Monday, February 4, 2019

UJI ADRENALIN? SKY CAVE GUNUNG PARANG VIA FERRATA JAWABANNYA!!


Haiiiii haiiiiii haloooo netizen blog tercinta…

Ada yang baru di awal tahun 2019 ini lhoo! Apa tuh? Itu tuh akhirnya si empunya bolg ini mau nyoret-nyoret lagi di sini..
“Duh ileh abis kemana aja jeung? Sibuk banget? Masih inget punya kita?”
“Iya, mohon maaf ya netizen, setahunan kemaren si empunya waktu lagi liburan. Jadi belom sempet nulis lagi”
“Maksudnya?”
"Iya, lagi libur jalan-jalan, makanya nggak ada tema buat ditulis. Sekarang uda selesai liburannya. Makanya uda bisa jalan-jalan. Hehehe”
“!@#$%^&*()(*&^%$#........”

Ok guysss, terakhir aku nulis di akhir Desember 2017 soal pendakianku ke Gunung Lembu di Purwakarta. Ternyata eh ternyata, di awal 2019 ini tanpa sadar aku kembali ke Purwakarta, bukan Gunung Lembu tapi ke Gunung Parang. Mohon maaf saya mah gitu orangnya, gak suka berlebihan jadi satu kali aja sudah cukup buat kunjungin satu lokasi. ^,^

Ada apa sih di Gunung Parang? Ada yang unik di gunung ini. Pendakiannya berbeda dengan pendakian gunung lainnya pada umumnya. Pendakian ke Gunung Parang lebih dikenal dengan sebutan sky cave via ferrata atau panjat tebing, dimana kalian akan manjat tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat lurus ke atas. Kok bisa manjat begitu? Bisa! Bisa banget! Karena ada tangga besi yang ditanam di dinding tebing gunung tersebut dan pendaki akan menaiki tangga tersebut satu persatu. Tak lupa, pendaki juga akan dipasangkan safety equipment di badan dimana ada alat yang mesti kita kaitkan ke tali sling baja yang ada disebelah tangga besi.
Pemasangan safety equipment via ferrata Gunung Parang (in frame: Nona Nanda)
Safety equipment untuk panjat tebing Gunung Parang
Fyi, dikutip dari Blog Traveloka, Gunung Parang merupakan spot panjat tebing tertinggi di Indonesia sekaligus lokasi wisata panjat tebing tertinggi kedua di Asia yang memiliki daya tarik tersendiri yang membuat banyak pendaki mapun pemanjat tebing penasaran untuk menaklukkannya. Masih dari sumber yang sama, infonya gunung ini menjadi magnet baru bagi pemanjat tebing lokal maupun mancanegara, lho! Keren kaaan?!
Tangga besi tertancap di dinding tebing Gunung Parang
Kegiatan panjat tebing ini memakan waktu kurang lebih 30 menit kalau hanya sampai dengan ketinggian 150 meter. Dan tambah 30 menit lagi kalau sampai dengan ketinggian 300 meter. Sementara Gunung Parang sendiri puncaknya sampai dengan ketinggian 981 mdpl. So guys, kalau kalian mau sampai dengan puncaknya, sok monggo tapi nanjak tangga yah! :P

Di ketinggian 150 meter akan ada coakan tebing membentuk goa kecil di sebelah kanan jalur penanjakan. Jika nyali kalian cuma sebatas itu aja, ya silahkan berbahagia duduk cantik di dalam goa kecil itu kayak anak burung nunggu induknya yang lagi nyari makan karena penderitaan kalian selesai sudah. Yang masih punya nyali ke 300 meter ambil jalur kiri penanjakan, tentunya setelah menikmati segelas-dua gelas plastik es teh super manis bin endesss bonus dari abang guide di dalam goa kecil.
View sky cave via ferrata Gunung Parang, Purwakarta
“Eh ada abang guide nya yah? Kok dari tadi gak ceritain pergi sama siapa? Kirain sendiri aja….”
“Yaelah 2019 masih aja sendiri? Susah move on atau terjebak nostalgia?”

Jadi gini gaesss, via ferrata di Gunung Parang ditangani oleh dua operator, yaitu Badega Gunung Parang dan Skywalker. Apa beda keduanya? Aku juga nggak tau ya guys. Wkwkwk. Yang jelas, via ferrata milik Badega Gunung Parang sampai dengan 700 meter, sementara Skywalker sampai dengan 300 meter.

Setelah memasukkan kata kunci #gunungparang di Instagram, puluhan ribu postingan terkait gunung parang bermunculan. Setelah lama mengklik-klik bio sana-sini berakhirlah aku di bio nya @just.dotravel. Just.dotravel adalah salah satu penyedia jasa open trip sky cave Gunung Parang yang bekerja sama dengan operator Skywalker.

Jadi berangkatlah aku ke Gunung Parang via ferrata bersama Just.dotravel di hari Sabtu, 2 Feb 2019 kemarin. Dengan seorang team leader - Mas Fadlan dan local guide - Mas Ajo, aku bersama 10 orang lainnya menguji adrenalin kami di Parang. Berawal sendirian, aku jadi punya teman-teman baru lagi. Pertama kali, aku berkenalan dengan Meli yang menolak dipanggil Mba dan Nanda yang seumuran dengan aku. Kami bertiga punya kesamaan, sama-sama sendirian iseng-iseng mencoba ikut open trip via ferrata Gunung Parang :D. Lalu ada Azizah bersama 5 teman komunitas pencinta alam dari Hotel Shangri-La. Dan terakhir ada sepasang kekasih (atau pasutri?!) yang sedang di mabuk asmara (Sorry nggak tahu namanya). Hehehe ^,^
Para penguji adrenalin via ferrata Gunung Parang
Then, how’s the feel? Gokil abiiisss!!! Kaki lemes, dengkul gemeter, paha keram, tangan sakit dan yang paling parah nyali rasanya sudah habis. Gimana nggak, naik gunung sama panjat tebing itu beda. Sudah biasa naik gunung, pasti nggak takutlah yah sama panjat tebing. Salah! Statement itu salah banget guys! Atau salah aja? Ok, yang jelas menurutku salah. Meskipun sudah setahun vakum naik gunung, tapi berdasarkan opini dari teman-teman Shangri-La, mereka seiya sekata dengan aku bahwa panjat tebing dan naik gunung lebih mengerikan panjat tebing. Karena hanya satu yang paling penting, yaitu nyali yang sangat sangat sangat besar untuk bisa bertahan dan maju terus ke atas.
Beristirahat di Goa Gunung Parang
Di musim penghujan seperti sekarang ini, alhamdulillah nya waktu kami panjat tebing cuaca sangat-sangat mendukung. Siang itu, cerah bin panas tapi angin sepoi-sepoi tetap ada untuk sesekali meniupkan semangat empat lima untuk maju terus pantang mundur meski dengkul nggak berhenti gemetar.
View landscape Purwakarta juga tak pernah habis membuat kami terus berdecak kagum. Gunung Lembu di sebelah kiri, dikelilingi waduk Jatiluhur, hamparan persawahan yang hijau, serta pemukiman rumah warga menjadi view yang luar biasa, membayar lunas jerih payah kami.


Landscape view Waduk Jatiluhur dan pemukiman warga Purwakarta
(In frame: Meli, Nanda, Diana)

(In frame: Nanda, Azizah, Diana, Meli)

Ketika sosialita naik gunung, inilah yang terjadi "no pict = hoax"

Oiya, saat turun dari ketinggian 150 meter, ada bonus lho! Turunnya pakai tali aja, posisi badan seperti tiduran tapi sebetulnya tergantung di tali, lalu loncat–loncat aja di dinding tebing, atau jalan juga bisa. Seru gilaaaa!!!
Ini bonus turunnya loncat-loncat aja sambil tiduran eh ngegantung di tali ding :D

Bonus via ferrata Gunung Parang (tampak samping)
Well, begitulah sekiranya pengalaman aku memanjat tebing tertinggi di Indonesia. Setelah dua tahun lebih mengidam-idamkan bisa kesini, akhirnya hilang sudah penasaranku tersisa pegal-pegal di sekujur tubuh sepulang dari Parang :D
Ini Mas Fadlan (kiri) dan Mas Ajo (kanan)

(In frame: Nanda, Diana, Meli)
Tim KOMPAS dari Hotel Shangri-La

Ini Si-Pasangan :D
Basecamp Just.dotravel

Thanks, traveler. Keep traveling to explore yourself and God’s creation. See you in the next tracesme, guys! ^n^


2 comments:

  1. Ketinggian jalur via ferrata skywalker dengan badega sama aja. Krn kerjanya terletak di Gn Parang.

    Mantul tulisannya. Yuk datang lagi ajak teman temannya yg lain unt merasakan sesuatu wisata yg antimainstream dan akan membuat kamu punya memorable experience... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah pengetahuan baru ni. Makasiih infonya kak! Siappp uda ada lagi ni temen yg ngajakin kesana. :):)

      Delete