Friday, July 22, 2016

PERJUANGAN GUNUNG CEREMAI, KUNINGAN

Setelah hampir 1 bulan lamanya tidak ngayap kemana-mana termasuk naik gunung, akhirnya hasrat untuk mendaki tidak bisa dibendung lagi. :P H-7 sebelum lebaran, aku memutuskan meng-iya-kan ajakan teman yang bertemu dari Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Raya di FB untuk mengeskplor Kuningan, Jawa Barat. Gunung Ceremai (sering salah kaprah disebut Ciremai, termasuk aku ^,^) yang juga termasuk dalam perbatasan Kab. Majalengka ini dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut memiliki pesona tersendiri yang menjadikannya favorit banyak pendaki untuk mendakinya lebih dari satu kali.

Jalur pendakian Ceremai dapat ditempuh melalui 3 jalur yaitu via Palutungan dan Linggarjati dari Kab. Kuningan dan Apuy dari Kab. Majalengka. Aku menggunakan jalur pertama untuk mencapai Ceremai. Menurut teman-teman sependakian, jalur Linggarjati lah yang paling banyak membuat mereka mengucap syukur, karena jalurnya yang supeeerrrr gilaaa.. Kata mereka medannya sangat terjal dan curam dengan kemiringan antara 70-80 derajat, jauh berbeda jika dibandingkan jalur Palutungan dan Apuy. Namun, untuk jalur pendakian terpendek Apuy lah pemenangnya. Hehe.
Sudah rindu berat dengan mendaki >,<
Desi dan aku berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 7.15 pagi menuju stasiun Cirebon Prujakan. Aku sangat menikmati perjalanan 3 jam di dalam kereta api (1 jam pertama baca buku; 1 jam kedua tidur; 1 jam ketiga baca buku lagi). Aku dan Desi tidak satu gerbong apalagi satu kursi, kami terpisah karena maklumlah pakai tiket sisa-sisaan yang harganya 2-3 kali lipat lebih mahal daripada biasanya. >.<

Sesampainya di Cirebon Prujakan, kami bertemu dengan Bang Erwin di mana ia sudah lebih dulu berangkat dari Stasiun Pasar Senen jam 5 pagi. Harusnya kami bertiga dari Jakarta, namun karena sudah kehabisan tiket kereta api jadilah kami terpisah. Huhuhu.

Dari Cirebon Prujakan, kami bertiga naik kendaraan umum untuk sampai ke Terminal Cirendang, Kuningan; 1 kali angkutan umum dan 2 kali mobil elf. Satu teman lagi, yaitu Edy (inisiator pendakian ke Ceremai) mengikuti kami dengan motor. Fyi, begitu cintanya terhadap Ceremai, bersama kami ini Edy melakukan pendakian yang ke-6 kalinya ke Ceremai. Wah, kalau Ceremai saja setia ia daki terus apalagi kalo ia mengejar cinta cewek, pasti getol yah! Hahaha :P

Angkot pertama dari depan Stasiun Cirebon Prujakan harganya Rp 4.000/orang sampai dengan Terminal Cirebon, lalu  berganti dengan mobil Elf menuju terminal bayangan (aku namain sendiri karena gak tau namanya apa, hehehe) dengan membayar Rp 5.000/orang. Terakhir dari terminal bayangan itu kami berganti mobil Elf lagi untuk menuju Terminal Cirendang sebesar Rp 50.000 bertiga.

Sesampainya di Terminal Cirendang sekitar jam 1 siang, kami dijemput oleh satu orang teman yang tinggal di Kuningan, Alan, yang juga bergabung dengan pendakian ke Ceremai. Bersama-sama kami menuju pos pendaftaran Palutungan dengan masing-masing menggunakan motor. Alan dengan sangat baik memberikan tumpangan kepada kami dari Cirendang ke Palutungan dengan “memberdayakan” adik dan teman-temannya. Hehehe. Terima kasih banyak ya Alan dan teman-temannya :D

Tiket masuk ke Gunung Ceremai terbilang mahal yakni sebesar Rp 50.000. Itu termasuk biaya camp, asuransi, dan 1 kali makan. Sayangnya, di jalur Palutungan, kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sertifikat seperti di jalur Apuy atau Linggarjati.
Full team: Edy, Diana, Desi, Alan, Erwin
Pendakian Ceremai
Setelah makan siang dan menunaikan ibadah sholat, sekitar jam 3 sore kami memulai pendakian. Dengan di awali doa, dengan mantap kami melangkahkan kaki. Ini pertama kalinya sepanjang hidup aku menghabiskan hari lebaran kedua dengan mendaki gunung. Rasa gelisah di dalam benak dan rindu berjumpa dengan alam bebas membuat aku sangat antusias menjajaki Gunung Ceremai.

Seperti halnya gunung-gunung yang sebelumnya aku daki, pada awalnya pendakian disuguhi oleh hamparan sawah luas. Di sini budidayanya adalah sayur sawi dan aku hampir tidak mengenali bentuknya karena saking lebar-lebarnya daun tersebut *ngeles karena gagal menjawab tanaman apa itu* T.T
Pohon Ceremai bukan sih?
Selanjutnya, medan berubah menjadi terjal ketika melewati mata air di kaki gunung Ceremai. Napas mulai ngos-ngosan karena jantung yang berdegup kencang. Cuacanya cukup panas di Gunung Ceremai tidak seperti gunung-gunung sebelumnya yang selalu dingin. Udara sejuk dan segar tetap berhembus namun diiringi dengan keringat sebesar-besar biji jagung yang terus mengucur di sekujur badan. Ini kali pertama aku naik gunung tanpa menggunakan jaket.
Pos Cigowong
Setelah berjalan hampir 3 jam kami sampai di pos Cigowong bersamaan dengan waktu sholat maghrib. Ini merupakan pos pertama via Palutungan yang kami (kecuali Edy) kira merupakan pos ke-4. Satu hal baru yang aku pelajari di pendakian ini adalah jangan mudah percaya dengan kata-kata para pendaki. Mostly, mereka PHP a.k.a pemberi-harapan-palsu! Edy dengan “manisnya” mengiyakan setiap tanda-tanda yang kami temui selama pendakian ke pos Cigowong ini sebagai tanda pos-pos sehingga saat sampai di Cigowong kami kira sudah sampai di pos ke-4. >,<” Kami tahu dari tukang warung bahwa Cigowong merupakan pos pertama. T,T Semua mengerang sementara Edy hanya tertawa puas sambil minta maaf. Puas banget yah! Huft!

Pos Cigowong sangatlah luas. Banyak warung berdiri di sana, sehingga dijadikan tempat bersinggah bagi para pendaki yang kelelahan sebelum menuju medan pendakian yang lebih berat dari pada sebelumnya. Terdapat beberapa pendaki yang juga terlihat mendirikan camp di sana. Fyi, pos Cigowong merupakan lokasi sumber air dan selanjutnya tidak akan ada sumber air lagi sampai dengan di Goa Wallet (setelah pos 7). Jadi kalian harus memastikan persediaan air kalian cukup sampai dengan ke puncak Ceremai. Kami sempat kehabisan air di atas dan lumayan panik karena artinya selain akan kehausan, kami pun tidak akan bisa masak karena masak juga butuh air. T,T

Lalu kami kembali ke zaman dahulu, melakukan barter dengan pendaki lain di mana mereka kehabisan rokok. Hahaha. Seru juga yah kalau dipikir-pikir sekarang. Kami kehabisan air dan kemudian saya menyadari value of money doesn’t work there. Makhluk macam apa aku yang mengatakan kehabisan air merupakan hal seru. Ya tapi justru jadi ada cerita kan? Dari pada semuanya hanya lurus-lurus saja. :P

Setelah berleye-leye (read: sholat, tidur, makan gorengan; gorengannya rasanya biasa saja tapi entah mengapa terasa nikmat disaat lelah dan kedinginan *.*, minum susu, ngopi-ngopi :P) di pos Cigowong kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak jam 20.41. Udaranya lumayan dingin saat itu, mungkin karena kami hanya diam saja sehingga kami cukup menggigil dan semuanya serentak memakai jaket. Tapi seperti yang saya sebut di atas, Ceremai memiliki suhu yang aneh, udaranya dingin dan sejuk tapi juga panas, sehingga saya akhirnya kembali berkeringat di pendakian malam tersebut dan memutuskan melepas jaket karena benar-benar seperti di sauna. >,< Kalian boleh coba sendiri yah :P

Kami mendaki sekitar 2 jam lamanya dengan medan yang banyak menghabiskan banyak tenaga karena terus-menerus “dihajar” dengan tanjakan terjal yang medannya merupakan tanah yang cukup basah dan licin. Desi yang paling banyak berhenti untuk sekedar mengatur napas atau istirahat beberapa menit, sementara aku masih cukup kuat dalam hal menanjak (tapi selalu merengek-rengek waktu turun >,<). Pos ke-2 yaitu Kuta, pos ini sangat kecil dan tidak bisa untuk camping sehingga kami hanya melewatinya saja.
Salah satu medan pendakian Ceremai
Kami memutuskan untuk camp sesampainya di pos ke-3, Pangguyangan Badak. Sudah ada 2 tenda di atas sana. Seperti biasa, para lelaki mulai aksi yaitu mendirikan dua tenda untuk 5 orang. Mereka sibuk memasang-masang besi-besi sebagai tulang tenda, membuatnya berdiri, memastikan tidak ada besi yang kusut, menancapkan pasak di setiap ujung tenda, dan terakhir memasang flysheet di atas dan di antara kedua tenda. Yang perempuan? As usual, kami tim hore saja sambil pegangin senter :P
Pos Pangguyangan Badak, Ceremai
Menuju Puncak Ceremai
Sesuai perjanjian yang telah disepakati secara mufakat dan kekeluargaan *kayak rapat RT-RW yah :P* pada saat makan malam, kami melanjutkan pendakian jam 2.30 dini hari. Berbekal 1 tas carriel milik Alan yang isinya alat masak, 1 matras, makanan dan minuman secukupnya kami dengan penuh keyakinan dapat mencapai puncak Ceremai pada saat sunrise.

Karena tidak membawa beban hidup yang berat apapun kecuali Alan *hohoho*, kami semua sangat cepat mendaki meski medannya cukup terjal. Ya, pokoknya kamu jangan heran dengan Ceremai karena gunung ini terkenal dengan pendakiannya yang curam dan terjal apalagi kalau kamu lewat Linggarjati, siap-siap “terpesona”. :P

Tanpa hambatan kami melalui pos 4 - Arban dan pos 5 - Tanjakan Asoy selama 1,5 jam. Kami baru beristirahat di sana bersama 2 orang pendaki yang sedang ngopi. Mereka (Fakhri dan temannya) kemudian melanjutkan pendakian bersama kami. Pos selanjutnya adalah Pasanggrahan yang kami tempuh di 1 jam selanjutnya.

Kami semua beriringan mendaki dengan tempo mengobrol, bercanda, nyanyi-nyanyi covering'in lagu yang di stel bang Erwin, diam, dan begitu seterusnya. Lalu cahaya dari langit sudah mulai masuk dari sela-sela pohon-pohon pertanda sunrise sudah siap menyapa bumi. Namun, kami tak kunjung sampai di Sanghyang Ropoh (sepertinya ini adalah pertigaan tempat bertemunya jalur Palutungan dengan Apuy).
Sunrise nya dapet di perjalanan menuju Puncak Ceremai *,*
Edy pun bilang, “tak apa yah tak dapat sunrise karena sepertinya tidak akan sampai di puncak tepat waktu”. Jujur sih, aku kecewa berat, tapi ya mau bagaimana lagi, kalau mendaki bisa dengan metode naik-helikopter-sampai-puncak aku tidak perlu khawatir tidak bertemu sunrise, lah ini cuma modal kaki, sudah gitu kaki cewek lagi, gak ada apa-apanya dengan kaki cowok yang setrooooong. T,T

15 menit yang dijanjikan Fakhri untuk sampai di pertigaan Palutungan-Apuy dari Pasanggrahan pun menyedihkan. Menyedihkan karena lagi-lagi kami kecuali Edy tentu saja menjadi korban PHP pendaki lainnya. 15 menit (read: 2 jam) kemudian kami sampai di pertigaan yang di maksud. Wow! Aku jadi meragukan kelulusan matematika para pendaki ketika SD! Mereka berkilah, “ya kan untuk menyemangati teteh”. Duh, please ternyata meme tentang laki-laki kurang memahami wanita itu betul yah. Besok-besok yuk para lelaki, kita adakan konferensi untuk menyamakan “paramater penyemangat” supaya gak salah sasaran lagi kayak gini. Deal?! *sambil nodongin palu* :P
Pendakian menuju Puncak Ceremai >.<
Di pertigaan Palutungan-Apuy sudah cukup terik, kami kepanasan warbiyasaaaah. Sambil masih ngomel cantik kepada dua pendaki, Fakhri dan temannya, atas insiden 15 menit =  2 jam, aku, Bang Erwin, dan Alan kembali dijanjikan oleh Fakhri bahwa kita akan sampai di Goa Walet dalam 30 menit. Dengan menyamakan waktu di hp masing-masing *saking takut kena PHP lagi*, kami kembali memegang janji tersebut. Oiya, untuk Desi, ia butuh perjuangan super ekstra untuk “bergulat” dengan medan terjalnya Ceremai. Edy yang setia menemani Desi *uhuk* mempunyai cukup kesabaran untuk terus menyemangati. Fyi, Desi sempet nangis karena disuruh turun lagi sama Edy kalau memang tidak sanggup sampai puncak. Duh, cowok! Di gunung aja masih bisa bikin nangis anak gadis orang yah. ><
Goa Walet, Ceremai
Untunglah kami bertiga tidak jadi korban PHP lagi, sampai di Goa Walet sekitar 30 menitan dengan penuh susah payah. Dengkulku sudah super lemas, sementara kaki rasanya sudah mau copot. Kalau saja ada yang membuka jasa sewa kaki, aku pasti orang pertama yang akan sewa sebanyak 10 kaki. Sudah seperti pesan gorengan saja. Hahaha.

Perjuangan kami tinggal “satu tanjakan” lagi, yaitu puncak Ceremai. Hati sudah mencelos ketika melihat medan di depan mata begitu mengerikan. Ingin rasanya nikah saja *loh* :P Dengan menguatkan hati, tangan, dan terutama kaki-kaki rentan ini, aku melanjutkan pendakian. Sungguh medan terberat, bebatuan dan kemiringan 45 derajat. Mendaki di atas batu-batu merupakan pengalaman pertamaku. Duh, betul-betul mengalahkan pendakian ke gunung Butak bulan lalu. Super berkesan banget deh Ceremai ini. Summit terjal dan bebatuan merupakan perpaduan yang sukses buat jantung ini olahraga ekstra. >.<

Daaaan… Yeay!!!!!! Sampai lah aku di puncak Ceremai yang menyambut dengan angin yang supeeeer kenceng. Tanpa ada satu pohon pun, kecuali tanaman-tanaman bogel di sisi kanan, angin di ketinggian 3.078 mdpl ini bebas kesana kemari. Dengan lemas aku duduk di salah satu bebatuan sambil berpegangan kencang pada batu tersebut. Aku sedang menyatukan keberanian untuk berdiri di puncak Ceremai dan berusaha membaur dengan angin dan udara di sini.
Puncak Cereremai 3.078 mdpl
Selamat Desi, kamu sukses mencapai puncak Ceremai! :*
Hah! Ceremai merupakan pendakian terpanjangku dengan total pendakian hampir 13 jam yang berhasil aku kalahkan meski dalam pendakian ini aku termasuk banyak mengeluh. Tapi aku tetap bersyukur karena masih bisa mengalahkan rasa takut, emosi, dan lelah sehingga Tuhan membalasnya dengan pemandangan super menakjubkan. Thanks God! ^.^
Formasi: Alan, Erwin, Diana, Temannya Fakhri, Fakhri

Puncak Gunung Slamet mengintip mungil dibalik awan :*
Awan-awan gembul itu yang selalu bikin aku kangen mendaki ^.^
Terima kasih para traveler yang setia membaca ceritaku sampai sini. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme! :*:*:*

8 comments: