Friday, July 22, 2016

PERJUANGAN GUNUNG CEREMAI, KUNINGAN

Setelah hampir 1 bulan lamanya tidak ngayap kemana-mana termasuk naik gunung, akhirnya hasrat untuk mendaki tidak bisa dibendung lagi. :P H-7 sebelum lebaran, aku memutuskan meng-iya-kan ajakan teman yang bertemu dari Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Raya di FB untuk mengeskplor Kuningan, Jawa Barat. Gunung Ceremai (sering salah kaprah disebut Ciremai, termasuk aku ^,^) yang juga termasuk dalam perbatasan Kab. Majalengka ini dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut memiliki pesona tersendiri yang menjadikannya favorit banyak pendaki untuk mendakinya lebih dari satu kali.

Jalur pendakian Ceremai dapat ditempuh melalui 3 jalur yaitu via Palutungan dan Linggarjati dari Kab. Kuningan dan Apuy dari Kab. Majalengka. Aku menggunakan jalur pertama untuk mencapai Ceremai. Menurut teman-teman sependakian, jalur Linggarjati lah yang paling banyak membuat mereka mengucap syukur, karena jalurnya yang supeeerrrr gilaaa.. Kata mereka medannya sangat terjal dan curam dengan kemiringan antara 70-80 derajat, jauh berbeda jika dibandingkan jalur Palutungan dan Apuy. Namun, untuk jalur pendakian terpendek Apuy lah pemenangnya. Hehe.
Sudah rindu berat dengan mendaki >,<
Desi dan aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 7.15 pagi menuju stasiun Cirebon Prujakan. Aku sangat menikmati perjalanan 3 jam di dalam kereta api (1 jam pertama baca buku; 1 jam kedua tidur; 1 jam ketiga baca buku lagi). Aku dan Desi tidak satu gerbong apalagi satu kursi, kami terpisah karena maklumlah pakai tiket sisa-sisaan yang harganya 2-3 kali lipat lebih mahal daripada biasanya. >.<

Sesampainya di Cirebon Prujakan, kami bertemu dengan Bang Erwin di mana ia sudah lebih dulu berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 5 pagi. Harusnya kami bertiga dari Jakarta, namun karena sudah kehabisan tiket kereta api jadilah kami terpisah. Huhuhu.

Dari Cirebon Prujakan, kami bertiga naik kendaraan umum untuk sampai ke Terminal Cirendang, Kuningan; 1 kali angkutan umum dan 2 kali mobil elf. Satu teman lagi, yaitu Edy (inisiator pendakian ke Ceremai) mengikuti kami dengan motor. Fyi, begitu cintanya terhadap Ceremai, bersama kami ini Edy melakukan pendakian yang ke-6 kalinya ke Ceremai. Wah, kalau Ceremai saja setia ia daki terus apalagi kalo ia mengejar cinta cewek, pasti getol yah! Hahaha :P

Angkot pertama dari depan Stasiun Cirebon Prujakan harganya Rp 4.000/orang sampai dengan Terminal Cirebon, lalu  berganti dengan mobil Elf menuju terminal bayangan (aku namain sendiri karena gak tau namanya apa, hehehe) dengan membayar Rp 5.000/orang. Terakhir dari terminal bayangan itu kami berganti mobil Elf lagi untuk menuju Terminal Cirendang sebesar Rp 50.000 bertiga.

Sesampainya di Terminal Cirendang sekitar jam 1 siang, kami dijemput oleh satu orang teman yang tinggal di Kuningan, Alan, yang juga bergabung dengan pendakian ke Ceremai. Bersama-sama kami menuju pos pendaftaran Palutungan dengan masing-masing menggunakan motor. Alan dengan sangat baik memberikan tumpangan kepada kami dari Cirendang ke Palutungan dengan “memberdayakan” adik dan teman-temannya. Hehehe. Terima kasih banyak ya Alan dan teman-temannya :D

Tiket masuk ke Gunung Ceremai terbilang mahal yakni sebesar Rp 50.000. Itu termasuk biaya camp, asuransi, dan 1 kali makan. Sayangnya, di jalur Palutungan, kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sertifikat seperti di jalur Apuy atau Linggarjati.
Full team: Edy, Diana, Desi, Alan, Erwin
Pendakian Ceremai
Setelah makan siang dan menunaikan ibadah sholat, sekitar jam 3 sore kami memulai pendakian. Dengan di awali doa, dengan mantap kami melangkahkan kaki. Ini pertama kalinya sepanjang hidup aku menghabiskan hari lebaran kedua dengan mendaki gunung. Rasa gelisah di dalam benak dan rindu berjumpa dengan alam bebas membuat aku sangat antusias menjajaki Gunung Ceremai.

Seperti halnya gunung-gunung yang sebelumnya aku daki, pada awalnya pendakian disuguhi oleh hamparan sawah luas. Di sini budidayanya adalah sayur sawi dan aku hampir tidak mengenali bentuknya karena saking lebar-lebarnya daun tersebut *ngeles karena gagal menjawab tanaman apa itu* T.T
Pohon Ceremai bukan sih?
Selanjutnya, medan berubah menjadi terjal ketika melewati mata air di kaki gunung Ceremai. Napas mulai ngos-ngosan karena jantung yang berdegup kencang. Cuacanya cukup panas di Gunung Ceremai tidak seperti gunung-gunung sebelumnya yang selalu dingin. Udara sejuk dan segar tetap berhembus namun diiringi dengan keringat sebesar-besar biji jagung yang terus mengucur di sekujur badan. Ini kali pertama aku naik gunung tanpa menggunakan jaket.
Pos Cigowong
Setelah berjalan hampir 3 jam kami sampai di pos Cigowong bersamaan dengan waktu sholat maghrib. Ini merupakan pos pertama via Palutungan yang kami (kecuali Edy) kira merupakan pos ke-4. Satu hal baru yang aku pelajari di pendakian ini adalah jangan mudah percaya dengan kata-kata para pendaki. Mostly, mereka PHP a.k.a pemberi-harapan-palsu! Edy dengan “manisnya” mengiyakan setiap tanda-tanda yang kami temui selama pendakian ke pos Cigowong ini sebagai tanda pos-pos sehingga saat sampai di Cigowong kami kira sudah sampai di pos ke-4. >,<” Kami tahu dari tukang warung bahwa Cigowong merupakan pos pertama. T,T Semua mengerang sementara Edy hanya tertawa puas sambil minta maaf. Puas banget yah! Huft!

Pos Cigowong sangatlah luas. Banyak warung berdiri di sana, sehingga dijadikan tempat bersinggah bagi para pendaki yang kelelahan sebelum menuju medan pendakian yang lebih berat dari pada sebelumnya. Terdapat beberapa pendaki yang juga terlihat mendirikan camp di sana. Fyi, pos Cigowong merupakan lokasi sumber air dan selanjutnya tidak akan ada sumber air lagi sampai dengan di Goa Wallet (setelah pos 7). Jadi kalian harus memastikan persediaan air kalian cukup sampai dengan ke puncak Ceremai. Kami sempat kehabisan air di atas dan lumayan panik karena artinya selain akan kehausan, kami pun tidak akan bisa masak karena masak juga butuh air. T,T

Lalu kami kembali ke zaman dahulu, melakukan barter dengan pendaki lain di mana mereka kehabisan rokok. Hahaha. Seru juga yah kalau dipikir-pikir sekarang. Kami kehabisan air dan kemudian saya menyadari value of money doesn’t work there. Makhluk macam apa aku yang mengatakan kehabisan air merupakan hal seru. Ya tapi justru jadi ada cerita kan? Dari pada semuanya hanya lurus-lurus saja. :P

Setelah berleye-leye (read: sholat, tidur, makan gorengan; gorengannya rasanya biasa saja tapi entah mengapa terasa nikmat disaat lelah dan kedinginan *.*, minum susu, ngopi-ngopi :P) di pos Cigowong kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak jam 20.41. Udaranya lumayan dingin saat itu, mungkin karena kami hanya diam saja sehingga kami cukup menggigil dan semuanya serentak memakai jaket. Tapi seperti yang saya sebut di atas, Ceremai memiliki suhu yang aneh, udaranya dingin dan sejuk tapi juga panas, sehingga saya akhirnya kembali berkeringat di pendakian malam tersebut dan memutuskan melepas jaket karena benar-benar seperti di sauna. >,< Kalian boleh coba sendiri yah :P

Kami mendaki sekitar 2 jam lamanya dengan medan yang banyak menghabiskan banyak tenaga karena terus-menerus “dihajar” dengan tanjakan terjal yang medannya merupakan tanah yang cukup basah dan licin. Desi yang paling banyak berhenti untuk sekedar mengatur napas atau istirahat beberapa menit, sementara aku masih cukup kuat dalam hal menanjak (tapi selalu merengek-rengek waktu turun >,<). Pos ke-2 yaitu Kuta, pos ini sangat kecil dan tidak bisa untuk camping sehingga kami hanya melewatinya saja.
Salah satu medan pendakian Ceremai
Kami memutuskan untuk camp sesampainya di pos ke-3, Pangguyangan Badak. Sudah ada 2 tenda di atas sana. Seperti biasa, para lelaki mulai aksi yaitu mendirikan dua tenda untuk 5 orang. Mereka sibuk memasang-masang besi-besi sebagai tulang tenda, membuatnya berdiri, memastikan tidak ada besi yang kusut, menancapkan pasak di setiap ujung tenda, dan terakhir memasang flysheet di atas dan di antara kedua tenda. Yang perempuan? As usual, kami tim hore saja sambil pegangin senter :P
Pos Pangguyangan Badak, Ceremai
Menuju Puncak Ceremai
Sesuai perjanjian yang telah disepakati secara mufakat dan kekeluargaan *kayak rapat RT-RW yah :P* pada saat makan malam, kami melanjutkan pendakian jam 2.30 dini hari. Berbekal 1 tas carriel milik Alan yang isinya alat masak, 1 matras, makanan dan minuman secukupnya kami dengan penuh keyakinan dapat mencapai puncak Ceremai pada saat sunrise.

Karena tidak membawa beban hidup yang berat apapun kecuali Alan *hohoho*, kami semua sangat cepat mendaki meski medannya cukup terjal. Ya, pokoknya kamu jangan heran dengan Ceremai karena gunung ini terkenal dengan pendakiannya yang curam dan terjal apalagi kalau kamu lewat Linggarjati, siap-siap “terpesona”. :P

Tanpa hambatan kami melalui pos 4 - Arban dan pos 5 - Tanjakan Asoy selama 1,5 jam. Kami baru beristirahat di sana bersama 2 orang pendaki yang sedang ngopi. Mereka (Fakhri dan temannya) kemudian melanjutkan pendakian bersama kami. Pos selanjutnya adalah Pasanggrahan yang kami tempuh di 1 jam selanjutnya.

Kami semua beriringan mendaki dengan tempo mengobrol, bercanda, nyanyi-nyanyi covering'in lagu yang di stel bang Erwin, diam, dan begitu seterusnya. Lalu cahaya dari langit sudah mulai masuk dari sela-sela pohon-pohon pertanda sunrise sudah siap menyapa bumi. Namun, kami tak kunjung sampai di Sanghyang Ropoh (sepertinya ini adalah pertigaan tempat bertemunya jalur Palutungan dengan Apuy).
Sunrise nya dapet di perjalanan menuju Puncak Ceremai *,*
Edy pun bilang, “tak apa yah tak dapat sunrise karena sepertinya tidak akan sampai di puncak tepat waktu”. Jujur sih, aku kecewa berat, tapi ya mau bagaimana lagi, kalau mendaki bisa dengan metode naik-helikopter-sampai-puncak aku tidak perlu khawatir tidak bertemu sunrise, lah ini cuma modal kaki, sudah gitu kaki cewek lagi, gak ada apa-apanya dengan kaki cowok yang setrooooong. T,T

15 menit yang dijanjikan Fakhri untuk sampai di pertigaan Palutungan-Apuy dari Pasanggrahan pun menyedihkan. Menyedihkan karena lagi-lagi kami kecuali Edy tentu saja menjadi korban PHP pendaki lainnya. 15 menit (read: 2 jam) kemudian kami sampai di pertigaan yang di maksud. Wow! Aku jadi meragukan kelulusan matematika para pendaki ketika SD! Mereka berkilah, “ya kan untuk menyemangati teteh”. Duh, please ternyata meme tentang laki-laki kurang memahami wanita itu betul yah. Besok-besok yuk para lelaki, kita adakan konferensi untuk menyamakan “paramater penyemangat” supaya gak salah sasaran lagi kayak gini. Deal?! *sambil nodongin palu* :P
Pendakian menuju Puncak Ceremai >.<
Di pertigaan Palutungan-Apuy sudah cukup terik, kami kepanasan warbiyasaaaah. Sambil masih ngomel cantik kepada dua pendaki, Fakhri dan temannya, atas insiden 15 menit =  2 jam, aku, Bang Erwin, dan Alan kembali dijanjikan oleh Fakhri bahwa kita akan sampai di Goa Walet dalam 30 menit. Dengan menyamakan waktu di hp masing-masing *saking takut kena PHP lagi*, kami kembali memegang janji tersebut. Oiya, untuk Desi, ia butuh perjuangan super ekstra untuk “bergulat” dengan medan terjalnya Ceremai. Edy yang setia menemani Desi *uhuk* mempunyai cukup kesabaran untuk terus menyemangati. Fyi, Desi sempet nangis karena disuruh turun lagi sama Edy kalau memang tidak sanggup sampai puncak. Duh, cowok! Di gunung aja masih bisa bikin nangis anak gadis orang yah. ><
Goa Walet, Ceremai
Untunglah kami bertiga tidak jadi korban PHP lagi, sampai di Goa Walet sekitar 30 menitan dengan penuh susah payah. Dengkulku sudah super lemas, sementara kaki rasanya sudah mau copot. Kalau saja ada yang membuka jasa sewa kaki, aku pasti orang pertama yang akan sewa sebanyak 10 kaki. Sudah seperti pesan gorengan saja. Hahaha.

Perjuangan kami tinggal “satu tanjakan” lagi, yaitu puncak Ceremai. Hati sudah mencelos ketika melihat medan di depan mata begitu mengerikan. Ingin rasanya nikah saja *loh* :P Dengan menguatkan hati, tangan, dan terutama kaki-kaki rentan ini, aku melanjutkan pendakian. Sungguh medan terberat, bebatuan dan kemiringan 45 derajat. Mendaki di atas batu-batu merupakan pengalaman pertamaku. Duh, betul-betul mengalahkan pendakian ke gunung Butak bulan lalu. Super berkesan banget deh Ceremai ini. Summit terjal dan bebatuan merupakan perpaduan yang sukses buat jantung ini olahraga ekstra. >.<

Daaaan… Yeay!!!!!! Sampai lah aku di puncak Ceremai yang menyambut dengan angin yang supeeeer kenceng. Tanpa ada satu pohon pun, kecuali tanaman-tanaman bogel di sisi kanan, angin di ketinggian 3.078 mdpl ini bebas kesana kemari. Dengan lemas aku duduk di salah satu bebatuan sambil berpegangan kencang pada batu tersebut. Aku sedang menyatukan keberanian untuk berdiri di puncak Ceremai dan berusaha membaur dengan angin dan udara di sini.
Puncak Cereremai 3.078 mdpl
Selamat Desi, kamu sukses mencapai puncak Ceremai! :*
Hah! Ceremai merupakan pendakian terpanjangku dengan total pendakian hampir 13 jam yang berhasil aku kalahkan meski dalam pendakian ini aku termasuk banyak mengeluh. Tapi aku tetap bersyukur karena masih bisa mengalahkan rasa takut, emosi, dan lelah sehingga Tuhan membalasnya dengan pemandangan super menakjubkan. Thanks God! ^.^
Formasi: Alan, Erwin, Diana, Temannya Fakhri, Fakhri

Puncak Gunung Slamet mengintip mungil dibalik awan :*
Awan-awan gembul itu yang selalu bikin aku kangen mendaki ^.^
Terima kasih para traveler yang setia membaca ceritaku sampai sini. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme! :*:*:*

Friday, July 1, 2016

PENDAKIAN PALING MENANTANG MILIK GUNUNG BUTAK, MALANG

Membuat rencana itu hal yang paling aku sukai. Mengaturnya se-perfect mungkin dari jauh-jauh hari. Mungkin juga karena basicnya aku anak accounting, jadinya sudah terbiasa rapi *cieeee pengen banget yang lain tahu tuh* :P

Jadi, wajar dong untuk perjalanan terjauh yang pertama ini sudah aku atur sedemikian rupa dari hampir 2 bulan sebelum tanggal 26 Mei 2016. Mulai dari cari (masih) open trip, tiket PP Jakarta-Malang, izin cuti 2 hari ke boss yang bikin senam jantung tralala-trilili, sampai ke melengkapi perlengkapan hiking dong. Pengen tau gak aku ke Malang mau kemana? Mau yah? Please *maksa mode on* Jawabannya adalah mau mendaki ke puncak Semeru!

Hmmm… Yaps aku tau kalian pasti sekarang lagi heran kenapa bisa gak nyambung sama judul tulisan di atas *dan mungkin sebagian sudah scroll up lagi buat mastiin judulnya*. Gak kok judulnya gak salah yang salah dia. Ini semua karena ketika aku sampai di mepo Stasiun Malang hari Kamis, sungguh sedih nian kepalang, dikabarin sama guide tour-nya, Semeru masih ditutup! Mendengar itu kebayanglah sama kalian betapa sungguh sedih merana hancurnya hati ini melebih-lebihi diputusin pacar! Ups! Ketauan kan jomblo akut? Bukaaan!! Hanya masih mempertahankan kejombloanku ini untuk suatu saat aku relakan demi seseorang yang tepat dan berkualitas. *ehem*
Salah satu sungai di Malang
Intinya gimana gak kacau perasaan ini mendapatkan Semeru tidak boleh disentuh sampai dengan 4 hari ke depan. Perjalanan sepanjang 869 km yang ku tempuh selama 12 jam di mana hati begitu riang *senyum-senyum sendiri mirip orang stress* selama di kereta api, yang kemudian dalam sekejap dibuat breeeekkk ditumbuk pake palu guedeeee banget dan bye!
Kali pertama naik kereta api sendirian ^^
Kenapa Semeru ditutup? Gak lain dan gak bukan karena pasca 2 orang pendaki yang hilang baru saja ditemukan 2 hari sebelum tanggal aku naik Semeru. Tim SAR-nya capek! Katanya karena mereka juga manusia yang butuh istirahat. Laaaaaaah Pak, saya juga manusia? Gak boleh apa bahagia dikit bisa muncak ke Semeru? Sudah dari 2 bulan yang lalu lho Pak direncanain, lalu batal begitu aja? Kalau rumah saya deket tinggal salto ke Semeru sih bisa kapan aja deh nanjak. Nah ini???? >.< Maap ya masih suka kebawa emosi.

Kereta api Matarmaja dan Stasiun Malang
Akhirnya setelah melalui perbincangan yang panjang dan masih dengan nada kecewa, aku memutuskan mengganti destinasi pendakian. Dipandu oleh guide tour, kenalin nickname-nya Doni Tepozz (aslinya Romadhoni kalau gak salah inget, haha) dari Random Adventure, kami mengubah destinasi dari Semeru ke Gunung Butak. Kenapa Gunung Butak? Kenapa gak Bromo aja? Salah satu wisata terkenalnya Malang. Jawabannya karena ke Bromo bukanlah naik gunung yang sebenarnya. Bisa ditempuh pake mobil jeep kan? Aku mau yang betul-betul hiking *gayaaaa padahal nangis-nangis pas turun dari Butak* Wkwkwk.
For the first time: Nasi Rawon Malang
Coban Pelangi
Kami mendaki Butak baru hari Jumat. Sementara di hari Kamis, aku bersama teman-teman baru di trip ini jalan-jalan ke wisata air terjun Coban Pelangi dan kemudian mengantarkan 4 orang yang mau mendaki Bromo. Bersama Mas Doni, Mas Wery, Ica, Mas Afif dan istrinya (maaf lupa namanya :*), serta dua orang bule Prancis dan Australia, yaitu Aruna dan Mark, kami melenggang menuju Coban Pelangi.
Di atas Jeep
Meski kami melakukan perjalanan di siang hari tapi cuacanya mendung, kontras banget kalau dibandingin dengan di Jakarta yang mataharinya pasti sedang terik-teriknya saat itu. Kami berangkat dengan meggunakan jeep berwarna kuning nyentrik, berdiri di belakang mirip iring-iringan keluarga pengantin laki-laki yang mau seserahan ke rumah keluarga pengantin wanita. Kok nyambungnya ke situ yah? Hahaha

Meliuk-liuk, menanjak-nanjak, tikungan tajam, angin kencang dan udara dingin menambah keseruan perjalanan ini. Lupa deh perasaan kecewa gagal ke Semeru. Seperti biasa gak lupa dong kita wefie apalagi mumpung ada bule di sini. Fyi, Aruna dan Mark dari Wild Ventures yang memang kerjaannya cuma jalan-jalan doang. Bagaikan musang, mereka loncat dari satu tempat wisata ke wisata lainnya. Kalau tidak salah ingat mereka melakukan traveling panjang sampai dengan tanggal 9 Juni 2016. Wow! Enak yah. Mereka itu pendaki advance lho! Sudah naikin Mount Everest kok! Ku nobatkan mereka sebagai traveler sejati! Kece badaaaiiii. ^,^

Untuk mencapai air terjunnya Coban Pelangi, kami harus jalan kaki selama kurang lebih 10-15 menit dari pintu masuk pembelian karcis. Jalanannya menurun-nurun dan lumayan curam serta ditambah agak licin. Tanah dan bebatuannya basah bukan karena habis hujan, melainkan embun. Selama perjalanan ke air terjun, aku banyak menjumpai beberapa anak-anak remaja kira-kira duduk di bangku SMP-SMA yang punya tujuan yang sama seperti kami. Aku pun membathin, “Oooh, jadi mereka hiburannya ke air terjun yah? Enak banget, biayanya murah, mata dimanja yang hijau-hijau dan udaranya pun sehat.” Coba kalau anak-anak di Jakarta? Ke mall kan? Buang-buang duit buat makan di tempat kece, shopping, nonton band, atau yang sejenisnya. Hahaha. Untung aku punya life balance sekarang. :P
Perjalanan menuju air terjun Coban Pelangi
Air terjunnya bener-bener tinggi banget. Dari jarak 10 meter aja, kami sudah bisa merasakan cipratan air terjun. Tadinya mau bener-bener mendekati air terjunnya, tapi karena takut basah dan tidak bawa baju ganti (semua barang-barang ditinggal di homestay), akhirnya kami hanya berfoto-foto di posisi yang tetap keren dong :P
Formasi: Mark, Afif, Aruna, Doni, Istri Mas Afif, Diana, Ica
Di sana kami menikmati hempasan angin dari air terjun, pemandangan hijau nan sejuk, dan udara bebas CO2 sambil makan siang. Sebelum berangkat kami sempat mampir ke rumah makan dulu. Rasanyaaa… Mmmmm… Kapan lagi loh bisa makan siang di alam seperti ini. Sayang aku lupa mendokumentasikan momen precious ini. >.< Tapi tetap jelas tersimpan di memoriku kok. *tjjiiieeeeelaaah*

Setelah memuaskan cacing-cacing di perut, kami pun kembali ke jeep untuk selanjutnya mengantarkan 4 orang yang akan menanjak ke Bromo. Mereka adalah, Mas Afif dengan istrinya dan dua orang si bule. Sebelum ke pos pendaftaran pendakian Gunung Bromo, kami berfoto-foto ria dulu di satu spot yang bagus di mana savanah nya Bromo terhampar luas dan jelas sekali terlihat. Mereka sempat menggoyahkan pendirianku untuk mendakinya. Huuufffftt… Sumpah deh, cantik banget lekukan-lekukan Gunung Bromo, gemesh-gemesh gimana gitu. ^^
Menikmati lekukan cantik Bromo
Sumpah udara di sana dingin banget, mirip sama dinginnya Dieng. Adanya abang bakso malang yang mangkal di dekat spot kami hunting foto, bikin aku gak tega kalau gak beli *eyaaaaa* bohong ding! Itu karena aku kedinginan banget dan kalian tahu kan kalau dingin berdampak pada kita akan mudah sekali lapar. Well, aku yang pertama kali menjadi pelopor menghampiri si abang dan memesan semangkuk bakso darinya. Kapan lagi kan bisa makan bakso malang langsung di kota asalnya sambil ditemenin sama view Bromo yang gak ada duanya di dunia ini. Ahaaayy… Dan yang lain pun segera ikut mengerubungi si abang bakso. Kan apa aku bilang?? Aku selalu sukses untuk jadi trendsetter :P
Bakso Malang langsung dari Gunung Bromo :P
Tetap bahagia meski cuma sampai gapura selamat datang Semeru ajah X_X
Puas dengan bakso, kami pun menuju pos pendaftaran pendakian Gunung Bromo. Setelah selesai semua urusan administrasi, berpamitan dengan tim yang mendaki Bromo, kami pun kembali ke homestay di daerah bernama Tumpang. Malam harinya, bersama Mas Doni dan Ica, kami berencana ingin membeli logistik di pasar untuk ke Gunung Butak esok hari. Tapi karena kemalaman, akhirnya hanya menemani aku yang beli bantal leher dan gaiters. Hahaha. Soalnya selama di kereta, posisinya betul-betul gak enak banget untuk tidur ditambah saat pulang ke Jakarta nanti posisinya aku akan sangat kelelahan setelah mendaki. Sementara Ica membeli buff.

Fyi, kami bolak balik pasar-homestay jalan kaki loh, padahal ada angkot. Kira-kira 10 menit sekali tempuh. Enaknya jalan kaki malam hari disini udaranya sejuk-sejuk dingin, tidak terlalu banyak polusi sehingga tidak panas, dan ini Malang bukan Jakarta! :P Yah, bolehlah sedikit bergaya ala-ala bule yang kemana-mana selalu jalan kaki. Tapi kalau di Jakarta disuruh jalan kaki dengan catatan pada tahun 2015 di mana negara kita ini berada di posisi ke-8 terkait polusi udara mematikan di dunia menurut laporan Bloomberg, I may say NO! Baru jalan kaki dikit di sore hari selama bulan puasa gini dari Wisma Sudirman ke Benhil untuk cari takjil aja, aku sudah sesak napas lho. >,<

Ok, back to perjalanan malam hari di Tumpang, nah ada yang berbeda dengan dirinya saat perjalanan kembali ke homestay, aku melihat tenda di pinggir jalan bertuliskan “Bubur Kacang Hijau”. Aku yang laper mata langsung saja menyebrangi lautan jalanan dan pesan 1 mangkuk bubur. Tapi aku bingung kenapa abangnya sedang nyerut-nyerut es batu yah? Rasanya gak ada tulisan jual es serut deh. Aku yang dengan seksama *ceileeeh* memperhatikan abangnya (read: cara abangnya menyajikan bubur), baru paham ternyata bubur kacang hijau di Malang penyajiannya bukan panas melainkan dingin. Well, aku terpesona dengan rasa bubur kacang hijau es ini. Walaupun sudah sering makan es bubur kacang hijau, tapi tetap saja yang ini berbeda lho!. Sukaaaaa bangeeeettt. Hahaha.
Norak baru ketemu bubur kacang hijau es X_X
Summit Gunung Butak
Kami baru berangkat menuju Gunung Butak setelah solat jumat selesai. Tim yang berangkat ada 8 orang terdiri dari Mas Doni, Ica, Mas Jeffri, Pokyan, Taufiq, Alfian, Mas Dika, dan aku. Yeay!! Karena perjalanan yang jauh, diselipin kesasar dan kepotong makan siang dulu, kami pun baru sampai di pos pendaftaran Gunung Butak sebelum maghrib. Selesai adzan berkumandang, kami pun segera melakukan pendakian.

Perjalanan yang pertama kami temui adalah jalanan berpaving yang lama kelamaan menjadi jalan setapak tanah dan bebatuan di mana kanan-kiri merupakan sawah dan perkebunan. Sekitar 1 km terdapat sumber mata air yang berasal dari Gunung Butak. Itu pertama kalinya aku minum air langsung dari tanah. Rasanya, hmmm… enak kok dan gak sakit perut. Hahaha. Selanjutnya kami memanjatkan doa agar pendakian ini mendapatkan restu dari calon mertua Yang Maha Kuasa. ^^
Formasi: Jeffry, Taufiq, Doni, Diana, Ica, Alfian, Pokyan, Dikha
Untuk mendaki Gunung Butak, ada beberapa jalurnya, yaitu jalur Gunung Panderman (Kawasan Batu), Sirah Kencong (Blitar), Princi Dau (Malang), dan Gunung Kawi (Kepanjen). Kami mendaki melalui jalur yang pertama.  Ini hiking ke-2 aku dan yang pertama di daerah Jawa Timur. Sebagai newbie, aku baru tahu bahwa gunung-gunung di Jawa Timur terkenal dengan summit nya yang bisa dikatakan kacau. Serius itu gak bohong deh, pendakiannya terjal, terjal pake banget deh. Dan satu lagi, treknya! Treknya subhanallah *sampe nyebut kan* panjaaaaaaang banget. Medan pendakian yang berat diwarnai hujan yang mengguyur tanpa izin dulu. Hiks >,< Sedih deh perjuangannya ampun-ampunan. Menjaga keseimbangan badan, dingin, kebasahan kuyup, summit yang menyeramkan. Ini betul-betul mendaki! Silahkan ke sini yah teman-teman untuk mendapatkan pengalaman mendaki yang berbeda daripada yang lain :P

Setelah mendaki kurang lebih 4 jam karena banyak istirahat, maklum itu resiko kalau kalian mendaki bersama cewek yang fisiknya gak sekuat cowok, hiksss, kami membuka tenda di pos 3 kalau tidak salah, dimana tanahnya sudah datar. Ini merupakan penutupan setelah summit yang gelooo abis itu. Ahahaha. Lumayan repot juga yah membangun tenda disaat hujan deras, kerja sama nomor satu di sini. Empat orang memegang flysheet (aku kebagian bertugas ini), sebagian membangun tenda di bawah flysheet yang kami pegangi.

Seselesainya membangun 3 tenda (1 tenda khusus untuk aku dan Ica), Mas Doni, Opiq, dan Fian pun mengeluarkan jurus-jurus memasak mereka. Sudahlah cowok-cowok itu keren bangeeet bisa memasak di atas gunung. Aku mah cuma nontonin aja. Selain karena sudah kelelahan dan kedinginan, aku masih belum terbiasa untuk memasak dengan alat-alat yang minim. Hehehehe. *ngeles mode on* Saran ya cewek-cewek, kalau mau cari suami jangan cuma lihat dari fisik saja, keahlian khusus seperti bisa memasak juga patut dipertimbangkan. Apalagi kalau mereka pun bisa cuci baju, merapikan rumah, menjaga anak, nah kita saja yang kerja. Eh keterusan *ups hahahaha. Yah, intinya kalau bisa sharing kerjaan kan lumayan, kita cewek nantinya gak sendirian kerjain semua-semuanya gitu. ^,^

Setelah makan (tengah) malam rampung, aku segera menyusup ke sleeping bag dan terlelap dengan alunan-alunan penghuni hutan (apapaun itu) dan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang rusuk. Esok hari aku bangun sekitar jam 7-8 pagi di mana matahari sudah senyum-senyum cantik di sebrang kami. Lumayan juga, kami jadi bisa menjemur semua perlengkapan kami seperti pakaian, sepatu, dan tas yang semalaman habis kehujanan.
Mirip kontrakan, tapi di Gunung :P
Sementara 3 koki laki-laki yang semalam, sudah sibuk beraksi dengan peralatan masak mereka. Ah cieee romantis banget sih mereka. *uhuk* Pagi ini terlihat banyak pendaki lain yang mempunyai tujuan sama seperti kami. Belum apa-apa mereka sudah tanyakan apakah masih jauh mencapai puncak. Sedih sih jawabnya, karena memang masih jauh sekitar 6-7 jam lagi. T.T
Aksi para koki Gunung Butak. Hehehe
Setelah selesai sarapan, kami mendaki lagi sekitar jam 10an. Kami meninggalkan tenda dan hanya membawa bekal makanan secukupnya serta peralatan masak untuk digunakan ketika sampai di Padang Savana. Medan selanjutnya adalah hutan sehingga perjalanan kami bisa cepat dan cewek-cewek ini tidak rewel untuk minta banyak istirahat. Hehehe. Kami menyusuri hutan yang lebat dan panjaaaang yang kemudian berubah menjadi bukit berbunga kuning. Sebetulnya ada bunga edelweis juga, tapi sayang tidak banyak yang sedang mekar saat itu. Salah satu teman trip mengatakan hutan di sini sempat kebakaran ketika musim panas panjang awal tahun ini. Kebakaran menghabiskan sebagian pohon-pohon dan menyebabkan debu yang tidak bagus untuk dihirup.
Puncak Semeru seakan menantang diujung sana X_X
Bunga kuning liar yang gak tau namanya apa. Hahahaha
Hutan di Gunung Butak
Kami pun banyak melewati batang-batang pohon yang besar-besar yang tumbang di sepanjang penanjakan. Lumayan juga sih harus memanjat-manjat sedikit. :P Akhir dari bukit edelweis adalah kami menyusuri jalan dipinggir tebing yang curam yang hanya untuk 1 orang saja. Double S: Seru tapi serem.
Hanya jalan setapak, dan sisi kanan sudah jurang X_X
Dan taraaaa… tidak lama kemudian sampai lah kami di Padang Savana. Mirip bukit teletubbies. Sudah banyak tenda-tenda yang berdiri disana. Dan yang paling penting, di sinilah tempat sumber mata air Gunung Butak yang mengalir ke bawah, di mana tempat pertama kali kami mengambil air ketika akan memulai pendakian.
Padang Savanah
Mas Doni mengajak untuk membuat api unggun, menyeduh kopi dan indomie. Sementara para lelaki sibuk dengan alat masak mereka dan ngerumpi bersama para pendaki lain, Ica dan saya bergantian menunaikan ibadah sholat. Ingat ya jangan sampai gunung kau daki, laut kau sebrangi, solat kau lewati! Gak boleh! :D Udara di Padang Savanah ini super-super dingin. Air gunungnya pun sudah mirip es. Rrrrrrrrrrr…
View Padang Savanah
Kira-kira jam 5 lewat kami baru mendaki lagi untuk ke puncak terakhir, yaitu puncak Gunung Butak. Mas Doni tidak ikut naik, ia bilang menyiapkan tenaga untuk pendakian ke Semeru hari senin. Hiks. Sedih lagi kalau ingat Semeru. Selain itu, kami juga tidak membawa apapun ke puncak, jadi barang-barang ditinggal di Padang Savanah semuanya. Maka itu perlu satu orang yang tinggal untuk menjaga barang-barang tersebut.
Kangen sama makanan sederhana yang bisa bikin bertahan hidup di Gunung ini
To be honest, aku takut banget pada saat pendakian menuju puncak terakhir ini. Kemiringannya sudah melebihi 70% tegak lurus. Kanan kiri hanya pohon-pohon cemara, batu, dan tanah yang menurutku serem banget. Banyak bagian tanah yang sepertinya longsor ketika diguyur hujan. Dengan bantuannya Fian, eh atau Opik yah? Duh, habisnya mereka mirip banget jadi aku suka salah ingat. Hiks. Oke, seingatku sih Fian. Hahaha ya sudahlah yah. Intinya aku terus dipegangin *ehem*, dibantuin naik maksudnya, karena sumpah aku gak sanggup untuk naik sendiri. Karena setelah menanjak hampir 6 jam lebih, betul-betul kaki ku sudah mulai sakit dan keram. Aku serasa gak kuat lagi untuk menanjak tapi sudah tinggal dikit lagi. Yang hebat Mas Dikha sih, cepet banget itu kakinya mendaki. Beda memang kalau sudah pro ya.


Tepat sekali dengan sunset yang sudah mau turun dan jreeng jreeng… kami pun sampai di puncak tertingginya Gunung Butak yang sumpah bikin aku sengsara banget tapi happy. Hahahaha. Dan pengen banget aku gigitin itu awan-awan gembulnya Gunung Butak yang serasa dekat sekali dengan aku. ^^
Awan-awannya gemesiiin :*
Terima kasih Tuhan Yang Maha Kuasa yang keren abis ciptaannya. Keren banget cara Engkau mengizinkan aku bisa sekali lagi mensyukuri keajaiban alam ini. Terima kasih teman-teman yang mau setia membaca laporan perjalanan aku yang berhalaman-halaman ini. Hehehe.
Puncak Gunung Butak

Oiya karena kurang dari 6 hari lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1437H, sebagai muslim, saya mau mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat merayakan Hari Kemenangan bagi yang merayakannya :D

See you in the next tracesme. Keep traveling and do what you love to make your life is alive. :*:*:*
Bukan untuk dicoba di rumah tanpa pengawasan orang dewasa!
Tetap berusaha wefie :P
Sayang dibuang... fotonya... :P
Jangan sia-siakan jika ada kesempatan untuk narsis :P