jelas ekspresif dan kocak juga hehehe ingatan mu kuat juga ya din....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiih sist Dita :*
      Trip pertama ku yang paling keren ini karena peran semua tim. Makasih dukungannya, aku bakal semangat nulis trus. Kamu jg ayok lanjutkan menambah deretan tulisan di blogmu yang keren abissss :D

      Delete
  3. yang belakang senterin dunkzzz :P hhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau disenterin apa emang Mas Ocid? Hahaha :D

      Delete
  4. emang keren Prau,,saya aj ampe bbrapa kli kesana,,, ceritanya juga seru dan lucu,,,��������,,,sukses trus buat mba Diana dan smoga berlanjut tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akkkhhh Maaassss Andiiii makasiih yaaa.. Alhamdulillah kalau Mas Andi bisa enjoy bacanya meski panjang yaah.. Amiiin. Ditunggu yaa cerita tentang Pahawang nya :)

      Delete
  5. Keren euy..
    Enak dibacanya, mudah dimengerti ( dikira bahan ujian apa yak 😂 )
    Lanjutkan mbak diana, masih banyak keindahan indonesia lainnya yg menunggu untuk di eksplor👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiih Mas Dany.... siapp.. jadi makin semangat deh eksplor Indonesia terus dan menuangkannya ke tulisan supaya pembaca merasa ikutan jalan-jalan bareng aku... :D:D

      Delete
  6. andai bisa ikut mba diana..
    kenapa ga dari dl aja haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Yg penting kan sekarang sudah dilakukan :) jangan pernah liat ke belakang kalo mau maju nanti kesandung :P

      Delete
  7. Itu Dieng,.. kota di atas awan.
    wow banget pokoknya.
    Apalg sambil ngobrol sama temen, se sloki penghangat badan, sambil nikmatin hening sama sejuknya.
    Selamat, karena sdh ke dieng. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Kakak Anonymous sudah mau membaca ini. Still secret well even if you're on my blog yah. :D

      Delete
  8. Hehehe maaf baru bisa nyempetin baca... ok... tulisannya ok... mengalir jernih serasa ikut terbawa suasana....
    Pertama kali ahh... engga kali ya.... itu gearnya lengkap banget... wkwkwk, ini firman yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap Pak! Makasih banyak loh Pak Firman uda nyempetin baca tulisan saya. Hehehe.

      Delete
  9. Yihiii.. Jadi kangen sama prau. Lengkap dan detail, pokoknya ngerasa ikut jalan bareng sama Mbak Diana. Ditunggu cerita di gunung selanjutnya, semoga tak kena PHP.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeay!!! Makasih Eris sudah mau baca... habis ini aku mau posting pendakian ke Ceremai. hehehe.

      Delete