Sunday, October 29, 2017

PENGALAMAN MENDAKI SEMERU, PUNCAK TERTINGGI DI PULAU JAWA

Touch down Puncak Mahameru at May 09, 2017
Semeru… untuk mendaki kesana gak pernah terbayang apalagi sekedar sekilas memikirkannya. Gak pernah sedikit pun! Meskipun sudah menonton booming nya film 5 cm yang dibintangi aa’ Fedi Nuril ^3^ lima tahun silam tentang pendakian ke Mahameru, gak sama sekali di benak mau ikut-ikutan pendaki-pendaki sosialita yang terpengaruh film itu. Gue gitu sik orangnya, nunggu kelar dulu trendnya baru deh kesana #ehgagitukok wkwkwkwk.


Well, itulah aku sebelum sekarang. Sebelum jadi orang yang rela ngabisin cutinya bahkan pernah unpaid leave kerja demi menyentuh alam luas Indonesia lebih dekat lagi. Waktu masih menjadi orang yang sangat kaku, jauh dari kata lentur, membosankan. Time flies too fast for me. Karena satu moment yang gak banget, I’m turning into the new me. Simplenya, menjadi orang yang gila jalan-jalan hampir di setiap weekend demi mencari yang namanya jodoh jati diri. Menjadi orang yang seneng ketika bisa ketemu orang baru setiap saat dan melebur bersama karakter orang itu. Mirip-mirip bunglon gak sik gw? Hahaha


Noooo.. I mean I become a more flexible person just to be closer with society. *tepuk-tepuk dada kiri pakai tangan kanan, sunggingkan senyum bangga* Apasiiiiiih… just kidding.. mana ada kan orang baik bilang dirinya baik… :P jadi tadi itu cuma demi naikin image aja kok *oke jadi kalian tau kan aku gimana orangnya?? Hahaha*

Okok cukup yaaa ngalor ngidulnya… back to Semeru…

4 hari 3 malam jadi cerita yang yang takkan bisa aku lupakan yang layak diceritakan ke calon anak nantinya, “Ini lho sayaang, mamamu dulu pernah ke puncak tertinggi di Jawa semasa masih mudanya” aseeeek :P

Pendakian terpanjangku ini dilalui bersama-sama teman baru. Semua teman baru. Harusnya ada teman lama alias teman kantor dimana aku ikut pendakian ini karena minta-minta sama ini temen supaya boleh nyelip. Tapi, ngeselinnya dia batalin pendakian di hari H!!!!!! Gilaak yaaa being an auditor makes you become a person who is too loyal to the company! Sedih T.T *cukup marah-marahnya, jangan lupa kudu jaim di sini*

Jadilah formasi pendakian hanya bertujuh karena si Erwin itu lebih bela kerjaannya. Iya Erwin yang gilak kerja! Huft! Ada perasaan takut gak bisa berbaur lho sama teman-temannya dia. Bagusnya waktu meeting seminggu sebelum pendakian, aku ikut lho jadi sudah kenalan terlebih dahulu. Yaaa jadi gak kikuk-kikuk banget kan kalau semisalnya belom sama sekali ketemu. Jadi cerita lucu sih, aku diajakin Erwin buat ke Semeru bareng temen-temen dia, tapi yang berangkat hanya orang yang diajakinnya. Yang ngajakin jadinya belom pernah ke Semeru deh :P
In Frame (kiri ke kanan): Heri, Trian, Akhamat, Suryo, Diana, Ade, Roni
Bersama satu cewek lagi, Ade namanya, kebetulan dia ex auditor juga di kantorku, sebelumnya kenal cuma by say hallo aja tapi itu sangat membantu, at least ada orang yang aku kenal selain Erwin.. Lima orang sisanya ada Trian, Heri, Roni, Suryo, dan Akhamat (later on we call him as “Sista” gegara kekonyolan ini anak :D). Bersama mereka-lah aku menaruh harapan 5 cm di depan kening kita. *kata aa’ Fedi Nuril di film 5 cm ^3^

Dengan duduk tegak di kereta ekonomis Matarmaja khasnya para pendaki yang mau ke Semeru dari Stasiun Senen, perjalanan menuju kota Malang nun-jauh dari Jakarta kami tempuh selama 17 jam. Mulai dari ngobrol, tidur, makan, main kartu uno, makan lagi, tidur lagi, ngobrol lagi, uno lagi.

Sampailah kami di kota Malang di hari Minggu jam 7.50 pagi dengan diiringi teriakan “akhirnyaaa…” dan bunyi krek-krek-krek di pinggang dan punggungku yang ngulet-ngulet karena saking pegelnya duduk 17 jam dikursi tegaknya Matarmaja.

Di luar stasiun, kami melakukan tawar menawar dengan pemilik mikrolet untuk menuju ke rumah Bang Saiful di daerah Gubugklakah. Kami meninggalkan barang-barang yang tidak perlu dibawa ke Semeru di rumahnya. Sesampainya di sana, kami langsung mengulang packing carrier masing-masing dan membeli beberapa logistik yang masih kurang.

Dari Gubugklakah, kami naik mobil jeep warna merah yang disewa sekitar Rp. 1 juta sekian untuk PP Gubugklakah – Ranu Pane. Dari pos pendaftaran Ranu Pane, kami memulai pendakian jam 4.30 sore setelah sebelumnya mengikuti antrian panjang di loket pendaftaran dan mengikuti pengarahan selama sekitar 10 menit dari tim SAR Semeru.
Gapura Selamat Datang di Ranu Pane

Makanan mewah di gunung, ada sarden, mie telor dan juga rendang sponsor ibu camer #eh ibunya temen :P
Perjalanan dari Ranu Pane menuju Ranu Kumbolo melewati 4 pos yang treknya gak gitu menanjak tapi cukup membuat ngos-ngos’an. Treknya termasuk melipir bukit, melewati 2 jembatan, beberapa trek datar sebagai bonus, dan tanjakan cinta versi mini yang akan kamu temui dijalur pos 3 menuju pos 4. 

Malam pertama kami membuka tenda di Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.400 mdpl, sesaat setelah melakukan perjalanan selama 5 jam lebih. Tidak seperti yang di film 5 cm yang bisa berenang di danau Rakum, bahkan sesenti saja kaki menyentuh air danau, kalau ketahuan oleh penjaga di sana, siap-siap saja kamu disuruh bersihin WC umum di Rakum yang wanginya tiada duanya di dunia dan surat larangan masuk kawasan pendakian Semeru selama setahun ke depan! Tujuannya air danau gak boleh kesentuh kulit manusia ya untuk menjaga kesterilan air danau yang menjadi salah satu dari dua sumber air utama selama pendakian di Semeru. Kamu bakal pakai air danau untuk masak, minum, dan ke WC, bro!!! Jadi yaa gilak aja gw disuruh minum air danau yang sudah lu cemplungin sebadan! Jadi terima kasih pada aa’ Fedi Nuril yang ternyata kamu sama saja dengan laki-laki lain yang suka memberi harapan palsu #eeewww
Pemandangan Ranu Kumbolo diambil dari Tanjakan Cinta
Udara di Ranu Kumbolo cukup dingin malam itu di bulan Mei. Aku dan Ade jadi juru masak, sementara yang cowok-cowok mendirikan tenda. Well, aku yang sebelumnya naik gunung dengan open trip, maka ini jadi pendakian pertama aku dimana aku masak di gunung dengan peralatan apa adanya. Tanpa ada sekat penghalang debu, kami memasak makanan berbaur dengan alam, bercampur bau tanah sehabis hujan, diatas rumput-rumput Rakum yang bergoyang-goyang kegelian ditiup-tiup angin malam pegunungan, dan beratap langit yang memamerkan keindahan lukisan Tuhan yang penuh dengan bintang dan terang bulan.
View Danau Ranu Kumbolo ^n^
Kabut pagi menyelimuti Danau Ranu Kumbolo yang masih enggan menampakkan dirinya
Keesokan harinya, setelah sarapan dan packing kembali tenda, kami berangkat menuju Kalimati jam 9.30. Perjalanan dimulai dengan menapaki tanjakan cinta yang sangat fenomenal dimana ada mitos kalau kamu menyebut nama orang yang kamu suka tanpa menengok ke belakang, kelak dia bakal jadi milikmu. Pliss itu cuma mitos! Aku salah satu korban mitos kok :P coba aja kalau kamu gak percaya *ngelirik sinis* kalau di analisa dengan akal sehat yaa, itu juga kalau pikiran kamu masih sehat gak kebawa kegilaan kamu akan dia yaaa, hihihi, mungkin maksud dari mitos itu kamu harus bisa memilih apa mau terus menengok ke belakang karena ada godaan akan pemandangan danau Rakum yang begitu indah dan memukau namun langkahmu terhenti hanya untuk melihatnya atau kamu ingin tetap menatap ke depan tanpa perlu takut melihat kenyataan bahwa di depan kamu tanjakan masih panjang sekali, tapi jika kamu berteguh menjalaninya dengan sungguh-sungguh maka akan cepat sampai juga ke ujung bukit. Rasional gak, guys? ^n^ yaa itu sih menurutku yaaaa terserah kalian mau menganggap mitos itu bagaimana. :D

Oro-oro Ombo (in frame: Trian)
Dibalik bukit tanjakan cinta terhampar luas padang rumput Oro-oro Ombo yang dikelilingi bukit indah di kanan kirinya. Beruntungnya kami karena pada saat itu bunga Verbana brasiliensis sedang bermekaran berwarna ungu yang menambah kecantikan hamparan Oro-oro Ombo.
Bunga Verbana brasiliensis, Oro-oro Ombo ^3^

Oro-oro Ombo dibalik Tanjakan Cinta Semeru
Trek menuju Kalimati menjadi cukup berat selepas dari Cemoro Kandang dimana menguras banyak tenaga karena adanya tanjakan-tanjakan yang cukup ekstrem, perjalanan panjang menelusuri hutan cemara di jalan setapak, dan naik-turun bukit yang kemudian sampailah kami di pos Jambangan untuk melepas lelah. Oiya, di setiap pos-pos peristirahatan di Semeru selalu ada pedagang yang merupakan penduduk sekitar. Salah satu yang tak terlupakan dari Semeru adalah buah potong semangka seharga 2.500/potong yang posnya semakin mendekat ke Kalimati potongannya akan semakin kecil tapi harganya tetap sama ^n^ Buah ini bisa membantu melepas dahaga karena airnya yang banyak dan rasanya yang manis.
Pos Jambangan, pendakian Semeru
Kami semua sampai di Kalimati jam 1.40 siang dan segera mencari spot yang cocok untuk mendirikan tenda. Saat itu masih siang namun kabut sudah turun dengan jarak pandang kira-kira 100 meter. Bahkan WC umum yang berada ditengah-tengah hamparan padang rumput luas dengan view yaitu Puncak Semeru yang gagah, tidak kelihatan. Sumber air berada di pinggiran hutan Kalimati berjarak sekitar 1 km yang untuk menuju kesana melewati trek naik-turun tanjakan dan bukit sekitar 30 menit.

Ternyata hujan turun cukup deras di malam kedua itu di Kalimati. Aku hampir menyerah dan tidak ingin naik ke puncak Semeru menyaksikan hujan yang deras. Ditambah lagi untuk melanjutkan pendakian ke puncak, pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) tidak bertanggung jawab resiko atas apapun yang terjadi selepas pendakian Kalimati. Nyaliku lumayan ciut takut terjadi apa-apa jika hujan tak kunjung berhenti sampai dengan tengah malam.
Hamparan pasir padat berkerikil dan berbatu di Puncak Mahameru
Namun, akhirnya kami semua berangkat summit jam 12.30 tengah malam setelah hujan berhenti sempurna. Ku lihat banyak juga pendaki yang sudah berangkat summit. Ada sekitar 50 orang lebih yang berangkat malam itu (kira-kira aja sendiri wkwkwkwk) yang dibekali pesan oleh tim penjaga di Pos Kalimati untuk berhati-hati dan jika hujan kembali turun di depan agar sebaiknya kembali turun ke Kalimati. 

Pendakian kembali menyusuri hutan cemara namun sangat menanjak dan curam. Berbekal penerangan headlamp dan trekking pole aku melangkah pelan. Kepala yang terasa pening, dada yang sesak, dan perut yang mual sempat membuat aku putus asa. Minum tolak angin dan mengoleskan freshcare ke perut dan hidung cukup membantu dan bisa melanjutkan pendakian meski tak cepat namun teratur dan berjalan cukup mulus. Oiya, kamulah yang tahu kondisi badanmu sejauh mana kekuatannya, jangan memaksakan diri hanya untuk sekedar keinginan mencapai puncak, karena puncak bukan tujuan utama melainkan pulang ke rumah dengan selamat, bukan tinggal nama. So, be a smart climber yaaa :D
Yang kayak begini nih yang bikin pengen balik lagi dan lagi naik gunung ^3^
Kami sampai di batas vegetasi sekitar jam 2.10 pagi dimana sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa kamu jadikan pegangan selama pendakian. Hanya ada tanjakan pasir dimana kamu melangkah dua kali dan akan turun satu langkah. Beruntungnya lagi kami, karena hujan yang mengguyur sebelumnya membuat pasir cukup padat sehingga mempermudah kami berpijak. Pemandangan malam itu menjadi kerlap kerlip lampu headlamp para pendaki yang sudah lebih dulu berangkat. Karena gelap puncak belum terlihat hanya berpatokan pada cahaya lampu pendaki di atas kepala. Ngos-ngosan gak? Jangan ditanya! Ini paru-paru kalau bisa teriak pasti sudah teriak karena jantung yang berdegup kencang luar biasa ngelebihin waktu ditembak dia *eeeeh*
Sunrise di penanjakan pasir Puncak Semeru 
Ketika langit malam mulai memancarkan warna merah dan perlahan-lahan terlihat awan-awan gembul menghiasi sisi kanan kiri puncak Semeru, aku berdecak kagum melihatnya. Rasa ngeri dan nyali ciut yang sedari tengah malam menghiasi diri sejenak sirna karena disuguhi “ini lhoo Diana ciptaan-Ku” oleh Sang Maha Kuasa dan aku bergumam “gak sia-sia perjuangan lu, Di!”. Akhirnya aku sampai di puncak jam sekitar jam 6.20 pagi setelah memanjat batu besar, curam dan tinggi di ujung puncak dan saat berdiri then welcome to the highest peak of Java, bro sist!!
Puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru 3.670 mdpl
Alhamdulillah kami bertujuh selamat sampai di puncak Mahameru dan sampai dengan kami turun kembali. Setelah satu kali Semeru angkuh tak boleh disentuh tahun lalu yang berganti ke Gunung Butak, akhirnya aku berhasil menyentuhnya kali ini. Meski sudah mencapai puncak tertinggi jangan lupa tetap melihat ke bawah yaa guyssss, supaya kalian gak lupa kalau dibawah masih ada tanah sebagai media kalian berpijak. Kalau kata sahabat, semakin kamu mendongak ke atas gak akan pernah ada penyelesaiannya karena diatas langit masih ada langit lagi, gitu aja terus. :D

Puncak Semeru background letupan asap larva
Puncak Mahameru (in frame: Heri)

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^

Kelakuan pemuda jaman now :P
Pendakian ini di sponsori oleh Bourjois Velvet Edition yang membantu Ade tetap hitsss selama di Semeru :3

Wajah-wajah hepi super karena berhasil menyelesaikan misi Semeru dengan selamat ^^
Maafkan kelakuan kami yang ke-now-an ini :P
Dan gw kembali menemukan orang-orang aneh seperti di pendakian Butak :D
Kabut pagi beranjak bangun dari Danau Ranu Kumbolo

9 comments:

  1. Kereeen bin ajiib didi...
    Kudu sering2 trip bareng lw di, biar selalu ada trip report nya macem kaya gini ^_^
    Anyway.. Thanks ya Diana.. Good job 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bawa saya aja gpp kok bang, uda biasa dibawa karena punya hape bagus, bawa kamera, sekarang ada lagi, karena hobi bikin trip report. Gpp yg penting kehadiran saya berguna untuk orang-orang sekitar. Hahaha. Tengkyu bang ron! :D

      Delete
  2. Waduh.. Repot juga ya kalau hujan kayak gitu...
    Enggak khawatir kah kalau tiba-tiba hujan lagi pas summit ke Mahameru..? Bisa fatal hlo..
    Sama ada yg kurang.. Foto sunrise di Ranu Kumbolonya.. hehe

    Salam kenal..
    menggapaiangkasa.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak makanya ga kebayang kalo sampe hujan pas summit, dipesenin sm tim semeru kalau pas jalan di hutan ujan lagi harus balik. Alhamdulillahnya hujan sdh berhenti total :) sunrise nya ga dapet lho di Ranu Kumbolo krn berawan sampe jam 8nan. Nanti aku oprak aprik lg foto di album. Makasiih kak Anggar. Salam kenal juga :)

      Delete
  3. HO..HO ..
    Jadi ini pendakian pertama lue Yang menggunakanan peralatan seadanya yang biasa nya lue ikut open trip dengan peralatan lengkap.

    ok fix . ciremai dan manglayang terlupakan .
    Ok fine ... Aku rapopo. 😑

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak lupaaa... Kan di Ceremai ama di Manglayang walaupun bukan open trip tapi yg masuk tetep lu toh? Gw kan ga masak, makanya Semeru pendakian pertama gw yg gw kudu masak yg beneran masak gak cm panasin air >,< jangan baper napa sik :|

      Delete
  4. Mantap jiwa perjalanan mendaki gunung semerunya mbak, semoga ane bisa kesana dengan keluarga nantinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah seru sih bang Bonadi kalau bisa mendaki bersama keluarga. Tapi mgkn kalau sm keluarga ke Semeru sampe Ranu Kumbolo aja kali ya. Terlalu berat kalau sampe Kalimati apalagi sampe puncak. Hehehe. Terima kasih telah membaca :)

      Delete
  5. Easily, the article is actually the best topic on this registry related issue. I fit in with your conclusions and will eagerly look forward to your next updates. Just saying thanks will not just be sufficient, for the fantasti c lucidity in your writing. I will instantly grab your rss feed to stay informed of any updates.
    swesub

    ReplyDelete