Monday, September 11, 2017

SURGANYA KEINDAHAN LAUT TAKABONERATE


Cara terbaik menikmati hidup :3 [Tinabo Island]
Weekend, siang hari yang terik di bulan yang seharusnya sudah masuk musim hujan, di dalam kamar, menatap layar laptop, itu aku.

Me: Mmmm.. Kerang Ajaib dapatkah kau membantuku mengambil keputusan?
Kerang Ajaib: Apa yang membuatmu gelisah?
Me: Haruskah aku melanjutkan menulis blog lagi? >.<
Kerang ajaib: Tentu saja, anak manis! :9 :9
Me: Puja Kerang Ajaiiiiib!!!! LULULULULULU!!
puja-kerang-ajaib LULULULU

Well… then here I am, coming back to my own creation world... Yeayyy *lari-lari di pasir sambil bawa papan tulisan “Welcome back, Me!!” 

Sejujurnya, banyak tempat baru yang sudah ku singgahi sejak postingan terakhir tahun lalu. Singapore, Kuala Lumpur, Jogja, Bandung, Gn. Krakatau, Gn. Papandayan, Gn. Manglayang, Gn. Merbabu, Gn. Lembu, dan berita besarnya Puncak Mahameru akhirnya berhasil aku capai di tahun ini!!! Waaaah,, setelah sebelumnya jual mahal, kali ini Semeru manis sekali padaku. Proud me :3:3
Teaser dulu lah :P
Tapi karena kebanyakan perjalanan tersebut dilakukan ditengah-tengah low-season-audit yang tetap saja lembur-lembur juga :/ well, aku ga sempet poles-poles ini blog dengan jejak-jejak main aku, padahal as some people know, blog aku memiliki ciri khas very-detail-oriented karena keinginan besarku ngeblog adalah mengajak kalian seolah-olah berada bersamaku di saat aku melakukan perjalanan dengan hanya membaca deretan kata yang puaaaaanjaaang sekali ini. Nah, bagaimana sekarang mau cerita detail kalau perjalanannya saja sudah berbulan-bulan yang lalu. Huhuhuhu..

Well.. aku tetap putuskan beberapa perjalanan sebelumnya satu persatu akan diposting dengan ingatan aku yaa well apa adanya, karena jujur belakangan ini aku sudah sering lupa contohnya saja waktu kemarin di-surprise-in ulang tahun sama temen kerja. Aku bingung gitu kok lilinnya berangka 26 yah? Rasa-rasanya harusnya 20 lho?! *iya neng kamu masih umur 20 ketika itu 6 tahun yang lalu sambil toyor kepala sendiri >,<*

Tapi masih tapi, sebelum bernostalgia dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, postingan pembuka perjalanan di 2017 ini, aku suguhi kalian dengan perjalananku ke Surganya Keindahan Laut Takabonerate berlokasi di Kepulauan Selayar, Makassar yang aku kasih two thumbs up kalo perlu tambahin ni dua jempol kaki. Aseelliiikk!!! Ngeselin banget!! Keren bangettt!! Wahh kalian harus kesana!! Sumpah!! Gak akan nyesel, gak akan rugi!! Malah bikin kangen kayak dia ngajakin balik lagi kesana! Hiks

Takabonerate menjadi perjalanan (mungkin) terjauh di tahun 2017 ini. Takabonerate menjadi perjalanan pertama aku yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam barisan tempat tujuan aku selain pelaminan *eh*. Takabonerate menjadi perjalanan pertamaku yang “dipaksa” temen yang hampir berjam-jam aku di doktrin dengan foto-foto pemandangan yang jujur aku ga kuat nahan iler melihatnya dan juga segala macam rencana perjalanan serta perkiraan budget share cost per-orangnya. Well, sekuat apapun aku menahannya, ternyata rapuh juga dinding pertahananku, dan Takabonerate pun aku kunjungi dengan harapan yang (terlanjur) di set tinggi sekali.
Udah bisa bikin cover album belom? :P (Formasi bawah: Suryo, Diana, Roni, Melvin)
Perjalanan panjang ditandai dengan mengangkasanya pesawat berlogo singa merah dari Bandara Soetta menuju Sultan Hasanuddin, Makassar. Setelah 2,5 jam “duduk” di udara, kami bertiga sampai di Makassar jam 08.00 WITA. Kami? Oiya nyaris kan lupa menyebut formasi perjalanan ini. Hehehe. Aku berangkat dari Jakarta bersama Bang Roni dan Melvin, sementara Suryo terbang dari Bali.

Temen: Semuanya cowok?
Aku: Yes
Temen: Lah lu tidurnya gimana?
Aku: Ya tinggal tidur aja, so what?
Temen: Tapi itu kan cowok semua
Aku: Terus gw harus batalin perjalanan gw dimana itu tiket pp uda dibeli (ditalangin Bang Roni pula) karena 1 cewe yang lain batal dan gw terlanjur punya bayangan Takabonerate di mata gw? Duh nggak gw banget plisss
Temen: Yauda hati-hati nak kamu disana, jadi princess 6 hari dikelilingin cowok-cowok
Aku: Zzzzzzzz

Jadi, plisss yang baca jangan bawel yes, tanya-tanya kenapa bisa ada 1 cewek, jomblo pula, mainnya sama cowok gak cuma 1 tapi 3 cowok. *angkat kepalan tinju ke udara* ^n^
Diambil dar Mbah-Google karena lupa dokumentasiin sendiri T.T
Yuk.. balik ke Makassar..

Di bandara Makassar kami disambut oleh 1 teman yang sudah duluan sampai di sana, which is Suryo. Lebih tepatnya kami yang nyamperin doi sih secara doi lagi tidur asyik ala-ala Hawaii pake kaos kutang lengan buntung dan celana pendekan, serta kacamata hitam kayak tukang pijet *sorry Yo gatel ni lidah hehe* di “sofa” ban truk super besar warna pelangi yang di jajarkan rapi di luar pintu kedatangan bandara Sultan Hasanuddin. Kelakuannya yang sok exotic itu sepertinya dipengaruhi juga oleh festival marathon yang diikutinya, sejauh 42.195km di Bali, tepat sebelum cerita perjalanan Takabonerate ini dibuat. Naaah, marathon sejauh itu saja dilakonin dengan penuh kesabaran dan ketekunan lho, kebayang kan kalo nanti dia sudah jadi suami?! Semoga Beruntung banget deh istrinya!! :P

Perjalanan menuju Takabonerate, kami menggunakan jalur darat dan laut karena memang belum ada jalur penerbangan sampai ke sana. Well, di Pulau Kayuadi sedang dibuat bandara dan mungkin akan rampung dalam 1-2 tahun ke depan. Dan memudahkan para traveler meyambangi Takabonerate sebagai tempat wisata yang bisa banget ngalahin Bali in my perception! Tapi gw yakin harga tiket pesawat ke sana bakal segila ke Papua! ^,^

Dari bandara, kami order Grabcar menuju Terminal Malengkeri untuk mengejar bus yang menuju Pelabuhan Bira. Perjalanan menuju Malengkeri melalui jalan tol yang betul-betul bebas hambatan! Luar biasa! Tidak seperti di tol di Jakarta >n<. Setelah 1 jam di jalan, ternyata benar saja kami ketinggalan bus ke Bira/Pammatata. Jadilah kami menyewa mobil omprengan yang mau langsung mengangkut kami. Fyi, kapal terakhir yang berangkat dari Pelabuhan Bira ke Selayar adalah jam 4 sore. Dengan perjalanan darat Bira-Selayar memakan waktu 6 jam perjalanan jelas membuat kami was was apakah driver bisa mengantarkan kami tepat waktu. Untuk kalian yang punya dana lebih, baiknya pesan tiket pesawat saja dari Makassar ke Selayar. Harganya cukup mahal sih untuk penerbangan singkat 35 menit yaitu sekitar IDR 400k – 500k, tapi berguna banget memangkas perjalanan darat selama 7 jam ditambah 2 jam di laut.

Dan ternyata?! Drivernya bisa tepat waktu doong sampai di Pelabuhan Bira jam 3.45 WITA dengan sekitar 20 menit dipotong jam makan siang karena drivernya kelaperan. Sambil turun dari mobil, dia teriak “sudah setengah perjalanan kok” menjawab kami yang bertanya apa mungkin sampai tepat waktu padahal sudah jam 1 siang.

Well, perut laper sih tapi dari pada ketinggalan kapal lagi kan? Tapi masih tapi, jangan tanya bagaimana gaya menyetir driver di daerah ini. Tidak ada yang patut dicontoh sama sekali apalagi dijadikan calon suami! Duh nggak deh! *ketok-ketok kepalan tangan bolak-balik meja-kepala* Kenapa? Karena sepertinya si driver saja gak sayang sama diri sendiri apalagi sama istrinya nanti? *kyaaa* Nggak gitu ding! Maksudnya yah, si driver nyetirnya ugal-ugalan banget, nyalinya ngelebihin orang-orang yang berbondong-bondong ngantri Histeria di Dufan! Suatu kali si driver menyalip mobil jalan mobil di depan tapi tipis banget jaraknya dengan mobil yang lawan arah depan mobil kita dan *AAARRGHH”, keluarlah teriakan lumayan kenceng ku diiringi lafal istigfhar yang bikin orang-orang semobil nengok ke aku dan bilang “gak apa-apa Diana, masih jauh kok jaraknya”. *ndasmu kui masih jauh, dada gw sesek liat maut di depan mata* >n< kesel lagi wkwkwk

Ok, back to Bira. Penyebrangan ke Selayar memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sampai di Pelabuhan kami langsung naik bus Damri (kalau gak salah ingat) untuk menuju Pelabuhan Benteng, Selayar. Perjalanannya hanya 30 menit dan sampai di sana kami sudah menyewa mobil dari travel yang di jemput oleh Bang OG (sebelumnya aku tulis "Oge" yang belakangan aku ketahui doi dulu rocker berambut gondrong makanya dipanggil OG stands for Om Gondrong :P). Untungnya, Bang OG masih lebih manusiawi lah nyetirnya ketimbang driver Makassar. :3:3
Laut lepas Selayar, Makassar, Sulawesi Selatan ^n^
Daaaan… panjang sekali ya guys kalau harus aku ceritakan secara detail perjalanan 6 hari ini yang di dominasi oleh darat-laut-darat-laut? Boleh kah kali ini aku memangkasnya langsung ke poin-poin perjalanan? Yess, terima kasih, aku sudah memutuskannya. :P

Berdasarkan rencana itinerary yang sudah dibuat seindah mungkin disertai acara yang dipadatkan oleh ketua geng, Bang Roni, tapi namanya rencana manusia tidak melulu berjalan sempurna. Kita sadar betul bahwa resiko ber-packer-an sendiri lebih tinggi ketimbang ikut open trip walaupun aku pernah kok ikut open trip yang itinerary nya juga berubah karena faktor inherent risks yang tidak bisa kita hindari. sorry jadi pakai bahasa ekonomi :D

Teman Bang Roni yang ketika H-7 berjanji mau menyewakan kapalnya untuk kami dan mengantarkan perjalanan Selayar-Tinabo-Tanjung Bira berakhir hanya tinggal janji karena ada alasan tertentu yang membuatnya membatalkan janjinya cowok emang gitu gak bisa dipegang janjinya. Jadilah ketiga laki-laki perkasa *ehem* ini sibuk mencari kapal lain sana-sini, dan kali ini aku cuma bisa percayakan saja pada mereka semua. Wkwkwk. 
Dimensi Coffee = Dimensi Resort. Penyelamat kami ketika gak dapet penginapan di Selayar :D
Formasi kiri ke kanan: Melvin, Bang OG, Diana, Suryo, Roni, Bang Ruil
Kami tinggal di Benteng 2 malam karena adanya missed communication dengan pemilik kapal yang sebetulnya sudah deal H-2 sebelum kami berangkat ke Makassar, namun tidak bisa dihubungi dari hari pertama setelah sampai di Makassar. Fyi, guys, next time kalau kalian mau trip ke Takabonerate, pastikan ke pemilik kapal bahwa kalian pasti datang dan tanyakan berapa lama pemilik kapal akan menunggu kalian di pelabuhan temapat janjian in worst case kalian ada keterlambatan di perjalanan. Kenapa? Karena signal HP sangat susah di luar wilayar Selayar! Hanya Telkomsel yang punya jaringan tapi tetap tidak bisa terlalu diharapkan.

Well, itu yang terjadi pada kami. Ditinggalin oleh pemilik kapal karena dianggap membatalkan penyewaan, padahal kami di sini juga menyangka si Puang A (pemilik kapal) juga tidak jadi menjemput kami karena HP nya sama sekali tidak bisa dihubungi. Jadi lah 2 hari kami terbuang sia-sia.
Salah satu pantai di Selayar :* (tolong jangan salfok sama "in frame" nya ya :P)
Eitsss.. sebetulnya gak sia-sia banget sih, karena sebagai gantinya, Bang OG mengajak kami ke salah satu spot snorkel di Pantai Timur Selayar. Well, bisa membuat kami sejenak hepi-hepi melupakan Tinabo.

Isi bawah lautnya Selayar juga masih sangat bagus kok. Airnya bening dan pasir putihnya halus sekali menyentuh sela-sela jemari kakiku ketika mendarat di sana. Karang-karang di Selayar ini masih jauh lebih bagus dan tidak rusak layaknya belum tersentuh banyak manusia seperti di Pahawang atau Bali. Tapi, ketika tempat wisata ini boom meledak terdengar ke banyak telinga traveler di Indonesia, aku jamin tak lama kemudian keadaannya akan mengikuti dua tempat diatas. Jadi bersyukurlah kami yang sudah lebih dulu mengunjungi tempat ini. Wkwkwk.
Bawah laut di Pantai Timur Selayar, Makassar ^,^
Foto bawah diambil dengan drone-sponsor-Bang Melvin :P
Hari berikutnya kami sampai di Pulau Kayuadi tepat setelah matahari terbenam sempurna yang digantikan terang bulan dan kerlap-kerlip bintang di langit. Sebelum kapal benar-benar berlabuh dihatinya sempurna di Kayuadi, masih di tengah laut, sempat terdengar ramai suara bedug malam takbiran mengingatkan bahwa besoknya adalah Hari Raya Idul Adha dari pulau tersebut. Namun, setibanya di sana, suasana malam Idul Adha sama sekali tak terasa. Sepi, sunyi, gelap, hanya ada sedikit lampu jalan yang berdiri di kanan dan kiri jalanan yang menemani pandangan mata menuju rumah Bang Sirajo. Kami menyewa kapalnya dengan rute Kayuadi-Tinabo-Patumbukang sebesaaar…… oke nanti diakhir tulisan ini aku buatin ringkasan cost perjalanan ini :*

Melaut ke Pulau Tinabo menghabiskan waktu sekitar 4 jam dari Kayuadi. Kapal besar milik Bang Sirajo terasa sangat mewah untuk kami berempat. Serasa orang kaya pake banget yang menyewa kapal besar untuk liburan, padahal nyatanya kita sesak lahiriyah dan batiniyah. HAHAHA ^n^

Next time guys, kalau kalian berniat mau ke Takabonerate, silahkan tanya ke Bang Sirajo kapan waktu yang tepat untuk kesana karena beliau tau kapan ombak yang bagus. Yang pasti, saranku jangan kesana pas libur lebaran kayak kami ini, nyusahin banget sebab banyak pemilik kapal yang menolak berlayar di moment lebaran yang ingin berkumpul dengan keluarga. Jadi jangan sok ngide seperti kami ya guys! Hahaha
Makanan wajib saat kunjungi Selayar: nasi santan + ikan bakar mmm..endesss..
Lokasi: "Warung Kita", Wisata Kuliner, Pelabuhan Benteng
Oiya, kami kedapatan personil baru dalam perjalanan ke Tinabo ini. Berkenalan di kapal saat menuju Kayuadi, Risda, remaja perempuan yang baru saja lulus SMK ini hampir “menipu” kami dengan wajah polosnya yang pendiam sekali selama perjalanan Benteng-Kayuadi. Nyatanya, anak ini bukanlah tipikal anak kalem, melainkan cerewet, aktif, pintar (bangganya Risda ketika bisa mengalahkan aku dalam permainan kartu uno ^n^), dan yang paling terpenting adalah jago menghabiskan makanan!! Ketika dia bilang lapar dan makanan datang, jadilah dia orang pertama yang menyendok nasi dan lauknya. Well, kami menikmati kepolosan anak itu dengan saling melemparkan candaan. Oh, Risda! Aku cemburu karena 3 laki-laki yang bersamaku ini sudah merindukanmu ketimbang aku, bahkan baru seminggu dari kita berpisah. Deng! Becanda ding! Aku juga kangen anak ini, sampai rasanya pengen nyuruh bantuin cuci baju di rumah #eh

Formasi kiri ke kanan: Suryo, Diana, Risda, Melvin, Roni
Ok, cukup sekilas cerita kepolosan anak baru di geng kita *ceileh uda jadi gengster?* Wkwkwk
Kami sampai di Tinabo dengan seutuh hati nya selamat pada sore hari dengan mata lebar menatap Tinabo, berdecak-decak kagum, sambil berulang kali menyerukan “Tinabo Harga Mati” secara bergantian. Kemudian cekrak cekrek ambil foto, berganti baju siap-siap menyelami hati dia ke pesisir laut Tinabo. Tidak perlu ke tengah laut untuk bisa mencari spot snorkel di Kepulauan Selayar ini. Karena pesisir lautnya masih banyak karang-karang cantik dengan beraneka ragam ikan warna-warni. Dan memang benar bahwa Tinabo yang terbaik bahwa kita saja masih bisa melihat kasat mata jauh berpuluh-puluh meter ke bawah palung.

Sesuatu banget ya Pulau Tinabo! ^n^
Tapi kalian harus sangat hati-hati snorkel di Tinabo, karena sebagian besar pesisir lautnya sangat dangkal, kamu bisa berdiri diatas karang dan airnya hanya sepinggang orang dewasa bahkan setelah sekitar 20 meter lebih dari pinggir laut. Dan tidak seperti di Selayar yang punya banyak bulu babi yang bergoyang-goyang gemulai di sela-sela karang laut, di Tinabo tidak sama sekali ditemukan bulu babi.
Cuci mata yang keren begini nih, traveler \^n^/
Satu hal yang menjadi ciri khas Pulau Tinabo adalah banyaknya bayi-bayi ikan hiu yang tidak mungil karena badannya saja lebih besar dan panjang daripada betisku. Mereka bayi-bayi manja seperti aku *uhuk* yang main-main di pinggir laut, bukan di tempat penangkaran yaaa. Itu dikarenakan kebiasaan orang-orang yang berkunjung ke Tinabo sambil memberikan makanan untuk bayi-bayi hiu tersebut, jadilah mereka senang berada di pinggiran laut. Badannya saja yang besar, bayi-bayi hiu sangat pemalu jika di dekati dan gampang terusik dengan suara berisik, kecuali kamu punya makanan untuk mereka. Malu atau songong sik? Hahaha… Dan tenang saja kamu tidak perlu takut digigit karena bayi-bayi hiu ini nurani ke-kanibalan-nya belum ada. Tapi jangan coba-coba kamu nyemplung dengan ada bagian tubuh yang berdarah yaa atau bagi yang cewe sambil bawa tamu bulanannya, siap-siap aja dengan kejadian terburuk. So, be a smart traveler ya, guys!
Baby shark do do do do do do do
Bawah laut Tinabo. Airnya jernih banget kan?? ^^
Terakhir, sunset di Tinabo super gilak! Seperti tidak ada pembatas apapun antara bumi dan langit, matahari yang perlahan turun dengan anggun menyebarkan cahaya oranye sempurna keseluruh langit. Rasanya mata tidak rela berkedip bahkan untuk sekejap. Belum pernah ku temukan di tempat wisata sebelumnya, apalagi di Jakarta. Tidak hanya di Tinabo sebetulnya, di perjalanan pulang menuju Selayar dan di Makassar pun kami masih mendapatkan warna sunset oranye tersebut, dan ku sebut sebagai sunset-khas-laut-Makassar yang tidak ada duanya. :3
Sunset terbaik yang pernah ku temui; Tinabo Island, Selayar, Makassar

Yesss… selesai sudah perjalanan ke Tinabo ini. Next time jika masih diberi kesempatan, aku mau ke sana lagi.. :D karena selain Tinabo-Harga-Mati, masih banyak pulau di kawasan Takabonerate tersebut yang menunggu untuk dikunjungi. :3:3

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme!

Btw, klik link dibawah ini untuk melihat video singkat perjalanan kami ke Tinabo yang dibuat oleh Bang Melvin ya, guys! Kalian bakal lengkap mupengnya deh. Hehehehe
Paradise of Takabonerate
Laut Tinabo tampak atas diambil dengan drone-sponsor-Bang Melvin. Sungguh takjub!
Sunset oranye Tinabo Island yang tak terlupakan :3
Pasir putih dan warna soft laut Tinabo ^.^
Sunrise di Tinabo Island :D
Just jump as high as you can to reach highest happiness :D
Sayang-dibuang ^n^
Oh iya! Nyaris lupa membeberkan ringkasan biaya perjalanannya. Let’s check in the below guys!

Sewa mobil dari Terminal Malengkeri ke Pel. Bira: IDR 400k
Tiket kapal laut Pel. Bira – Pel. Pammatata (4 orang): IDR 96k
Penginapan di Selayar 2x & Kayuadi (incl. makan): IDR 175k + 150k + 300k
Sewa kapal besar Kayuadi-Tinabo-Patumbukang: IDR 5.000k
Sewa mobil di Selayar 2x + bensin + tips: IDR 350k + 250k + 100k + 100k
Sewa alat snorkel di Selayar + Tinabo: IDR 135k (2 orang) + 150k (3 orang)
Makan coto makassar (4 orang): IDR 124k
Makan nasi santan + ikan bakar (4 orang): IDR 130k (tergantung kalian pesan berapa banyak ikan)
Makan malam mie goreng di Tinabo (5 orang): IDR 240k (plisss kalian jangan makan mie di sana mahal banget x_x)
Sarapan 3 mie goreng + 1 nasi goreng di Tinabo: IDR 70k
Sewa travel dari Selayar ke Bandara Sultan Hasanuddin (4 orang) + charge masuk bandara: IDR 600k + 100k

Dan masiiih banyak lagi biaya-biaya dadakan lainnya… pokoknya total biaya kami Jakarta-Makassar-Jakarta sebesar IDR 10.248k, jadi kira-kira biaya per orang IDR 2.500k. Semakin banyak yang ikut akan semakin lebih murah share cost per orangnya :D Bagaimana tertarik ke Tinabo kah??

Catatan Tambahan:
Bang OG: yang mengantar kami selama di selayar sekaligus pemilik Dimensi Coffee
Bang Ruil: polisi yang betugas di Polres Selayar dan juga pemilik Dimensi Coffee
Bang Sirajo: pemilik kapal yang mengantarkan kami ke Tinabo Island

Jika kalian berniat ke Tinabo, mereka bisa membantu kalian guys! So, don't hesitate to contact me for more info! :D