Wednesday, August 24, 2016

WISATA SUKU BADUY DALAM, BANTEN

Banyak cara bagi kita untuk menyambut hari kemerdekaaan negara kita. Umumnya, masyarakat merayakan 17 Agustusan dengan berbagai macam permainan tradisional; lomba makan kerupuk, memasukkan jarum ke botol, joget jeruk, balap karung, tangkap belut, dll; lomba tari tradisional modern atau dance, dan syukuran. Namun semakin berkembangnya negara kita, anak-anak muda pun semakin kreatif dalam menyambut hari kemenangan negara kita. Salah satunya dengan naik gunung dan mengibarkan bendera merah putih di puncak atau melakukan kegiatan bakti sosial atau lebih dikenal dengan sebutan baksos. Yang kedua yang kali ini aku lakukan.
Gerbang menuju Pedalaman Suku Baduy
 Awalnya tidak pernah terpikir olehku untuk merayakan 17 Agustusan dengan berbaksos. Beberapa teman pun mengajak untuk mendaki gunung, namun aku menolak karena mendaki tidak cukup satu hari sehingga perlu ambil cuti sementara aku tidak ingin ambil cuti lagi. Tepat jam 11 malam tanggal 16 Agustus 2016, aku mendapatkan panggilan telepon dari nomor telepon tidak dikenal yang ketika diangkat ternyata temenku, Ajeng.

“Besok lu kemana? Ada acara gak? Ikut kampus gw yuk baksos di Baduy”, celoteh cewek cerewet dari ujung line.
“Gak ada acara sih. Baduy di mana?”
“Banten……..”

Begitulah percakapan kami sampai pada akhirnya berujung pada penjemputan dari driver g*jek dan aku pun tiba di depan kampus USNI, Gancit 25 menit kemudian. Penculikan yang sungguh tidak romantis banget yah ><

Sesampainya aku di sana, rombongan 12 orang pun langsung berangkat menggunakan mini bus. Bus terasa begitu dingin sedingin hatiku karena jumlah penumpang yang sedikit. Perjalanan kami memakan waktu hampir 4 jam sehingga sampai di pintu masuk Baduy Luar langitnya masih gelap. Kami tetap melanjutkan tidur di bus sampai dengan matahari pagi menyapa bumi.

Menjelang jam 7 pagi kami semua turun dari bus untuk sarapan. Di pintu masuk Baduy Luar ini terdapat banyak warung makan, bahkan sudah mini market bermerk Alf*m*rt. Sekitar jam 7.30 kami melangkahkan kaki menuju Baduy Dalam bersama warga asli Baduy atau disebut jugaorang Kanekes. Mereka berjumlah 7 orang dengan ciri khas ikat kepala kain berwarna putih dan berjalan tanpa alas kaki. Juga pakaian mereka yang hanya berwarna putih dan hitam. “Memang hanya warna ini yang dibolehkan”, begitu jawab Kang Sapri ketika ditanya mengapa mereka tak seragam pakaiannya.

Fyi, pakaian yang mereka kenakan merupakan hasil tangan mereka sendiri yaitu dengan tenun. Untuk bertahan hidup, ibu-ibu bahkan anak perempuan berumur 10 tahun menenun kain menjadi selendang. Mereka juga turut membuat pernak-pernik seperti gelang, gantungan kunci, alat penghisap rokok yang semuanya dibuat dari alam seperti jeramian dan kulit buah-buahan.
Wisata alam Suku Baduy, Banten
Yak, kembali ke perjalanan dari luar menuju dalam Baduy. Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk orang-orang normal seperti kami, sementara bagi suku Baduy asli yang super kuat-kuat hanya membutuhkan 1,5 jam saja. T_T. Padahal mereka membawa begitu banyak sembako-sembako yang dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa perwakilan USNI. Ada beras, mie instan, tepung, dll.

Kami juga sering istirahat karena cuaca yang begitu terik membuat napas tersengal-sengal. Bagi beberapa teman dan aku yang sudah sering naik gunung *ecieee* medan menuju Baduy Dalam sebetulnya tidaklah begitu sulit. Bonus jalan landainya memang hanya sedikit karena didominasi oleh tanjakan, namun tanjakannya sebetulnya masih normal, ya lagi-lagi itu untuk kami yang sudah terbiasa hiking tidak untuk yang belum sama sekali pernah ya **colek Ajeng**. :P

Kaki tetap gemetar hebat, pangkal paha lelah menopang badan, napas sesak, jantung berdegup kencang, sementara keringat sebesar-besar biji jagung terus menerus mengocor di seluruh badan. Rasanya ingin menyerah saja hati ini sudah lelah. Entah berapa banyak kalori tubuh yang  berhasil dibakar dalam perjalanan panjang ini. Hahaha. Serasa sepanjaaaaang apaaa yaa. :P
Wisata alam, Suku Baduy, Banten
Kami juga sempat disuguhkan buah kelapa asli Baduy. Rasanya nggak ada bedanya kok dengan kelapa yang lain. Yang beda hanyalah tempat dan dengan siapa kamu menikmatinya *aih* Kami menyeruput air kelapa langsung dari batok kelapanya. Lalu untuk memakan bagian dalam kelapanya menggunakan kulit kelapa itu sendiri yang sudah di desain sebagus mungkin menjadi sendok berkat keahlian tangan para suku Baduy tersebut. Hehehe.

Perjalanan kami melewati beberapa desa dengan tujuan ke Desa Cibeo. Baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, rumah mereka yang mirip-mirip rumah panggung Minang ini masih terbuat dari kayu-kayu. Namun tetap terdapat perbedaan yang mendasari mengapa ada sebutan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Selama berjalan di perkampungan Baduy Luar, kalian akan mendapati jalan setapak yang memisahkan sisi kanan dan kiri rumah atau di hutannya sudah menggunakan batu-batu yang disusun rapi seperti paving block jika di Jakarta. Selain itu bangunan rumah-rumah kayu dan pagar mereka terlihat sudah menggunakan paku. Dua hal kasat mata ini yang paling dapat kami temukan.

Selain melewati perkampungan dan hutan, kami juga beberapa kali menyebrangi sungai meggunakan jembatan tinggi dan panjang yang terbuat dari bambu. Jembatan ini merupakan pemisah antara satu desa dengan desa lainnya. Awalnya, melihat jembatan yang tinggi itu, aku tidak punya perasaan apapun. Mungkin karena sibuk jeprat jepret dengan kamera baru *eeehhh* hahaha. Tapi ketika sudah menyebrang setengah jembatan, hati mencelos, air muka sudah mulai berubah, mata diusahakan tidak melihat ke bawah sungai hanya sampai sebatas bambu guna membantu kaki dalam memilih langkah. Kenapa begitu? Ya, karena jembatannya goyang tau! Gimana nggak mau goyang, karena ditengahnya tidak ada bambu yang dipasang ke sungai sebagai kaki-kakinya. Huhuhuhu. Aku deg-degan sambil nyerocos panik dan jujur saja hampir setengah lari demi ingin buru-buru sampai di ujung jembatan.
Sungai perbatasan antar desa
Jembatan kedua atau ketiga merupakan batas area Baduy Luar dan Dalam. Itu pertanda bahwa peraturan no electronics allowed pun diberlakukan. Suku Baduy Dalam masih memegang teguh peraturan leluhur kita sehingga entah belum atau tidak sama sekali bisa menerima adanya perubahan yang bersifat modernisasi. Mereka betul-betul masih menyatu dan bergantung pada alam.

Hal yang cukup menyentuh perasaan dan pikiran aku *ehem* adalah ketika kami mengobrol tentang pernikahan. Suku Baduy tidak mengizinkan perceraian. Mereka berpegang pada prinsip menikah sekali, menikah sekali, dan mati sekali. Lain hal jika pada perjalanan hidup mereka ternyata pasangan mereka meninggal, maka pernikahan kedua diperbolehkan. Duuuuuhhh romantis banget kan. Jadi sehidup semati bersama pasangan seperti di happy ending fairy tale betul-betul ada di sana. Baper sekali kau jadi jomblo hah! >.<
Suku Baduy :*
Fyi (lagi), warga asli suku Baduy ganteng-ganteng dan cantik-cantik loh parasnya. Kecantikan mereka betul-betul alami. Mungkin hal ini juga karena mereka tidak meggunakan bahan kimia sama sekali. Mereka mandi, mencuci baju serta piring hanya menggunakan air sungai. Dan kerennya lagi mereka tidak memiliki masalah dengan bau badan loh, yah kecuali kalo habis berpanas-panasan setelah menempuh perjalanan jauh ya. Hehehe. Maka dari itu tak heran jika mereka bisa hidup sampai dengan umur 126 tahun loh. Di rombongan kami pun terdapat bapak tua yang sudah berumur 60 tahun tapi wajahnya yang masih terlihat muda serta badannya yang kuat menuruku lebih cocok berumur 35-40an. Betul-betul natural and fresh! :)
Foto bersama sebelum setelah itu no electronic allowed
Nah tapi sayang amat disayang nih, karena mereka masih berpegang teguh pada peraturan yang dibuat leluhur menjadikan mereka tidak bisa mencicipi bangku sekolah. Pendidikan formal dianggap berlawanan dengan adat-istadat mereka. Seperti yang sebelumnya aku sebut bahwa anak perempuan berumur 10 tahun saja hanya menenun saja kegiatannya, sementara anak laki-laki membantu di luar. Ya, selalu ada plus minus di dalam hidup ini kan?

Tapi jangan salah sangka dulu. Meski tidak sekolah dan mungkin juga tak bisa baca tulis, mereka sudah sering main ke Jakarta loh! Jalan-jalan ke Mal Taman Anggrek saja mereka sudah cicipi. Hehehe. Bagaimana cara sampai di sana? Yap, hanya dengan berjalan kaki! Dan karena mereka sudah sangat terkenal sehingga mereka punya banyak kenalan di Jakarta. Mereka beristirahat di rumah-rumah teman-teman mereka. Seru kan? Jadi jika suatu saat kaluan berkunjung ke Suku Baduy jangan enggan meninggalkan alamat dan nomor telepon karena mereka akan senang sekali mengunjungi kita. :D

Sesampainya di kampung mereka, kami beristirahat di rumah Kang Sapri. Aku sempat min-main di sungai yang airnya jernih sehingga dasar sungai bisa terlihat jelas. Sayangnya karena sudah tidak boleh menggunakan elektronik, aku pun tak dapat mengabadikan momen itu. :(

Tenaga yang sudah habis terkuras karena cuaca yang begitu panas membuat kami semua kelelahan. Beralaskan tikar yang terbuat dari bambu rasanya sudah cukup membuat kami tidur nyenyak serasa di hotel bintang lima. :D

Sekitar 1 jam kemudian, kami yang tertidur dibangunkan untuk makan siang. Melihat nasi putih di dalam bakul kayu, ikan asin dan mie goreng yang banyak dan tinggi menjulang di atas penggorengan membuat mata ini berbinar-binar. Mungkin mereka merebus sampai 20 mie instan karena itu betul-betul banyak.
Dengan lahap kami menyantap makan siang kami. Dan tak disangka-sangka, ternyata Kang Sapri and the genk memiliki porsi makan yang banyak. Mereka makan 3-4 kali lebih banyak dari pada kami. Wah! Hebat! Ya ini sesuai dengan kenyataan bahwa mereka berjalan tanpa alas kaki dan memikul barang-barang yang banyak di pundak mereka. Tenaga yang keluar banyak sudah sepantasnya dibayar dengan asupan makan yang banyak juga bukan? :)

Selesai makan siang, entah mengapa rasa ngantuk malah semakin besar. Kami semua tertidur lagi. Berbaris seperti ikan pepes kami menyelam ke mimpi masing-masing. Daniel yang sudah duluan ke alam mimpi terlihat sangat asyik karena suara mendengkurnya yang hebat cukup menganggu aku beberapa saat yang tidur di sampingnya. Hahaha.

Kami baru betul-betul bangun sekitar jam 4 sore. Karena memang tidak ada rencana untuk menginap karena esok harinya masih kerja dan kuliah, kami pun segera bergegas untuk pulang. Untungnya perjalanan pulang kami lebih cepat hanya sekita 1,5 jam. Ini karena kami tidak melalui jalur yang sama saat berangkat. Jalur pulang hanya melewati dua desa. Saat ditanya mengapa berangkat harus berjalan sejauh 4 jam (versi kami), salah satu dari mereka menjawab karena jalur berangkatlah yang merupakan jalur wisata karena melintasi enam desa jika tak salah ingat.

Bahkan Bapak Jokowi saja yang ingin membawa pasukan 10.000 orang untuk berkunjung ke Baduy Dalam saja masih dalam proses nego dengan warga  setempat dikarenakan mereka keberatan menerima tamu sebanyak itu. Selain itu mereka juga keberatan karena bapak Jokowi meminta untuk lewat jalur pulang kami sebagai jalur pergi dan pulang mereka di mana itu bertentangan dengan peraturan yang ada.
Dirgahayu Indonesia!
Baiklah teman-teman itulah pengalaman baruku. Bukan hanya wisata alam, aku pun belajar untuk lebih mencintai budaya sendiri. Aku begitu terkagum dengan adat-istiadat yang sudah dibuat oleh para leluhur kita. Lebih kagum lagi bahwa masih ada sekelompok orang/suku diantara jutaan ribu warga negara ini yang masih mempertahankan hal itu. Meski harus hidup terisolasi dari dunia luar namun mereka tetap bisa hidup di zaman modern ini. Tidak lain dan tidak bukan yaitu untuk tetap berada di dalam garis dan menjaga apa yang sudah diberikan oleh nenek moyang kita. Selamat ulang tahun negaraku! Dirgahayu-71 Indonesiaku!

See you in the next tracesme! Keep spread love and fighting! :D

3 comments:

  1. Terimakasih, Diana.

    Sudah menjadi bagian dari kami, Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) dalam keberhasilan program Bakti Sosial & Silaturahmi USNI dengan Warga Suku Baduy, Banten.

    Jangan kapok kapok,,,
    Yuk.. Daki

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama. terimakasih juga sudah mengajak saya utk berbagi pengalaman seru di Baduy. Yuk atuh bapak daniel kita kapan-kapan mendaki gunung. Kita ajakin inces jg hehehe...

      Delete
  2. Boleh minta nomer telp org baduy yg bisa di hubungi ga

    ReplyDelete